
...***...
Yanagi Fuyumi on.
Hai?. Pembaca tercinta, kali ini aku dapat giliran. Kita abaikan saja Staz-san yang suka ngamuk-ngamuk itu. Kali ini adalah spesial untuk koin yang diberikan oleh penulis tercinta. Aku akan memperkenalkan diriku pada kalian semua. Namaku Yanagi Fuyumi, sebenarnya aku adalah seorang manusia, akan tetapi pada saat itu aku sangat penasaran dengan sebuah tirai hitam yang tiba-tiba saja berada di kamarku. Karena aku merasa penasaran aku memasuki tirai hitam itu. Namun siapa yang menduga tirai itu ternyata terhubung ke dunia iblis yang sangat menyeramkan.
Sangat disayangkan sekali, aku telah dimakan oleh iblis bunga yang sangat aneh, hingga aku menjadi hantu. Namun Staz-san telah berjanji padaku jika ia akan menghidupkan aku kembali.
"Kau tenang saja fuyumi. Aku pasti akan menghidupkanmu kembali." Itulah yang ia katakan padaku saat itu. Aku takut tujuannya nantinya hanya ingin memakan aku.
"Sebenarnya aku takut padanya karena dia adalah seorang vampir. Tapi dengan sikap baiknya itu aku sangat percaya padanya, meskipun pada saat dia bertarung dengan teman lamanya dia malah menggunakan aku sebagai bahan pertarungan itu." Aku sangat keberatan dengan apa yang dia lakukan, namun ketika dia bertarung dengan temannya itu, dia mengatakan jangan khawatir.
"Aku tidak akan kalah begitu saja. Aku tidak akan menyerahkanmu dengan mudahnya pada serigala kampung bodoh itu." Seperti itulah yang ia katakan kepadaku.
Aku sangat cemas kondisinya, karena dia bertarung dengan tidak seimbang. Aku harus berbuat apa saat itu?. Apakah aku harus menangis berguling-guling hanya untuk menghentikannya bertarung?.
"Sebaiknya kau jangan lakukan itu." Ucap Staz-san dengan raut wajah yang sangat menyebalkan.
"Eh?." Aku melihat ke arah kiri dan kanan. "Dari mana kau datang staz-san?. Di sini tidak ada pintu loh?." Aku sangat ketakutan ketika dia datang begitu saja.
"Lantas?. Kenapa kau malah berada di sini?." Ucapnya sambil mengupil. Itu adalah raut wajah cuek yang sangat keterlaluan sekali menurutku.
"Lupakan!. Jangan pikirkan bagaimana caranya aku datang ke sini." Balasnya dengan ketusnya.
"Terus apa yang kau inginkan dengan datang ke sini?." Tentunya aku berhak bertanya seperti itu, kan?. "Bukankah ini adalah ruang spesial milikku?." Aku sangat kesal padanya. Ingin rasanya aku memukulnya, akan tetapi kepalaku malah ditahan olehnya, sehingga aku tidak bisa menyentuhnya.
"Tenang lah sedikit. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya dengan senyuman aneh.
"Eh?." Aku menghentikan apa yang aku lakukan, dan aku melihat sendiri bagaimana senyumannya yang aneh itu.
"Apakah kau tidak penasaran aku mau berkata apa padamu, fuyumi?." Nada bertanya-nya itu membuat aku semakin merinding.
__ADS_1
"Aku rasa tidak usah. Kau dilarang bertanya dalam dialog ini." Dengan bibir bergetar aku berkata seperti itu padanya. Aku telah mengumpulkan keberanian yang aku miliki untuk mengatakan jika aku tidak ingin mendengarkan apapun yang akan ia katakan padaku.
"Ayolah fuyumi. Aku sangat yakin kau penasaran dengan apa yang akan aku katakan padamu." Dengan nada menggoda dia malah berkata seperti itu padaku.
"Tidak!. Aku tidak mau!." Bentakku dengan sangat kesalnya.
"Kau ini sangat menyebalkan sekali fuyumi." Sepertinya aku telah membuat kesal, sehingga dia berani mencengkram pipiku dengan sangat kuat. Rasanya sangat sakit, sakit sekali. Dia adalah vampir yang sangat kasar, sehingga aku memang harus waspada.
"Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan padamu, jika kau saat ini sedang diikuti oleh orang itu." Staz-san menunjuk ke arah belakangku.
