
Ririn pun izin kepada Mamanya untuk membereskan barang-barang mereka karena sore ini rumah itu harus sudah kosong.
Ririn menghubungi Bima, dan tentu saja Bima langsung menjemput Ririn di rumah sakit, lalu Bima pun melajukan mobilnya menuju rumah Ririn.
"Si Bian memang keterlaluan, mentang-mentang dia mempunyai kekuasaan, bisa melakukan hal seenaknya saja," geram Bima.
"Sudahlah Bim, ini semua memang salah aku dan aku juga tahu apa yang akan terjadi jika aku ketahuan oleh Bian," sahut Ririn pasrah.
"Iya, tapi tidak sekejam ini juga. Oh iya, kamu masih punya setengah saham yang sudah kamu dan Tuan Ganendra tanda tangani jadi kamu masih bisa memintanya sekarang," seru Bima.
Ririn sudah tidak bisa berpikir lagi, otaknya benar-benar bleng kali ini. Dia bingung harus tinggal di mana, bahkan Papanya tiba-tiba sakit dan harus menjalani pengobatan intensive.
Sesampainya di rumah, Ririn langsung membereskan barang-barangnya bersama Bima. Dia tidak menyangka kalau dia akan meninggalkan rumah itu untuk ke dua kalinya.
Setelah semuanya di bereskan, Ririn pun memutuskan untuk pergi ke kantor Bian untuk meminta haknya.
"Aku tunggu di sini saja sayang," seru Bima.
"Oke, aku masuk dulu ya."
Ririn dengan cepat masuk ke dalam kantor Bian, tidak membutuhkan tanya-tanya karena semua karyawan tahu kalau Ririn adalah istri Bosnya.
"Maaf, Nyonya mau ke mana?" tanya Irwan menghalangi langkah Ririn yang hendak masuk ke dalam ruangan Bian.
"Siapa kamu, berani-beraninya menghalangi saya? kamu tidak tahu kalau saya adalah istrinya Bian?" sentak Ririn sombong.
"Maaf Nyonya, setahu saya anda sudah digugat cerai oleh Tuan Bian, dan Tuan Bian juga memberikan perintah kepada saya kalau beliau tidak mau bertemu dengan anda."
"Kurang ajar, berani sekali kamu berbicara tidak sopan seperti itu kepadaku. Bian aku ingin bertemu denganmu!" teriak Ririn.
"Nyonya, saya mohon jangan membuat kegaduhan di sini."
__ADS_1
"Bian, aku ingin bertemu denganmu, tolong biarkan aku masuk!" teriak Ririn kembali.
Tiba-tiba ponsel Irwan berbunyi dan ternyata Bian yang menghubungi Irwan, setelah mendapat perintah, Irwan pun kembali memasukan ponselnya ke saku celananya.
"Silakan Nyonya, Tuan Bian mengizinkan anda untuk masuk."
Ririn terlihat sangat geram, dia pun langsung masuk ke dalam ruangan Bian. Terlihat Bian saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan Ririn pun langsung duduk di hadapan Bian.
"Apa kamu puas Bian, sudah menghancurkan aku dan keluargaku?" geram Ririn.
Bian menyunggingkan senyumannya, lalu menghentikan kegiatannya.
"Itu baru awal, belum yang lainnya," sahut Bian santai.
"Apa? apa yang akan kamu lakukan lagi kepadaku dan keluargaku? tidak cukupkah semua ini?"
"Itu belum seberapa, bahkan kalau dibandingkan dengan perlakuan kalian kepadaku, itu gak ada apa-apanya. Kalian sudah melakukan pembunuhan berencana kepadaku, penipuan, bahkan membunuh calon anakku, kamu pasti tahulah apa hukumannya bagi yang melakukan pembunuhan," sahut Bian dengan senyumannya.
"Iya, wanita baik yang kamu dorong sampai keguguran itu adalah istriku."
Tiba-tiba Ririn tertawa dengan kerasnya. "Kalau wanita itu istrimu? terus apa bedanya kamu sama aku? aku masih mending selingkuh dan masih pacaran, lalu apa kabarnya kamu yang menikah diam-diam bahkan sampai hamil. Kamu benar-benar pria brengsek yang pernah aku temui."
