Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Sedih, Marah, Dan Menyesal


__ADS_3

Malam pun tiba....


Ririn pulang ke rumah ke dua orangtuanya, dia tidak berani pulang ke rumah Bian.


"Ririn, kenapa kamu pulang ke sini? Bian mana?" tanya Mama Yulia.


"Ririn rindu sama Mama, lagipula Ririn sudah izin kok sama Bian untuk nginap di rumah Mama," dusta Ririn.


"Syukurlah kalau kamu sudah izin, Mama takut kamu lagi bertengkar dengan Bian. Ingat Ririn, berkat Bian dan keluarganya, kita bisa tinggal di rumah ini lagi dan perusahaan Papamu juga tidak jadi bangkrut," seru Mama Yulia.


Ririn hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana syok dan marahnya kedua orangtuanya kalau tahu Bian marah besar akibat kesalahannya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu tidur sana sudah malam."


"Iya Ma."


Ririn pun masuk ke dalam kamarnya dan melempar tasnya di sembarang tempat.


"Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu, pasti mereka akan marah sekali dan kita sekeluarga akan tinggal di kontrakan lagi," gumam Ririn.


Sementara itu, Bian tampak tersenyum lebar dan bahagia karena baru saja Irwan mengatakan kalau dia sudah menemukan tempat tinggal Mika.


"Tunggu aku Mika, besok aku akan langsung menemui mu," gumam Bian.


Bian sangat bahagia, dia sudah membayangkan bagaimana reaksi Mika pasti dia akan terkejut.


***


Keesokan harinya....


Bian sudah bangun sejak subuh, dia mematut penampilannya di depan cermin. Dia ingin terlihat tampan di mata Mika.


Ceklek...


"Bian, kamu mau ke mana pagi-pagi begini sudah rapi?" tanya Mami Maharani.


"Bian mau menjemput Mika Mi, tadi malam Irwan sudah mendapatkan alamat rumah Mika."


"Mami ikut."


"Hah, yakin Mami mau ikut?"


"Iya, Mami mau ikut."


"Ya sudah, Mami siap-siap dulu sana."


Mami Maharani pun segera pergi dari kamar Bian, dia juga ingin bertemu dengan menantunya itu.


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah siap. Bian berangkat bersama Maminya dengan Irwan sebagai sopirnya, sedangkan Papi Ganendra tidak bisa ikut karena pagi ini dia harus menggantikan Bian memimpin rapat.


Selama dalam perjalanan, Bian tidak henti-hentinya mengembangkan senyumannya. Jantungnya berdetak tak karuan, dia takut Mika akan marah dan tidak mau menemuinya.


"Kamu kenapa?"


"Mi, Bian takut kalau Mika akan marah kepada Bian dan tidak mau menemui Bian."


"Jangan berpikiran seperti itu dulu, bukanya kata kamu, Mika wanita yang sangat baik, jadi Mami yakin kalau Mika tidak akan marah kepadamu."


"Amin, mudah-mudahan saja ya, Mi."


Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di rumah Mika, bahkan di saat mobil Bian memasuki perkampungan Mika, anak-anak tampak mengejarnya karena mereka baru pertama kali melihat mobil bagus seperti itu.


"Ini rumahnya, Tuan," seru Irwan.


Bian tampak memperhatikan rumah sederhana itu, memori-memori masa lalu sudah mulai menari-nari di pikiran Bian. Bian dan Mami Maharani pun keluar dari dalam mobilnya kemudian memperhatikan rumah itu.

__ADS_1


Tiba-tiba Ayah Rusdi keluar dari dalam rumahnya berniat akan pergi ke kebun.


"Assalamualaikum, Ayah."


Ayah Rusdi kaget dan menatap kedatangan Bian. Bian menghampiri Ayah Rusdi dan mencium punggung tangan Ayah Rusdi, mata Ayah Rusdi terlihat berkaca-kaca.


"Waalaikumsalam."


Bian langsung memeluk Ayah Rusdi, jatuh juga airmata Ayah Rusdi.


"Nak Rian."


"Iya Yah, aku Rian menantu mu, suami Mika."


"Ya Allah, Nak Rian."


Ayah Rusdi semakin mengeratkan pelukannya, Ayah Rusdi begitu sangat bahagia akhirnya Bian mengingat semuanya.


Ayah Rusdi melepaskan pelukannya, dan menoleh ke arah Mami Maharani.


"Pak, kenalkan saya Maharani, Maminya Bian."


Ayah Rusdi menghapus airmatanya. "Silakan masuk."


Bian, Mama Maharani, dan juga Irwan pun akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Ma, Ma, coba lihat siapa yang datang!" teriak Ayah Rusdi.


Mama Nuri tampak terburu-buru berjalan menuju ruang tamu, dan betapa terkejutnya Mama Nuri saat melihat kedatangan Bian.


"Ma, apa kabar?"


Bian menghampiri Mama Nuri dan langsung mencium punggung tangan Mama Nuri, seketika airmata Mama Nuri menetes. Ia menyentuh pipi Bian dengan perasaan haru.


"Iya Ma, aku Rian."


"Ya Allah, akhirnya kamu mengingat semuanya."


"Sudah-sudah, biarkan Nak Rian duduk dulu."


Semuanya pun duduk. "Ma, kenalkan ini Mami Rian."


