Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Kemarahan Bian


__ADS_3

Keesokan harinya....


Bian mulai merentangkan kedua tangannya, badannya terasa sakit dan lehernya pun pegal karena semalaman dia tidur duduk di kursi kerjanya.


"Astaga, badanku terasa sangat sakit," batin Bian.


Bian pun bangkit dan kembali menuju kamarnya, dilihatnya Ririn masih tertidur dan Bian langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat, Bian pun selesai dan segera menggunakan jas kerjanya. Setelah rapi, Bian pun keluar dari kamar dan berangkat ke kantor tanpa menghiraukan Ririn.


Bian langsung bekerja, tapi otaknya terus saja memikirkan Mika dan calon anaknya.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Permisi Tuan, apa Tuan memanggil saya?"


"Irwan, apa kamu sudah menemukan Mika?"


"Belum Tuan, tempat di saat Tuan mengalami kecelakaan itu jurang dan saya masih belum bisa menemukan perkampungan di dekat sana, tapi saya akan terus mencarinya, Tuan."


"Cari secepatnya Irwan, saya sudah tidak bisa menunggu lagi."


"Baik Tuan."


"Kalau begitu, kamu boleh kembali bekerja."


Irwan pun keluar dari ruangan Bian, lalu Bian membuka laptopnya dan menyambungkannya dengan cctv yang dia simpan di ruangan Bima.


Awalnya terlihat biasa saja, hingga tidak lama kemudian Ririn datang dan terlihat memeluk Bima. Bian tampak mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras.


"Kurang ajar, akting kalian benar-benar sangat bagus dan kalian waktu itu pura-pura tidak saling kenal padahal kalian sudah saling kenal dan berhubungan di belakang aku," geram Bian.


Bian terus saja memperhatikan kegiatan keduanya, bahkan saat ini Bian sudah sangat jelas mendengar pembicaraan diantara keduanya.


"Sayang, akhir-akhir ini Bian sudah mulai berubah kepadaku, aku takutnya dia tahu akan hubungan kita," seru Ririn dengan menyandarkan kepalanya ke pundak Bima.


"Ya baguslah kalau dia tahu hubungan kita, jadi kamu tidak perlu susah-susah menjelaskan semuanya kepada Bian. Aku sudah tidak sabar Bian menceraikanmu dan kita akan segera menikah," sahut Bima.


"Tapi bagaimana dengan setengah saham yang diberikan oleh Papi Ganendra kepadaku? bisa-bisa mereka membatalkannya dan mengusir aku tanpa mendapatkan apa-apa."

__ADS_1


"Tenang saja, bukanya saham itu sudah kamu tanda tangani? jadi kamu tidak usah khawatir, mereka tidak akan bisa membatalkannya karena kamu dan Tuan Ganendra sudah sama-sama menandatanganinya di atas materai."


"Benar juga kamu."


Ririn pun mendongakkan kepalanya kemudian Bima mencium bibir Ririn, membuat Bian memalingkan wajahnya dan amarahnya benar-benar sudah tidak terbendung lagi.


Bima melepaskan pungutannya dan menatap wajah Ririn.


"Kamu kenapa, kok kelihatan sedih seperti itu?" tanya Bima.


"Aku takut Bian tahu kalau kecelakaan dia satu tahun yang lalu, adalah hasil perbuatan kamu yang sudah menyabotase mobilnya Bian sampai jatuh ke jurang," seru Ririn.


"Kamu jangan takut sayang, tidak ada yang tahu dan tidak ada saksi mata juga," sahut Bima dengan memeluk Ririn.


Jedaaaaarrrrr....


Bian merasa tersambar petir di siang bolong, dia benar-benar tidak menyangka kalau kecelakaan yang menimpanya adalah hasil perbuatan Bima dan juga istrinya.


"Brengsek kalian berdua, kalian memang tidak pantas disebut sebagai manusia," geram Bian.


"Oh iya sayang, kamu menyimpan obat itu di tempat yang aman kan? jangan sampai Bian mengetahuinya, bisa-bisa habis kita berdua," seru Bima.


