Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang, akhirnya Bian dan Mika pun memutuskan untuk pulang ke rumah yang ditinggali oleh Mika dan teman-temannya.


"Sayang, aku datang ke sini ingin menjemput kamu untuk pulang," seru Bian disela-sela perjalanannya.


"Pulang? tapi kan, aku lagi kerja di sini. Lagipula kalau aku pergi dari sini, bagaimana dengan pasien-pasienku?" sahut Mika.


"Tadi kan, aku sudah kirim Bidan untuk menggantikannya."


"Oh, jadi Bidan Nina itu, AA yang kirim? untuk menggantikan Mika?"


"Iya."


"Ya Allah, niat banget."


"Iya dong, kan kamu istri aku mana mungkin kamu akan tetap di sini, terus yang nanti ngurusin aku siapa?" seru Bian.


Mika tersenyum dan geleng-geleng kepala, sepertinya suaminya sudah berubah sekarang, berubah menjadi manja.


"Oh iya, Mas siapa namanya?" tanya Mika kepada Irwan.


"Nama saya Irwan Nyonya."


"Jangan panggil Nyonya Mas, gak enak rasanya," sahut Mika.


"Kamu itu istri aku, jadi wajar saja kalau Irwan memanggilmu dengan sebutan Nyonya," seru Bian.


"Tapi Mika gak biasa A, dipanggil seperti itu."


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, karena sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Biantara Ganendra."


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai dan Mika pun pamitan kepada teman-temannya untuk pulang. Bian langsung membawa Mika ke kediaman Ganendra.


"AA mau bawa Mika pulang ke mana?"


"Pulang ke rumah akulah, memangnya mau ke mana lagi."


"Tapi Ayah sama Mama Mika, bagaimana?"


"Aku sudah menemui mereka dan mereka mengizinkan kamu tinggal bersamaku, aku juga mengajak mereka untuk pindah rumah tapi mereka gak mau, katanya mereka lebih nyaman di sana."


"Terus bagaimana dengan orangtua AA, Mika takut mereka tidak akan menerima Mika sebagai menantunya."


Bian kembali menggenggam tangan Mika. "Justru Mami sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, sayang."


Mika tampak tersenyum mendengar ucapan Bian, setidaknya dia merasa lega kalau orangtua Bian menerimanya.


Selama dalam perjalanan, Bian tidak melepaskan tangan Mika, dia benar-benar tidak mau sampai kehilangan Mika lagi. Keduanya tertidur, Mika tertidur dengan menyandarkan kepalanya di pundak Bian.


Irwan tersenyum saat melihat Bosnya seperti itu.


"Nyonya Mika berbeda sekali dengan Nyonya Ririn, pantas saja si Bos rela menyusul jauh-jauh ke sini. Sudah cantik, ramah, baik hati pula. Ya Allah, berikan Irwan jodoh yang seperti Nyonya Mika, Amin," batin Irwan.


Karena lokasinya sangat jauh, Bian dan Mika pun sampai di rumah menjelang tengah malam.


"Irwan, kamu bawa saja mobilnya besok pagi-pagi jemput aku."


"Baik Bos."


Bian dan Mika pun masuk ke dalam rumah, Mika tampak celingukan melihat rumah Bian yang sangat besar itu.


"Kenapa?"


"Rumah AA besar sekali, seperti rumah di sinetron-sinetron yang ada di tv."


Bian terkekeh dan mengusap kepala Mika, "Ayo kita istirahat ini sudah larut malam!" ajak Bian.


"Tapi, Mika harus bertemu dengan orangtua AA dulu."

__ADS_1


"Sayang, kamu lihat ini jam berapa? sudah tengah malam sayang, Mami dan Papi sudah tidur jadi lebih baik sekarang kita juga tidur, besok saja bertemu dengan mereka."


Akhirnya Mika pun menurut, sesampainya di kamar Mika kembali memperhatikan kamar Bian yang luasnya sama dengan luas ruang tamu rumahnya.


"Aku ganti baju dulu."


"Iya A."


Mika kembali memperhatikan kamar Bian. "Memang benar kan, A Bian memang orang kaya," batin Mika.


Setelah selesai ganti baju, Bian pun memeluk Mika dari belakang yang masih asyik memperhatikan setiap sudut kamar itu.


"Ya Allah AA, Mika sampai kaget."


"Kenapa? ganti baju sana."


"Iya, Mika ganti baju dulu."


Mika pun melepaskan pelukan Bian dan segera mengambil baju dari dalam kopernya, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.


Bian untuk sementara harus menahan keinginannya dulu karena kata orangtuanya, Bian harus menikah ulang biar afdol dan rencananya dua hari lagi Bian dan Mika akan melangsungkan pernikahannya lagi.


Bian pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan tidak lama kemudian Mika pun keluar dari dalam kamar mandi.


Mika tampak malu-malu, dan berdiri di hadapan Bian.


"Ayo sini tidur, ngapain malah berdiri."


