Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Hancur


__ADS_3

Papi Ganendra dan Mami Maharani dengan langkah terburu-buru menuju ruangan rawat Bian, di perjalanan mereka melihat sepasang suami istri yang sedang berpelukan sembari menangis.


"Kasihan mereka Pi," bisik Mami Maharani.


"Iya, ayo buruan."


Kedua orangtua Bian masuk ke dalam ruangan rawat Bian.


"Ya Allah Bian, kamu kenapa Nak?" seru Mami Maharani memeluk Bian.


"Kepala Bian pusing lagi Mi, dan barusan Dokter sudah menyuntikan obat pereda sakit kepada Bian," sahut Ririn.


"Terus, Dokter mengatakan apa? Apa Bian mengalami sakit?" tanya Papi Ganendra khawatir.


"Kata Dokter sih, tidak ada masalah di kepalanya mungkin itu efek bekas kecelakaan waktu itu," sahut Ririn.


"Ya Allah, Bian."


"Ini gara-gara wanita gila itu, makanya Bian jadi sakit kepala," kesal Ririn.


"Wanita gila? maksud kamu siapa?"


"Begini loh Mami, tadi siang itu Ririn dan Bian berniat ingin makan siang di restoran, dan di saat kita masuk restoran, tiba-tiba seorang wanita dengan perut buncitnya langsung memeluk Bian dan mengatakan kalau Bian adalah suaminya, ini kan lucu, iya kan, Mi, Pi?" sahut Ririn.


"Apa? wanita yang mengaku istri Bian? kok, bisa?" tanya Papi Ganendra.


"Justru itu Pi, wanita itu sudah gila ngaku-ngaku istrinya Bian dasar modus," sahut Ririn.


Mami Maharani dan Papi Ganendra saling berpandangan satu sama lain.


***


Beberapa jam kemudian, operasinya pun selesai. Ayah Rusdi meminta izin kepada istrinya untuk pulang dulu, karena ia akan menguburkan calon cucunya yang harus lahir sebelum waktunya.


"Mama, harus kuat ya dan jaga si Eneng nanti setelah Ayah kuburkan calon cucu kita, Ayah langsung ke sini lagi," seru Ayah Rusdi.


"Iya Yah, hati-hati di jalan."


Ayah Rusdi tampak menggendong calon cucunya yang baru sebesar kepalan tangan orang dewasa itu, sungguh sangat getir melihat Ayah Rusdi bahkan tanpa istrinya tahu, selama dalam perjalanan, Ayah Rusdi tidak henti-hentinya menitikkan airmata.


Mama Nuri langsung bangkit dari duduknya saat melihat Dokter mendorong belangkar Mika dan Mika masih belum sadarkan diri.


"Ya Allah Mika," lirih Mama Nuri dengan deraian airmata.


Mika dipindahkan ke ruang rawat inap, Mama Nuri setia menunggu anaknya itu.


"Kamu harus kuat Nak, kamu harus sabar," gumam Mama Nuri dengan menggenggam tangan anaknya itu.

__ADS_1


Sementara itu, di ruangan rawat Bian terdengar panggilan masuk kepada Ririn.


"Mi, Pi, sebentar ya, Ririn angkat telepon dulu."


"Iya sayang."


Ririn pun segera keluar dan mencari tempat aman.


📞"Halo sayang, ada apa?" seru Ririn dengan memelankan suaranya.


📞"Kamu di mana? kenapa kamu tidak ke restoran untuk makan siang?" tanya Bima.


📞"Ada sedikit masalah, nanti aku ceritakan sama kamu."


📞"Sekarang kamu ke restoran aku tunggu, soalnya aku rindu sekali sama kamu."


📞"Tapi saat ini aku lagi di rumah sakit sayang, si Bian lagi dirawat."


📞"Oke, jadi kamu lebih memilih si Bian sekarang daripada aku? oke, terserah kamu saja tapi jangan harap kamu bisa bertemu denganku lagi."


📞"Sayang, tung-----"


Tut..Tut..Tut ....


Bima langsung mematikan sambungan teleponnya, Ririn sangat panik dia tidak bisa kalau harus berpisah dengan Bima. Ririn pun dengan cepat kembali ke ruangannya Bian, Ririn tidak sadar kalau dari tadi Irwan mengikutinya dan merekam apa yang sedang dibicarakan oleh istri Bosnya itu.