Mama Nuri tampak tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Ayah, Mama, maafkan Rian karena Rian sempat melupakan kalian apalagi Rian sudah membuat Mika sedih karena tidak mengingatnya," seru Bian.


"Tidak apa-apa Nak, kami sangat bahagia karena kamu sudah mengingat semuanya dan kembali kepada keluargamu," sahut Ayah Rusdi.


"Pak, Bu, terima kasih karena sudah menolong dan merawat putra saya dengan sangat baik," seru Mami Maharani.


"Sama-sama Nyonya, kami ikhlas menolong Nak Rian. Ah iya, maaf Rian adalah nama yang kami berikan saat amnesia, nama kamu yang asli siapa, Nak?" tanya Mama Nuri.


"Bian, Biantara Ganendra," sahut Bian.


"Namanya tidak beda jauh hanya beda di huruf awal saja," seru Ayah Rusdi.


Semuanya tampak terkekeh, tapi Bian tampak celingukan.


"Ma, Yah, Mika mana? apa dia sudah berangkat ke klinik?" tanya Bian dengan senyumannya.


Ayah Rusdi dan Mama Nuri saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya keduanya menghembuskan napas kasar.


"Mika sudah pergi, Nak. Kamu terlambat," seru Ayah Rusdi.


"Pergi? pergi ke mana, Yah?" tanya Bian terkejut.

__ADS_1


"Kemarin Mika memutuskan untuk membantu temannya di Banten, katanya di sana butuh tenaga medis dan banyak Ibu hamil juga yang kekurangan gizi jadi Mika pergi ke sana," sahut Ayah Rusdi.


Deg....


Dada Bian terasa sangat sesak, tubuhnya lemas mendengar jawaban dari Ayah Rusdi.


"Terus, bagaimana dengan kandungannya? Mika kan, sedang mengandung anak Bian nanti bagaimana dengan kondisi kandungannya, kalau Mika bekerja terlalu capek," seru Bian khawatir.


Mama Nuri menundukkan kepalanya, airmatanya tiba-tiba saja menetes dengan sendirinya.


"Mika, mengalami keguguran, Nak. Dan anak kalian tidak bisa diselamatkan."


Jedaaaarrrr....


Kejutan apa lagi yang akan Bian terima, tidak terasa airmata Bian pun menetes membuat Mami Maharani mengusap punggung putranya itu.


"Kamu yang sabar sayang, mungkin kali ini belum saatnya kamu mempunyai anak. Mami yakin, ke depannya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi," seru Mami Maharani.


"Apa, ini akibat dari perbuatan Ririn? karena waktu itu dia mendorong Mika?" tanya Bian.


Ayah Rusdi dan Mama Nuri hanya menundukkan kepalanya, mereka tidak berani menjawabnya karena takut salah bicara.


Bian kembali mengepalkan tangannya. "Awas kamu Ririn, kamu harus membayar semua yang sudah kamu lakukan kepadaku, Mika, dan juga anakku," batin Bian dengan sangat emosi.


"Apa kamu mau melihat makam anak kamu Nak? dia berjenis kelamin perempuan," seru Ayah Rusdi.


Akhirnya Bian dan yang lainnya pergi ke pemakaman umum di kampung itu, Bian terduduk lemas di hadapan makam calon anaknya itu.


Pundak Bian bergetar hebat, menandakan kalau saat ini Bian benar-benar terluka. Airmata Bian terus saja berjatuhan, membuat semua orang pun ikut menitikkan airmatanya.


"Maafkan Papa sayang, Papa tidak bisa menjaga kamu dan juga Bunda. Papa memang Papa yang tidak berguna, maaf-maafkan Papa," seru Bian dengan deraian airmata.


"Sudah Nak, anak kalian sudah tenang di surga, ini merupakan tabungan buat kamu mau pun Mika, tabungan di akhirat nanti," seru Ayah Rusdi.


Setelah cukup lama, Bian pun kembali ke rumah Ayah Rusdi. Mami Maharani melihat foto pernikahan Bian dan juga Mika.


"Apa ini menantu Mami?" tanya Mami Maharani.


"Iya Mi."


"Cantik sekali."


"Apakah kalian akan menginap di sini?" tanya Mama Nuri.


"Tidak Ma, sepertinya Bian akan pulang karena masih banyak pekerjaan juga. Bian hanya minta izin untuk membawa foto ini."


"Bawa saja Nak."


"Apa Mama, punya nomor ponsel Mika?"


"Ada, sebentar ya, Mama tuliskan nomor ponsel Mika."


Mama Nuri pun dengan cepat menuliskan nomor ponsel Mika dan menyerahkannya kepada Bian.


Bian pun memutuskan untuk pulang, selama dalam perjalanan Bian tak henti-hentinya menghubungi Mika namun sayang, nomornya tidak aktif membuat Bian merasa sangat frustasi.


"Kamu yang sabar, sayang."


Akhirnya mobil Bian pun sampai di Jakarta, saat ini waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Bian dengan langkah gontai memasuki kamarnya sembari foto masih dalam genggamannya.


Bian terduduk di sofa dengan memandangi foto pernikahannya dengan Mika, lagi-lagi airmatanya menetes apa lagi saat Bian ingat ucapan Ayah Rusdi dan Mama Nuri yang mengatakan kalau Mika sangat terpukul dengan meninggalnya anak mereka.


Bian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mika saat itu.


"Maafkan aku Mika, maaf."

__ADS_1


__ADS_2