"Tapi A, kita kan dulu menikah bukan atas nama AA yang sebenarnya."


"Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok, dua hari lagi kita akan ulang pernikahan kita jadi selama dua hari itu, aku janji tidak akan macam-macam," seru Bian.


Mika menyunggingkan senyumannya, hingga akhirnya Mika pun naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di samping Bian.


Bian dan Mika tidur berhadap-hadapan, Bian mengelus pipi Mika.


"Mika juga bahagia, bisa menjadi istri Aa lagi karena kemarin-kemarin Mika sempat berpikiran kalau Mika tidak akan pernah bertemu AA lagi."


"Kita mulai lagi dari awal, mudah-mudahan kali ini kita akan selalu bahagia dan diberi kepercayaan lagi untuk mendapatkan momongan."


"Amin."


Perlahan mata keduanya mulai sayu, dan tidak membutuhkan waktu lama, keduanya pun tertidur dan menuju ke alam mimpi masing-masing.


***


Keesokan harinya....


Mika yang memang terbiasa bangun subuh, langsung mandi dan shalat subuh habis itu, Mika memutuskan untuk turun ke bawah dan masak untuk sarapan.


ART yang saat itu sedang memotong-motong bawang dan sayuran, kaget saat melihat wanita cantik masuk ke dapur. Beruntung Bian memberitahukan dan menunjukan foto Mika kalau wanita itu adalah istrinya jadi ART tidak terlalu asing.


"Nona Mika, ya?"


"Ah, iya Bi, kok Bibi tahu?"


"Tahulah Non, karena Tuan Bian sudah menunjukan foto Nona jadi Bibi tidak asing lagi. Ngomong-ngomong, Nona mau apa ke dapur? apa Nona menginginkan sesuatu?"


"Tidak Bi, aku mau masak untuk sarapan."


"Ya ampun, tidak usah Non, nanti Tuan marah kalau Nona masak."


"Tidak apa-apa, dia tidak akan marah kok."


"Tapi Nona-----"


"Nanti kalau dia marah, biar aku yang jelaskan semuanya."

__ADS_1


Bi Yati tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menurutinya, kali ini Mika yang memasak semuanya, Bi Yati hanya membantu memotong-motong saja.


"Wah, Non Mika terlihat jago sekali memasak pasti Non Mika terbiasa masak ya?"


"Iya Bi, Mika memang suka masak."


"Tidak seperti istri Tuan Bian yang sebelumnya, dia sangat manja dan sombong. Boro-boro masak, masuk ke dapur pun tidak pernah."


Mika hanya tersenyum mendengar ocehan Bi Yati, sekali-sekali Mika mengajak ngobrol Bi Yati membuat mereka berdua langsung akrab.


Sementara itu itu di kamar, Bian mulai merentangkan kedua tangannya. Bian mulai meraba-raba tempat tidur di sampingnya membuat Bian mengerutkan keningnya karena dia tidak menemukan istrinya di sana.


Bian membuka matanya dan langsung terbangun. "Sayang, kamu di mana?" teriak Bian.


Tidak ada jawaban, Bian pun bangkit dan mencari-cari keberadaan istrinya itu.


"Sayang! sayang!"


Bian tidak menemukan Mika di kamarnya, Bian pun keluar kamar dan berlari ke bawah.


"Sayang, kamu di mana?"


"Aku di sini A."


Bian pun langsung berlari menuju dapur dengan wajah cemberutnya.


"Ada apa, kok cemberut?"


"Kamu lagi ngapain di sini?"


"Lagi masak, buat sarapan."


"Maaf Tuan, tadi saya sudah melarangnya tapi Nona Mika memaksa ingin memasak."


Mika segera menyelesaikan masaknya. "Bi, Bibi tolong pindahkan masakannya ke dalam piring, soalnya aku harus mengurus bayi besar aku dulu."


"Baik Nona."


Mika pun menarik tangan Bian dan membawanya naik ke kamar mereka.


"Jangan cemberut terus dong, aku kan hanya ingin masak buat sarapan."


Bian langsung memeluk Mika dengan sangat erat.


"Aku bukannya marah melihatmu masak, tapi aku takut kamu pergi meninggalkan aku."


"Ya ampun, aku tidak akan meninggalkanmu A. Sudah ah, sana mandi Mika siapkan baju AA untuk ke kantor."


"Mandi bareng yuk!"


"Mika sudah mandi, A."


"Gak apa-apa mandi lagi."


Mika mendorong tubuh Bian untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Sudah sana mandi, jangan macam-macam."


"Sayang."


"Apa?"


Bian memonyongkan bibirnya, pertanda memberikan kode supaya Mika menciumnya.


"Mandi, atau aku pergi dari rumah ini," ancam Mika.


"Oke-oke, sekarang aku mandi."

__ADS_1


Bian langsung masuk ke dalam kamar mandi dan itu membuat Mika tertawa karena merasa lucu dengan tingkah suaminya itu.


__ADS_2