STAZ SI VAMPIR

STAZ SI VAMPIR
CHAPTER 43


__ADS_3

...***...


Saat itu Staz benar-benar sangat kesal, meskipun ia telah mendapatkan buku cara menghidupkan manusia?. Bell?. Wanita aneh yang sangat menyebalkan baginya. Dengan santainya ia melempari Staz dengan buku yang ia cari dengan cara hampir saja membunuh temannya itu?.


"Cari buku ini, kan?." Ia bertanya seperti itu.


"Hoh?!. Bukan kah ini?." Staz sangat ingat dengan buku yang diceritakan Bell padanya.


"Buku itu aku antar secara khusu padamu, loh?. Harusnya kau bersyukur padaku. Terima kasih bell-sama!. Kau harus berkata seperti itu padaku." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.


"Dih!. Najis!." Bentak Staz dengan sangat keras. Hatinya sangat panas saat itu. "Kau ini memang sangat menyebalkan!. Sialan!. Wanita jahat!." Sumpah serapah ia sampaikan pada Bell yang hanya mendengarkan itu. "Dari awal kau sudah memiliki buku ini, kan?!. Berani sekali kau mempermainkan aku!." Staz benar-benar ingin mencakar wajah Bell, jika saja tangannya saat tidak memegang buku itu, juga tangannya masih dibalut sarung tinju. "Apa yang kau inginkan dari ku sebenarnya?!. Sehingga kau mempermainkan aku seperti ini?!. Apakah kau ingin aku membunuh banyak orang dulu?. Baru kau memberikan buku ini padaku?!. Kau ini sama sekali tidak memiliki perasaan sebagai wanita!." Staz benar-benar melampiaskan amarah yang ia rasakan saat itu. Sungguh hatinya tidak tidak terima begitu saja diperlukan dengan jahatnya oleh Bell.


"Baiklah?!." Dengan tanpa perasaan ia malah mengambil buku itu kembali dari Staz. "Jika kau tidak ingin buku ini juga tidak apa-apa. Aku tidak memaksa." Lanjutnya sambil berusaha menjauhkan buku itu dari jangkauan Staz.


"Tentu saja aku mau!. Kau ini bodoh sekali ya?!. Wanita jahat tanpa perasaan!." Bentak Staz dengan amarah yang sangat memuncak. Ia berhasil merebut buku itu kembali dari tangan Bell. Hatinya sangat dipenuhi oleh amarah yang membara atas apa yang telah dilakukan Bell. "Mau sampai kapan kau mempermainkan Ku seperti ini?!. Dasar menyebalkan sekali!." Staz benar-benar menunjukkan amarah yang ia rasakan saat itu.


"Memangnya seberapa besar keinginan-mu staz?." Dalam hati Wolf merasa heran dengan apa yang ia lihat saat itu. "Apa tujuan mu sebenarnya?. Kenapa kau memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali gadis hantu itu?. Dan kau malah hampir saja membunuhku?." Dalam hatinya sedikit kecewa dengan apa yang telah dilakukan Staz padanya.


"Aku mohon kalian jangan bertengkar." Yanagi Fuyumi benar-benar tidak tahan melihat itu. Ia masih saja menangis?.


"Hadeh!. Sama sekali tidak membantu." Dalam hati Mamejirou sangat heran dengan Yanagi Fuyumi yang kelewatan cengengnya.


"Mau sampai kapan kau akan menangis?. Kau ini lama-lama sangat menyebalkan!." Staz yang saat itu dilanda kemarahan juga membentak Yanagi Fuyumi. "Apakah kau masih banyak memiliki stok air mata?. Sehingga kau belum juga berhenti menangis?." Kesal kuadrat selangit, mungkin itulah yang ia rasakan saat itu.


"Ekhm!." Bell memberi kode pada Staz.


"Hah?!. Apa?!." Staz langsung melorot ke arah Bell.


"Dia ini memang vampir sinting. Semua orang dimarahinya." Dalam hati Tobi sangat miris melihat bagaimana Staz yang hanya marah-marah dari tadi.

__ADS_1


"Dia ini habis makan apa sebelum tinju tadi?. Sehingga dia marah-marah saja kerjanya itu." Dalam hati Kiji juga sepemikiran.