"Aku menyimpannya di bawah kasur sayang, dan aku jamin kalau Bian tidak akan menemukannya," sahut Ririn.


Bima dan Ririn pun akhirnya keluar dari ruangan Bima. Sedangkan Bian tampak memikirkan ucapan Ririn yang barusan dia dengar.


"Obat? maksudnya obat apa?" gumam Bian.


Bian pun mematikan laptopnya dan segera keluar dari ruangannya, lalu masuk ke dalam mobilnya. Rasa penasarannya sangat besar, dia ingin tahu obat apa yang sudah Ririn sembunyikan di bawah kasur.


Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai di rumah dan mengambil obat itu. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bian pun sampai di rumahnya.


Bian segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah membuat Mami Maharani dan Papi Ganendra kaget.


"Kamu kenapa balik lagi Bian? apa ada yang sakit?" teriak Mami Maharani merasa khawatir.


"Tidak, ada sesuatu yang ketinggalan," sahut Bian.


Bian terus saja berlari menaiki anak tangga, kemudian masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengangkat kasur yang selama ini dia tiduri dengan Ririn.


Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Bian pun menemukannya. Bian baru pertama kali melihat obat itu, maka dengan cepat, Bian memasukan obat itu ke kantong jasnya dan Bian pun keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Mi, Pi, Bian berangkat lagi."


"Hati-hati Bian, jangan terburu-buru," seru Papi Ganendra.


"Iya."


Bian segera menghubungi Dokter kenalannya dan membuat janji ingin bertemu, Bian kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit itu untuk bertemu dengan temannya.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


Bian pun masuk, dan Dr.Benny menyambut kedatangan teman lamanya itu.


"Apa kabar Tuan Biantara Ganendra, sudah lama tidak bertemu," seru Dr.Benny dengan merangkul Bian.


"Tidak usah memanggilku seperti itu, aku serasa tidak enak," sahut Bian.


"Baiklah, silakan duduk Bian. Ada apa? apa yang mau kamu bicarakan kepadaku?" tanya Dr.Benny.


Bian mengeluarkan botol plastik berisi obat itu, dan menyerahkannya kepada Dr.Benny.


"Ben, aku mau nanya, itu obat apa?"


Dr.Benny memperhatikan obat itu, dan seketika Dr.Benny membelalakkan matanya.


"Siapa yang menggunakan obat ini?"


"Teman aku, dia meminta aku untuk menyelidiki obat itu karena istrinya yang sudah menyembunyikan obat itu," dusta Bian.


"Ini adalah obat untuk membuat seseorang berhalusinasi melakukan hubungan badan padahal kenyataannya, dia tidak sedang berhubungan badan."


Lagi-lagi Bian merasa syok dengan jawaban temannya itu, dia tidak menyangka kalau Ririn melakukan hal sekejam itu kepadanya. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Bian pun pamit untuk kembali ke kantornya.


Selama dalam perjalanan, Bian benar-benar merasa sangat frustasi.


"Aaarrrrggghhh....brengsek kamu Ririn, jadi selama ini kamu memberiku obat ini supaya aku berhalusinasi sedang berhubungan denganmu, tapi kenyataannya itu semua hanya halusinasi ku saja. Keterlaluan kamu Ririn, ternyata selama ini aku bodoh sudah mencintai wanita sekejam kamu dan saat ini aku semakin yakin untuk menceraikanmu dan mencari Mika. Awas kamu Ririn, aku akan membuat hidupmu lebih menderita dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku," geram Bian.


Bian beberapa kali memukul stir mobilnya, Bian benar-benar sangat emosi dan ingin sekali membunuh dua manusia biadab itu dengan tangannya sendiri.


"Aaarrrrggghhh ......"

__ADS_1


Lagi-lagi Bian berteriak melepaskan semuanya, kali ini Bian merasakan sakit, marah, kecewa, dan penyesalan semuanya bersatu menjadi satu.


__ADS_2