Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Bertemu Mika


__ADS_3

Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Tuan, semuanya sudah siap."


"Baiklah, terima kasih Irwan."


Bian pun segera bersiap-siap, siang ini Bian akan pergi menuju Banten untuk mencari keberadaan Mika. Bian akan ditemani Irwan sebagai sopirnya.


Bian dan Irwan pun segera masuk ke dalam mobilnya dan segera berangkat menuju Banten.


"Tunggu aku Mika, aku akan menjemputmu dan membawamu pulang," batin Bian.


Sementara itu, Bima tampak marah mendengar cerita dari Ririn.


"Brengsek si Bian, berani sekali dia menipumu," geram Bima.


"Terus sekarang aku harus bagaimana? aku sama sekali tidak punya tempat tinggal," seru Ririn dengan sedihnya.


"Sayang, kamu bisa tinggal di apartemenku bersama kedua orangtuamu."


"Serius kamu, Bim?"


"Iya, memangnya aku suka bohong apa, sama kamu."


Ririn memeluk Bima, sungguh untuk saat ini hanya Bima yang mengerti akan dirinya.


"Terima kasih sayang, kamu memang orang yang paling perhatian sama aku."


"Sama-sama."


Ririn dan Bima pun menuju apartemen Bima, dan membereskan barang-barang Ririn dan juga kedua orangtuanya.


***


Bian dan Irwan baru saja sampai di Banten menjelang malam, Bian segera memesan 2 kamar hotel untuk dirinya dan juga Irwan.


Sebenarnya Bian sudah mengetahui di mana lokasi tempat Mika bertugas, namun tempatnya jauh di pelosok dan membutuhkan waktu yang lumayan lama jadi Bian memutuskan untuk istirahat dulu dan dilanjut esok hari.


Bian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, senyumannya tampak tersungging di wajah tampannya, di dalam otaknya hanya terbayang wajah Mika.


"Aku sangat merindukanmu Mika, aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat besok dan bertemu denganmu," gumam Bian.


Akhirnya tidak membutuhkan waktu lama, Bian pun mulai terlelap dan masuk ke dalam alam mimpinya.


Keesokan harinya....


Bian sudah bangun pagi-pagi sekali dan segera membersihkan dirinya, setelah itu Bian dan Irwan sarapan bersama di restoran hotel.


"Kamu yakin Irwan, kalau tempatnya di sana?" tanya Bian.


"Yakin Tuan, karena tempat yang saat ini sedang mengalami Krisis tenaga kesehatan hanya di sana, dan sebagai gantinya seperti yang Tuan perintahkan, saya mengirim Bidan baru untuk menggantikan Nyonya Mika."


"Bagus, kamu memang selalu bisa diandalkan."

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan."


Sementara itu, Mika baru saja selesai membuat sarapan untuknya dan untuk teman-teman yang lainnya.


Mika tinggal dengan beberapa teman medis dan semuanya ada 5 orang tenaga medis di sana termasuk dirinya.


"Ayo semuanya, sarapan dulu," seru Mika.


"Mik, kami jadi tidak enak setiap hari kamu yang harus menyiapkan sarapan," sahut Mela teman Mika.


"Tidak apa-apa, aku ikhlas kok melakukannya. lagi pula, kalian itu seorang Dokter, sudah jelas pekerjaan kalian lebih capek dibandingkan denganku, jadi wajar kalau kalian selalu kelelahan," seru Mika dengan senyumannya.


"Terima kasih ya, Mika."


"Sama-sama."


Mereka tinggal di sebuah rumah yang sudah disiapkan untuk mereka, saat ini mereka sedang sarapan, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok..tok..tok..


"Assalamualaikum, permisi."


"Siapa pagi-pagi sudah bertamu, biar aku aja yang buka," seru Mela.


Mela pun bangkit dan membuka pintu....


"Permisi."


"Iya, Mba siapa dan mau cari siapa?" tanya Mela.


"Oh, silakan masuk kalau begitu."


"Siapa Mel?" tanya Mika.


"Ini, katanya dia Bidan desa yang dikirim dari pusat untuk membantu kita," sahut Mela.


"Wah, Alhamdulillah."