"Aku rasa dia stres setelah mengetahui jika dirinya hanya dipermainkan oleh wanita aneh ini." Dalam hati Mamejirou sangat hafal dengan perangai Staz.


"Maafkan aku, habisnya aku takut sekali dengan suaramu." Yanagi Fuyumi sangat takut.


"Hm!." Staz malah cengo mendengarkan apa yang dikatakan Yanagi Fuyumi. "Sungguh, emosiku semakin ingin meledak mendengarkan apa yang kau katakan padaku." Dengan perasaan yang sangat kesal ia berkata seperti itu.


"Maafkan aku. Jangan marah ya?." Dengan raut wajah memohon.


"Kau ini sangat kejam sekali padanya staz." Wolf merasa kasihan pada Yanagi Fuyumi.


"Benar itu. Tega sekali kau pada seorang perempuan yang sangat manis ini." Tobi dan Kiji benar-benar tidak tahan lagi dengan apa yang dilakukan Staz.


"Huufh!." Staz menghela nafasnya. "Lupakan saja. Aku ingin melihat isi buku ini apa." Staz memperhatikan buku yang ada di tangannya saat itu.


"Aku juga ingin lihat." Mamejirou juga untuk melihat seperti apa isi dari buku itu.


Saat itu mereka benar-benar memperhatikan bagaimana buku itu?. Apakah mereka benar-benar membaca isi dari buku itu?. Apakah mereka bisa membaca buku itu dengan benar?.


"Jadi begitu ya?." Wolf terlihat sedang berpikir.


"Eh?. Apanya?." Yanagi Fuyumi yang tadinya menangis kini malah penasaran dengan apa yang dikatakan Wolf. "Apakah kau mengerti sesuatu wolf-san?." Yanagi Fuyumi sedikit bingung.


"Hm?!." Staz dan Mamejirou terlihat sangat serius memperhatikan halaman demi halaman yang tertulis di sana.


"Tepat seperti dugaanku, kan?." Staz sedikit menghela nafasnya yang terasa sangat lelah dan sangat mengherankan dari buku itu.


Tiba-tiba saja Staz malah membiarkan buku itu tergeletak begitu saja, dan ia malah berbaring santai?. Sedangkan Wolf malah tiduran terlentang?.

__ADS_1


"Eh?. Ada apa?." Yanagi Fuyumi mewakili Bell, Mamejirou, Kiji dan Tobi saat melihat reaksi mereka?.


"Bahasanya bukan bahasa normal. Hanya dewa yang bisa membacanya." Keluh Staz dan Wolf bersamaan. Rasanya mereka sangat lelah dengan itu.


"Kalian ini tidak bisa baca ya?. Sangat menyedihkan sekali." Bell sangat heran dengan itu.


"Baiklah, kalau begitu bacakan untukku kalau kau bisa membaca buku itu." Dengan sangat cueknya ia berkata seperti itu.


"Dasar vampir bodoh!." Dengan kesalnya Bell langsung mengambil buku itu, dan ia mencoba membaca buku itu.


Sedangkan Staz mencoba menahan dirinya, karena ia ingin melihat bagaiaman reaksi Bell ketika membaca buku itu. "Kalau ingin-." Ucapnya sambil mencoba menerjemahkan bahasa yang akan ia gunakan saat itu. "Jahskandysjajeksnsh!." Ia malah berbicara aneh.


"Kau ini bicara apa?. Mana ada yang seperti itu dalam buku itu!." Staz benar-benar sangat kesal.


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan tulisannya." Ucapnya dengan keringat dingin.


"Makanya jangan sesumbar kau ya?!. Udah tahu sekarang, kan?." Staz sangat kesal dengan itu.


"Hahdus sjsha jsusya!." Ia masih saja membacakan buku yang tidak jelas itu?.


"Ngeyel sekali kau ini." Staz sebenarnya sangat kesal, namun saat itu masih saja sempat mengupil di saat Bell sedang berusaha untuk membacakan buku itu untuk mereka semua?.


"Sudahlah wanita bohai. Sebaiknya tidak usah dibacakan." Wolf jadi kesal sendiri jadinya.


Apakah yang akan mereka lakukan?. Jika mereka tidak bisa menerjemahkan bahasa buku itu?. Apakah akan menyerah begitu saja?.


Next.


...***...

__ADS_1


__ADS_2