"Hiyah!." Saat itu aku sangat ketakutan, karena ada kadal raksasa yang sangat mengerikan sekali. Sungguh, aku sangat ketakutan melihat betapa mengerikannya kadal raksasa itu.
"Makanya, dengarkan apa yang aku katakan. Kau ini ya?. Mau hidup atau mau mati?. Maka jangan berprasangka buruk padaku." Ia sangat kesal padaku, seperti?.
"Ma-ma-ma-maafkan aku." Aku semakin ketakutan melihatnya seperti itu.
"Kalau begitu katakan apa yang kau inginkan dariku?." Ia semakin menyeringai lebar.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Ucapnya tanpa ragu.
"Hiya!. Jangan pergi staz-san. Bunuh dulu kadal raksasa itu." Aku berusaha untuk menahannya. Sungguh, aku tidak mau menjadi santapan kadal raksasa itu.
"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan." Dengan senyuman yang sumringah, Staz-san berkata seperti itu.
Dan benar saja, saat itu dengan kekuatannya ia mencabik-cabik kadal raksasa itu. "Sangat sadis sekali." Dalam hatiku sangat merinding dengan apa yang telah aku lihat saat itu.
"Tapi bagaimana mungkin kau mengetahui jika aku sedang diikuti kadal raksasa?." Tentunya aku sangat penasaran, bagaimana bisa itu terjadi?.
"Oh?." Ia kembali terlihat sangat cuek, raut wajah yang sangat bosan dan sangat menyebalkan bagiku. "Tadi aku sedang melihat sekeliling. Sebenarnya aku ingin mengabaikanmu yang jalan tanpa melihat ke belakang. Tapi jika kau mati dimakan kadal itu, maka akan sia-sia aku membantumu untuk hidup lagi." Dengan sangat cuek dan tidak berperasaan dia malah berkata seperti itu.
"Hua!. Kau sangat tega sekali." Aku hanya menangis saja ketika ia berkata seperti itu. Berani sekali dia mengatakan akan mengabaikan aku. Sungguh, sangat menyebalkan sekali, apakah dia tidak kasihan padaku?.
__ADS_1
"Tenanglah, aku hanya bercanda saja." Ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalaku dengan pelan. "Jika aku tidak peduli padamu, mana mungkin aku datang menolongmu. Kau ini bodoh ya?." Ucapnya dengan sangat ketus.
"Maafkan aku." Aku yanya menunduk saja.
"Baiklah. Kali ini saja aku maafkan kau." Ucapnya dengan senyuman ramah. Baru kali ini aku melihat senyumannya yang ramah. "Kalau begitu kau lanjutkan saja jalan-jalannya. Sebelum masuk pada alur utama." Ia memang sangat ramah.
"Terima kasih staz-san." Aku sangat senang. Staz-san terlihat sangat ramah. Mungkin saja itu adalah sisi baiknya yang belum aku ketahui sama sekali.
"Yoiy!. Mari kita jalan-jalan lagi. Aku ingin makan sesuatu." Staz-san menyeret tanganku dengan pelan. Setelah itu aku benar-benar merasakan sikap lembut dari Staz-san.
"Kau mau belanja apa?." Staz-san malah bertanya seperti itu padaku.
Sepertinya hari ini aku dan Staz-san benar-benar menikmati satu hari yang sangat menyenangkan ini. Aku tidak dapat membayangkan hal menyenangkan apa lagi yang kami lakukan setelah ini. Aku dan Staz-san berbelanja, dan makan-makan dengan damai tanpa adanya gangguan dari siapapun. Rasanya aku sangat menikmati satu hari ini bersama-sama. "Lain kali aku ingin seperti ini." Dalam hatiku sangat senang.
"Memangnya kita akan melakukan apa setelah ini staz-san?!." Karena merasa penasaran aku bertanya pada Staz-san.
"Tentu saja kita akan kembali ke jalur yang seharusnya." Jawabnya sambil mengemil keripik pedas yang ia beli tadi.
"He?. Sou desu ka?." Aku sangat heran, karena dia memang selalu cuek pada siapapun juga.
"Jangan terlalu dipikirkan. Tenang saja." Ucapnya sambil meneguk minuman kaleng yang sangat enak.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita nikmati hari ini dengan senang-senang." Aku mencoba untuk menghibur diriku.
"Begitu lebih baik." Staz-san menyerahkan sebotol minuman padaku.
"Terima kasih." Ucapku sambil mengambil minuman itu dengan senang hati.
Yanagi Fuyumi off.
Next.
__ADS_1
...***...