"Akhirnya aku dapat bukti juga, ckckck...dasar wanita zaman sekarang, sudah dapat suami sempurna saja masih bisa selingkuh, apalagi dengan aku yang tidak ada apa-apanya, bisa-bisa aku ditendang bagai sampah," gumam Irwan.


"Oh, ya sudah kamu pergi saja, biar Bian, Mami dan Papi yang jaga."


"Terima kasih Mi, Ririn janji gak bakalan lama kok."


Ririn pun dengan cepat segera pergi meninggalkan rumah sakit, tentu saja Irwan dengan sigap mengikuti Ririn.


Ririn segera menuju restoran Bima, dan Irwan masih terus mengikuti Ririn. Hingga beberapa saat kemudian, taksi yang Ririn tumpangi pun sampai di depan restoran Bima.


"Loh, bukanya itu restoran yang kemarin Bu Ririn datangi? kenapa dia datang lagi ke sana?"


Kali ini Irwan memutuskan untuk masuk ke restoran itu, beruntung sekali Ririn tidak pernah ke kantor jadi dia tidak mengenal Irwan.


Irwan pun masuk ke restoran itu dan memesan satu minuman, Irwan tampak celingukan mencari keberadaan Ririn tapi Irwan tidak menemukannya.


"Lah, Bu Ririn ke mana? aku yakin, tadi dia masuk ke sini tapi kok sekarang gak ada," gumam Irwan.


Hingga tidak lama kemudian, Ririn pun turun dari lantai dua bersama Bima. Ririn tampak merangkul Bima dengan mesranya membuat Irwan dengan sigap mengambil gambar mereka secara diam-diam.


"Wah, kasihan sekali nasib si Bos di khianati istrinya sendiri," batin Irwan.

__ADS_1


Ririn dan Bima hendak keluar, dan Irwan dengan sigap membayar minumannya.


"Maaf Mba, pria yang bersama wanita itu siapa?" tanya Irwan.


"Itu Pak Bima, pemilik restoran ini dan wanita itu mungkin saja kekasihnya soalnya setiap hari suka datang ke sini."


"Oh, terima kasih ya Mba."


Irwan segera mengikuti mobil Bima dan ternyata Bima menuju apartemennya, Irwan pun ikut masuk dan menanyakan kamar milik Bima dengan alasan pekerjaan.


Setelah mendapat informasi lengkap, Irwan pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tapi Irwan tidak akan memberitahukan dulu kepada Bian karena saat ini Bian sedang sakit.


***


Sementara itu, di ruangan rawat Mika...


Mika mulai menggerakkan tangannya membuat Mama Nuri tersentak.


"Mika, ini Mama, Nak."


"Ma-ma, Mika ada di mana Ma?"


"Kamu ada di rumah sakit, Nak."


Mika pun perlahan meraba perutnya. "Ada apa dengan kandungan Mika, Ma?" tanya Mika panik.


Mama Nuri langsung meneteskan airmatanya. "Kamu harus sabar Mika, karena calon bayi kamu sudah meninggal."


Jedaaaarrrr.....


Bagai di sambar petir di siang bolong, Mika tampak terkejut luar biasa. Mika pun bangun dari tidurnya membuat Mama Nuri panik dan dengan sigap memegang Mika.


Mika meneteskan airmatanya sembari memegang perutnya.


"Ini tidak mungkin Ma, bayi Mika tidak mungkin meninggal!" teriak Mika histeris.


"Kamu harus sabar Nak, terima yang menjadi takdir dari Gusti Allah."


"Tidak Ma, ini tidak mungkin, bayi ini adalah satu-satunya yang menjadi penguat Mika, anak Mika tidak mungkin meninggal!" teriak Mika.


Mama Nuri langsung memeluk anaknya itu dengan deraian airmata, ia sudah tidak tahu lagi harus bicara apa, sungguh hati seorang Ibu sangat sakit melihat anak satu-satunya hancur seperti itu.




__ADS_1


Hai guys reader setia Poppy Susan, yuk mampir di akun ke duaku yang bernama Bunda Love di sana aku menulis cerita juga.Jangan lupa rate bintang 5, follow akunku, like, gift, vote, tap favorit dan juga komen, terima kasih🥰🥰



__ADS_2