"Kamu tidak bisa membedakan antara perbuatan yang disengaja dan tidak disengaja? aku sama kamu, jelas-jelas beda karena kamu melakukan selingkuh atas dasar disengaja, sedangkan aku menikah karena posisi aku waktu itu sedang amnesia, dan yang membuat aku amnesia itu kamu dan Bima."
"Terus, sekarang apa yang akan kamu lakukan kepadaku dan Bima? apa kamu akan melaporkan kita ke polisi?"
"Tentu saja karena itu adalah perbuatan kriminal, tapi aku tidak akan semudah itu menjebloskan kalian ke penjara karena terlalu enak kalau kalian langsung dipenjara. Aku ingin melihat kalian menderita dulu, baru aku akan jebloskan kalian ke penjara," sahut Bian.
"Kurang ajar kamu Bian, sifat kamu ini yang membuat aku sangat membencimu dan tidak mau menjadi istrimu," geram Ririn.
"Kalau aku tahu kelakuan kamu seperti ini, aku tidak perlu susah-susah menikahinya, menebus rumahmu, dan memulihkan perusahaan orangtuamu, tapi kamu sendiri yang membuat dirimu berada dalam kesusahan. Seharusnya, kalau kamu memang tahu sifat aku seperti apa, kamu jangan pernah main-main kepadaku dan mencoba membangunkan singa yang tidur karena kalau singa itu sampai terbangun, kamu bisa mati di mangsanya."
__ADS_1
Ririn sudah sangat emosi, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Oke, kalau itu mau kamu, tapi tujuan aku datang ke sini karena aku ingin mengambil hak ku karena waktu itu Papi Ganendra sempat memberikan setengah saham perusahaan ini kepadaku, jadi aku ingin mengambilnya."
Seketika tawa Bian pecah, membuat Ririn bingung dan mengerutkan keningnya. Bian bangkit dari duduknya, lalu mengambil sebuah map dari lemari kerjanya kemudian melemparkannya ke hadapan Ririn.
"Apa maksud kamu, surat itu?" seru Bian.
Ririn membukanya. "Iya, ini saham yang Papi Ganendra berikan kepadaku dan kamu tidak bisa membatalkannya karena di sini aku dan Papi Ganendra sudah menandatanganinya. Jadi setengah perusahaan ini sudah menjadi milikku," sahut Ririn dengan senyumannya.
Ririn merasa sangat menang, karena itu merupakan perusahaan yang sangat besar jadi kalau dia memiliki setengah dari saham perusahaan itu, sudah dipastikan dia tidak akan merasa khawatir lagi dan tidak akan hidup seperti gelandangan.
Lagi-lagi Bian tertawa. "Coba baca baik-baik, perusahaan mana yang Papi berikan setengah sahamnya kepadamu."
Ririn dengan cepat membacanya secara teliti, dan betapa terkejutnya Ririn, ternyata bukan perusahaan itu yang dia miliki melainkan perusahaan cabang yang berada di Lampung.
"Bagaimana? apa kamu sudah membacanya dengan teliti?" seru Bian.
Ririn tampak emosi, dia merobek berkas itu dan bangkit dari duduknya.
Plaaaakkk...
Ririn menampar Bian dengan sangat kencang membuat Bian mengeraskan rahangnya, Bian emosi dan mencengkram wajah Ririn dengan sangat kuat membuat Ririn meringis kesakitan.
"Berani sekali kali kamu menamparku!" bentak Bian.
"Kalian ternyata sudah menipuku selama ini, kalian benar-benar keterlaluan," seru Ririn dengan deraian airmata.
Bian menghempaskan tubuh Ririn sehingga Ririn tersungkur ke lantai.
"Maling teriak maling, sudah aku bilang jangan main-main kepada keluarga Ganendra karena kalian bukan tandingan ku. Sekarang juga kamu keluar dari ruangan ku dengan suka rela atau aku panggil sekuriti untuk melempar mu ke jalanan," geram Bian.
__ADS_1
Ririn pun dengan deraian airmata segera keluar dari ruangan Bian, dia benar-benar hancur kali ini.