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Nina mohon bantuannya dari teman-teman semuanya."


"Halo Nina," sapa semuanya.


"Nina, ayo ikut kami sarapan," ajak Mika.


"Ah iya, terima kasih."


Semuanya pun sarapan bersama, setelah sarapan semuanya bersiap-siap dengan memakai baju dinas mereka masing-masing.


"Nina, saat ini kita ke rumah Bu Aisyah soalnya beliau sudah hamil besar dan kemungkinan tinggal menunggu waktu saja untuk melahirkan, kemarin aku periksa bayinya sungsang jadi sekarang kita periksa lagi takutnya posisinya masih sama dan kita harus cepat-cepat memberikan tindakan," seru Mika.


"Baik Mba."


Mela memang masih mudah dan diperkirakan usianya di bawah Mika. Mika dan Nina pun berjalan kaki menuju rumah Bu Aisyah, tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba seorang tetangga Aisyah berlari menghampiri Mika.


"Bu Bidan, tolong cepat ke rumah Aisyah sepertinya dia akan melahirkan," serunya dengan napas yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Astagfirullah, ayo Nina kita harus cepat-cepat ke rumah Bu Aisyah," seru Mika panik.


Sedangkan di lain sisi, Bian dan Irwan saat ini sedang berada dalam perjalanan menuju tempat Mika berada.


Mika dengan paniknya segera memeriksa keadaan Bu Aisyah, dan ternyata kondisinya masih sama. Bayi yang dikandungnya posisinya masih sungsang.


"Maaf Pak, sepertinya istri Bapak harus segera dibawa ke rumah sakit soalnya posisi bayinya sungsang," seru Mika panik.


"Tapi Bu Bidan, kami tidak punya uang kalau harus ke rumah sakit," sahut Pak Ade.


"Tidak usah memikirkan uang, itu bisa kita pikirkan nanti. Sekarang yang terpenting, Bu Aisyah dan bayinya selamat," sahut Mika.


Mika segera berlari ke luar untuk mencari mobil darurat.


"Mel, mobil daruratnya mana?" tanya Mika.


"Baru saja berangkat Mik, soalnya ada pasien kritis yang harus segera di bawa ke rumah sakit. Ada apa?"


"Bu Aisyah juga harus segera dibawa ke rumah sakit, beliau mau melahirkan dan posisi bayinya sungsang harus segera dibawa ke rumah sakit," sahut Mika panik.


"Aduh, bagaimana dong?"


Mika dan Mela tampak panik, tapi di saat keduanya sedang dilanda kepanikan yang luar biasa, sebuah mobil mewah datang dan berhenti di depan Mika dan Mela. Kedua wanita itu tampak bingung, kenapa ada mobil mewah masuk ke pelosok seperti ini.


Bian pun keluar dari dalam mobil. "Mika."


Deg....


Mika membelalakkan matanya, bahkan Mika harus beberapa kali mengucek matanya saking tidak percayanya akan pria tampan yang saat ini berdiri di hadapannya dengan senyumannya.


"A Rian...."


Bian tersenyum dan dengan cepat Bian menghampiri Mika dan langsung memeluk Mika membuat Mika terdiam membeku.


"Mika, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku karena aku sudah melupakanmu dan anak kita."


Tes....


Airmata Mika menetes dengan sendirinya, dia benar-benar tidak menyangka kalau pria yang sangat dia cintai bisa datang untuk menemuinya.


"Bu Bidan..Bu Bidan, bagaimana dengan istri saya!" teriak Pak Ade.


Mika tersentak dan segera melepaskan pelukan Bian.


"Astagfirullah, A, bisakah AA bantu Mika bawa pasien Mika ke rumah sakit," seru Mika.


"Tentu saja, masukan pasien kamu ke mobil aku."


Mika segera memanggil Pak Ade supaya membawa istrinya masuk ke dalam mobil Bian.


"Mel, aku pergi ke rumah sakit dulu ya."


"Iya, kamu hati-hati."


Irwan pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Bian duduk di depan bersama Irwan, sedangkan Mika duduk di belakang bersama Bu Aisyah dan Pak Ade.

__ADS_1


__ADS_2