Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Pertemuan Dengan Mika


__ADS_3

Mika sudah bangun dari subuh, hari ini dia dan Mama Nuri akan pergi ke kota dengan diantar oleh Ayah Rusdi menggunakan mobil kijang jadul.


Selama dalam perjalanan, Mika tidak henti-hentinya berdo'a berharap kali ini dia bisa menemukan suaminya.


Mika mengusap perutnya. "Kamu juga berdo'a ya Nak, semoga kali ini kita bisa menemukan Ayah," batin Mika.


Sementara itu, Bian pun bangun dengan wajah kusutnya.


"Kamu kenapa kok kusut kaya gitu, wajahnya?" tanya Ririn.


"Tidak apa-apa."


"Apa kamu sakit?" tanya Ririn.


Ririn hendak menyentuh kening Bian, tapi sayang Bian menepis tangan Ririn. Entah kenapa semenjak Bian menemukan pesan itu, Bian jadi merasa ingin marah terus kalau melihat Ririn cuma Bian mencoba menahannya sebelum dia bisa menemukan bukti yang benar-benar valid.


Ririn tampak mengerutkan keningnya melihat perubahan Bian yang entah alasannya kenapa.


Saat ini semuanya sarapan bersama....


"Ririn, Bian, apa belum ada tanda-tanda?" tanya Mami Maharani.


"Tanda-tanda apa maksudnya?" tanya Bian.


"Ririn, apa kamu belum ada tanda-tanda hamil? kalian kan, menikah sudah lumayan lama."


"Uhuk..uhuk..uhuk..."


Ririn tersedak oleh makanan, sedangkan Bian mengerutkan keningnya atas reaksi Ririn yang seperti itu membuat Bian semakin curiga kepada Ririn.


"Maaf Mami, mungkin saat ini belum saatnya Ririn di kasih momongan tapi kita sudah berusaha, iya kan sayang," seru Ririn dengan menoleh ke arah Bian.


"Hmm..."


Bian terlihat cuek sembari meneruskan makannya tanpa menoleh ke arah Ririn membuat Ririn menjadi salah tingkah karena tidak mendapatkan pembelaan dari suaminya.


"Ya sudah, tidak apa-apa kalian jangan berkecil hati mungkin belum waktunya Allah menitipkan anak kepada kalian, yang penting kalian jangan berhenti berdo'a dan berusaha," seru Papi Ganendra.


"Iya Pi."


Ririn tampak kesal kepada Bian yang sama sekali tidak mau membelanya, sedangkan Bian tampak melamun.


Setelah selesai sarapan, Bian pun langsung berangkat ke kantor. Bian benar-benar bersikap dingin kepada Ririn dan itu membuat Ririn bingung.


***


Mika dan kedua orangtuanya sampai di kota menjelang makan siang.

__ADS_1


"Yah, Ma, bagaimana kalau kita makan dulu di restoran itu soalnya Mika lapar," seru Mika.


"Baiklah."


Ayah Rusdi pun segera membelokan mobilnya ke sebuah restoran. Ketiganya langsung masuk ke restoran itu, sementara di perjalanan Bian melajukan mobilnya ke sebuah restoran bersama Ririn.


Entah angin apa, Ririn tiba-tiba datang ke kantor dan mengajak Bian makan siang bersama. Sebenarnya Bian sangat malas tapi Ririn terus saja memaksanya, hingga Bian pun dengan terpaksa mengikuti semua keinginan istrinya itu.


Bian pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang ternyata restoran yang sama dengan Mika.


"Ayo sayang," seru Ririn dengan merangkul lengan Bian.


Ririn juga sebenarnya malas seperti itu, tapi Ririn takut Bian curiga dengan kelakuannya dan mengambil kembali saham yang sudah diberikan untuknya.


Bian dan Ririn pun masuk ke dalam restoran itu, Mika menoleh ke arah pintu masuk.


Praaaannnggg....


Sendok yang Mika pegang terjatuh ke lantai membuat Ayah Rusdi dan Mama Nuri kaget.


"Kamu kenapa, Mika?" tanya Mama Nuri.


"A Rian."


