STAZ SI VAMPIR

STAZ SI VAMPIR
repost


__ADS_3

...***...


Saat itu mereka semua sangat heran dengan reaksi yang ditunjukkan Staz?. Apakah terjadi sesuatu pada Staz saat itu?.


"Memangnya kau kenal dengan orangnya?. Sehingga kau tampak ketakutan sepertti itu?." Wolf memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Jika dilihat dari reaksimu itu memang sepertti itulah." Bell dapat menangkap itu. "Apakah kau memiliki masalah dengannya?. Sehingga kau tampak ketakutan sepertti itu?." Bell menaruh curiga.


"Kau pasti telah membuat masalah dengannya?!. Sehingga kau ketakutan!." Mamejirou juga menaruh curiga?.


"Berisik!." Bentak Staz dengan sangat marah. "Jangan curiga duluan padaku!." Ia sangat tidak suka dengan itu.


"Kalau begitu ceritakan pada kami!." Dengan sangat kompaknya mereka berkata seperti itu.


"Aku katakan pada kalian ya?." Dengan sangat geram ia berkata dengan nada keras. "Dia itu adalah iblis elit yang sangat sulit!. Untuk diatasi!. Bahkan aku sangat takut padanya!. Iblis yang tidak akan sungkan untuk membawa hawa kematian!." Ia hampir saja berteriak.


"Hah?!." Mereka sangat heran dengan apa yang dilakukan Staz.


"Asal kalian tahu saja!. Dia itu bukan iblis biasa!. Dia itu gila!. Dan tidak waras!. Karena itulah aku tidak mau menemuinya!." Staz malah ketakutan duluan.


"Memangnya dia itu siapa?!." Dengan sangat kompak mereka semua bertanya seperti itu.


Entah karena geram mendengarkan ucapan Staz?. Sehingga hari itu mereka malah kompakan sepertti itu?.


"Dia itu juga seorang vampir, sama seperti aku." Ia memeluk tubuhnya. Ia merasakan panas dingin ketiak membayangkan sosok itu. "Namanya adalah braz d blood." Saking takutnya ia memeluk tiang itu dengan sangat eratnya. "Orang itu adalah kakakku." Dengan perasaan yang sangat berat hati ia berkata seperti itu.


Agak lama mereka merespon dengan apa yang dikatakan Staz?. Ketakutan sepertti apa yang ia rasakan saat itu?. Sehingga sepertti itu reaksi yang ia perlihatkan pada mereka semua?.


"Apaan coba?. Aku pikir tadi itu siapa." Bell malah kecewa?. "Aku pikir siapa?. Orang asing?. Ternyata saudaramu?. Aneh sekali." Bell merasa heran dengan sikap Staz.


"Dia ini memang sinting. Kenapa malah reaksi takut pada saudara sendiri?." Dalam hati Tobi dan Kiji sangat jengkel.

__ADS_1


"Jika memang itu kakakmu?. Masalahnya apa?." Mamejirou merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Staz.


"Benar tuh. Apa yang kau takutkan dari kakakmu itu?. Bukan kah itu bagus?. Karena kalian adalah saudara." Bell masih bingung.


"Bukankah itu memang sangat bagus staz-san?. Karena orang yang menulis buku itu adalah saudaramu sendiri." Yanagi Fuyumi malah terlihat senang?.


"Tapi dia malah terlihat gemetaran ketakutan sepertti itu." Wolf bangkit, dan ia berdiri di belakang Yanagi Fuyumi dan Bell. "Apakah kau baik-baik saja?. Kau tidak memiliki masalah dengan saudaramu itu, kan?." Wolf hanya ingin memastikan itu.


"Kalian ini terlalu banyak bicara." Dengan nada ketakutan ia malah memeluk dirinya agar menahan tubuhnya yang bergetar ketakutan. "Kalian ini hanya bisa bicara saja." Ia terlihat semakin pucat. "Kalian tidak mengerti betapa kejamnya kakakku itu di masa lalu." Saat itu ia malah ketakutan?.


"Staz-san?." Yanagi Fuyumi merasa heran dengan itu?. Apakah ada hal yang mengerikan yang terjadi antara kau dan kakakmu itu?." Dengan penasaran ia bertanya?.


"Aku tidak akan pernah menemuinya." Staz masih menggigil ketakutan. "Jangankan datang menemuinya?. Memikirkan sifat gilanya itu membuat aku semakin takut, tidak ingin menemuinya." Staz hampir saja mual saking takutnya membayangkan itu terjadi padanya?.


"Hah?!. Kalian tidak akur ya?." Bell tidak habis pikir dengan ketakutan yang dirasakan Staz.


"Diam kau!. Harusnya kau bisa membaca dengan benar buku itu!." Bentak Staz.