Mika bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Bian, kemudian Mika langsung memeluk Bian membuat Bian dan Ririn kaget begitu pun dengan Ayah Rusdi dan Mama Nuri.


Deg....


Jantung Bian berdetak dengan sangat kencangnya, suara itu adalah suara yang persis dengan suara yang sering datang di dalam mimpinya.


Ririn merasa kesal, dia melepaskan paksa pelukan Mika dan mendorong Mika dengan sangat kencang membuat Mika tersungkur ke lantai.


"Astagfirullah Neng!" teriak Ayah Rusdi.


Ayah Rusdi dan Mama Nuri langsung menghampiri Mika dan membantu Mika bangun.


"Sembarangan peluk-peluk suami orang, kamu sudah gila ya!" bentak Ririn.


"Ya Allah A, ini teh beneran A Rian, suami Mika," seru Mika dengan deraian airmatanya.


Bian hanya terdiam membeku, Bian memperhatikan penampilan Mika dengan perut buncitnya. Bayangan dirinya bersama Mika kembali menari-nari dalam pikirannya dan sekarang wajah Mika tampak jelas mirip dengan wanita yang sekarang ada di hadapannya.


"Ahhhh...."


Bian lagi-lagi memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ririn.

__ADS_1


"A Rian, ini Mika, AA kenapa?"


Mika hendak menghampiri Bian tapi lagi-lagi Ririn mendorongnya.


"Jangan ngaku-ngaku ya, dia ini adalah suami aku, kamu sengaja kan ngaku-ngaku jadi istrinya supaya mendapatkan harta dari Bian!" bentak Ririn.


"Ya Allah Neng, jaga ucapan Eneng. Anak kami tidak ngaku-ngaku, Nak Rian ini memang suami Mika dan menantu kami," sahut Ayah Rusdi.


"Rian? nama suami aku ini namanya Biantara Ganendra bukan Rian, jadi kalian sudah salah orang."


"Aahhh...."


Bian kembali meringis kesakitan, akhirnya Ririn pun membawa Bian pergi dari restoran itu.


"A Rian tunggu, ini Mika, A istri Aa dan saat ini Mika sedang mengandung anak AA!" teriak Mika.


Bian menghentikan langkahnya sejenak, namun Ririn dengan cepat membawa Bian untuk masuk ke dalam mobil.


Mika hendak menyusul Bian tapi Ayah Rusdi menahannya.


"Neng, sudahlah mungkin pria tadi teh bukan Nak Rian."


"Tidak Yah, dia memang A Rian, Mika bisa tahu dari tatapan matanya sama seperti A Rian," sahut Mika dengan deraian airmatanya.


Ayah Rusdi dan Mama Nuri hanya bisa saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Mika pun memegang perutnya yang terasa sangat sakit.


"AW...perut Mika sakit, Yah."


"Apa? Ma, ayo kita bawa Mika ke rumah sakit."


"Iya Yah."


Kedua orangtua Mika pun membawa Mika ke rumah sakit, lagi-lagi Mika dan Rian di bawa ke rumah sakit yang sama.


Saat ini Bian sedang tertidur setelah dokter menyuntikan obat pereda rasa sakit di temani oleh Ririn dan kedua orangtua Bian yang sedang di perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Dokter...dokter, tolong anak saya!" teriak Ayah Rusdi.


Dua orang suster langsung membawakan kursi roda dan membawa Mika ke dokter kandungan.


Setelah di bawa ke ruangan Dr.Kandungan ternyata Mika mengalami pendarahan dan harus segera dilakukan operasi. Sedangkan Mika sendiri sudah tidak sadarkan diri, Mama Nuri hanya bisa menangis.


"Pasti Mika akan sangat terpukul Yah, karena anaknya tidak bisa diselamatkan," seru Mama Nuri dengan deraian airmatanya.


"Semoga si Neng teh kuat menghadapi kenyataan yang pahit ini," sahut Ayah Rusdi.


Usia kandungan Mika saat ini masih berusia 5 bulan, jadi sudah pasti kalau nyawa anaknya tidak tertolong lagi. Ayah Rusdi ikut meneteskan airmatanya tapi dia segera menghapusnya karena takut ketahuan oleh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2