"Jadi kau ingin menyalahkan aku?!." Bell sama sekali tidak terima. "Kalau kau ingin gelud?!. Sini aku ladani!." Bell benar-benar emosi tingkat dewa.


"Hufh!." Mamejirou, Wolf, Kiji dan Tobi menghela nafas karena bosan mendengarkan pertengkaran keduanya.


"Bagaimana kalau kau temani saja dia ke sana wolf?." Dalam pertengkaran itu Bell malah menyarankan sepertti itu?.


"Kau ini memang gila ya?." Staz hampir saja mengamuk lagi.


"Hah?. Memangnya aku salah apa?." Bell sangat heran dengan itu.


"Tdiak semudah itu kau datang ke sana. Karena dunia iblis yang ditinggali kakaknya staz itu sangat berbeda dengan kita!." Mamejirou malah terbawa emosi.


"Hah?!. Maksudnya?." Bell semakin heran.

__ADS_1


"Memangnya apa salahnya?." Kiji dan Tobi ikutan bertanya.


"Di sana kaum elit yang tinggal, loh?!." Mamejirou mencoba menjelaskan.


"Tempat itu bukanlah tempat untuk rakyat jelata seperti kita ini. Tdiak semudah itu masuk ke sana." Wolf yang menjawab.


"Aku sama sekali tidak mengerti." Bell masih saja belum mengerti?.


"Karena aku rakyat jelata, berbeda dengan staz?. Jadi aku tidak bisa ikut dengannya. Pastinya aku akan dibunuh jika masuk ke kawasan itu." Wolf sebenarnya enggan mengakui itu. Namun karena desakan kondisi dan fakta?. Sehingga ia terpaksa mengakuinya. "Kau yang harus ke sana untuk menemuinya!. Kau tidak bisa mengajak aku masuk ke sana. Maaf saja." Ada perasaan jengkel tapi itulah kenyataannya.


"Kegh!." Staz sangat tidak suka sama sekali dengan apa yang dikatakan Wolf.


"Hingga saat ini kau masih keturunan vampir elit." Wolf tentunya tidak akan lupa dengan itu. "Kau keturunan langsung dari bangsa elit, jadi kau yang harus ke sana jika memang ingin menyelamatkan gadis itu." Lanjutnya dengan nada penuh penekanan. "Bagaimana pun aku menjelaskannya padamu?!. Kau harus mengerti dengan apa yang aku katakan." Ucapnya lagi sambil mendekati Staz yang malah terduduk menyandar tiang yang ia peluk tadi?. "Jika kau merasa keberatan dengan itu, anggap saja kau pulang ke rumah. Karena sudah sangat lama tidak pulang, kan?." Wolf sangat kenal dengan sikap Staz yang sangat tidak ingin terikat dengan sesuatu yang sangat merepotkan baginya.


"Tapi sekarang sangat berbeda." Staz mencoba menjelaskan. "Kau harus diundang terlebih dahulu untuk masuk ke sana." Staz mencoba mencari alasan yang tepat?.


"Kau tidak perlu melakukan itu." Wolf melihat ke arah Bell yang masih bengong dengan ucapan mereka. "Kau bisa menggunakan gadis montok itu untuk ke sana." Ia menunjuk ke arah Bell.


"Hah?!. Tunggu bentar?. Kau jangan sembarangan bicara!. Aku jahit moncong siluman mu itu, ya?!." Bell sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Hah?!. Kau yang harus bertanggung jawab atas masalah ini!. Kau hampir saja membunuh kami!. Jadi kau tidak usah banyak bicara!." Wolf sangat marah.


"Hah?!. Kau ingin menuntut aku?." Bell masih terima.


"Kau itu harus bertanggungjawab!." Tobi terlihat sangat jengkel.


"Benar itu!. Kau yang harus tanggung jawab!." Dengan perasaan kesal Kiji ikut menyembur Bell.


"Kalian masih saja ingin bertengkar?." Yanagi Fuyumi jadi bingung mau membela siapa.


Sedangkan Staz tampak memikirkan apa yang akan ia lakukan nantinya?. "Apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengannya?." Dalam hatinya masih bingung dengan jalan takdir yang seakan-akan telah mempermainkan dirinya. "Setelah tidak bertemu selama bertahun-tahun?. Apakah dia masih ingat denganku?." Itulah yang ia pikirkan saat itu. "Masalahnya saat itu aku kabur dari rumah." Itulah yang ia takutkan. "Bisa jadi dia marah padaku, lalu menghisap darahku sampai kering." Ucapnya tanpa sadar. Membuat mereka bergidik ngeri membayangkan jika itu yang akan dialami Staz.

__ADS_1


Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2