
Malam pun tiba...
Mika terus saja menangis, dia benar-benar merasa sangat hancur saat ini karena sudah kehilangan dua orang yang sangat dia sayangi.
"Kenapa nasib Mika seperti ini, Ma? Apa salah Mika?"
"Kamu tidak salah apa-apa Nak, Mama dan Ayah yang salah yang sudah menikahkan kamu dengan Nak Rian yang sudah jelas-jelas dia mengalami amnesia, dan beginilah akibatnya kamu yang menjadi korbannya, maafkan Mama dan Ayah, Nak," seru Mama Nuri.
Mika hanya bisa menangisi nasibnya, airmatanya terus saja menetes dengan sendirinya.
"Ma, Mika yakin kalau pria yang tadi siang Mika temui adalah A Rian."
"Iya Nak, mungkin saat ini ingatan Nak Rian sudah kembali makanya dia tidak mengingat kamu."
"Sakit banget rasanya Ma, dilupakan oleh suami sendiri."
Mama Nuri kembali memeluk anaknya itu, Mama Nuri sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Sementara itu di ruangan Bian, Bian dari tadi hanya diam saja tidak bicara sama sekali membuat Mami Maharani dan Papi Ganendra merasa sangat khawatir.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa? sepertinya kamu lagi mikirin sesuatu?" tanya Mami Maharani lembut dengan mengusap tangan Bian.
"Mi, sudah beberapa hari ini Bian selalu memimpikan seorang wanita bernama Mika dan dia selalu bilang kalau dia menunggu Bian."
"Mika?"
"Iya Mi, mungkinkah selama satu tahun Bian menghilang, wanita bernama Mika itu yang menolong Bian?"
Mami Maharani dan Papi Ganendra saling pandang satu sama lain.
"Dan tadi siang, di saat Bian dan Ririn mau makan siang di restoran, tiba-tiba ada seorang wanita bernama Mika dan sedang hamil menghampiri Bian dan memeluk Bian. Dia mengatakan kalau dia istri Bian, tapi Bian sama sekali tidak ingat."
"Papi takut, di saat kamu menghilang selama satu tahun kamu memang benar-benar melakukan pernikahan dengan wanita lain," seru Papi Ganendra.
"Terus bagaimana dengan Ririn? tidak mungkin kamu akan berpoligami, karena Ririn kemungkinan tidak akan mau," sambung Mami Maharani.
"Pi, tolong cari tahu tentang wanita yang bernama Mika itu karena kalau benar Bian sudah menikahinya, Bian akan merasa bersalah karena tadi sudah mengabaikannya," seru Bian.
"Tapi Papi harus mencarinya di mana Bian? memangnya kamu tahu di mana rumahnya?"
__ADS_1
Bian tampak menggelengkan kepalanya, sungguh Bian benar-benar merasa sangat bersalah. Entah kenapa, dia memang tidak pernah bertemu dengan Mika tapi di saat tadi dia bertemu untuk pertama kalinya, Bian merasakan hal yang berbeda.
Wajah Mika yang tadi berderaian airmata terus saja terbayang-bayang di benak Bian, dia merasakan sakit yang sangat luar biasa.
"Ririn ke mana?" tanya Bian.
"Dia bilang tadi mau bertemu dengan temannya, katanya dia akan sebentar tapi sudah malam seperti ini, dia belum kembali juga," sahut Mami Maharani.
Bian hanya diam saja, dia sudah tidak peduli apa yang akan Ririn lakukan karena untuk saat ini yang ada di benaknya hanyalah wanita cantik bernama Mika.
Malam semakin larut, Mami Maharani dan Papi Ganendra tampak sudah terlelap dan Ririn sama sekali tidak kembali ke rumah sakit.
Bian masih terjaga, Bian terus saja memikirkan Mika hingga kepalanya lagi-lagi terasa sakit.
"Ah, kenapa kepalaku selalu sakit kalau ingat tentang wanita itu," gumam Bian.
Kepala Bian semakin berdenyut, hingga akhirnya Bian memutuskan untuk merebahkan tubuhnya, kepalanya benar-benar terasa sangat sakit.
***
Keesokan harinya....
"Astaga sayang, kok kamu sudah mau pulang?"
"Memangnya kenapa? kamu tidak suka aku pulang ke rumah?" ketus Bian.
"Kok kamu ngomongnya seperti itu? maafkan aku sayang, kemarin teman aku melarang aku pulang jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa soalnya teman-temanku yang lain juga ikut menginap, aku sudah berusaha menghubungi ponsel kamu tapi tidak aktif," seru Ririn dengan pura-pura sedih.
Bian tidak menghiraukan Ririn, dia langsung melangkahkan kakinya dengan melewati Ririn membuat Mami Maharani tersenyum.
"Kamu yang sabar ya sayang, mungkin Bian lagi ngambek."
"Iya Mi, maafkan Ririn."
Bian terus saja melangkahkan kakinya, sehingga tanpa sadar Bian menabrak seseorang.
"Ya ampun, maaf Pak saya tidak sengaja," seru Bian.
Orang itu adalah Ayah Rusdi, seketika Ayah Rusdi dan Bian saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
Ada perasaan tenang saat Bian menatap mata pria di hadapannya itu, hingga Bian pun tersentak karena Ayah Rusdi bangkit dan Bian pun ikut bangkit juga.
"Sekali lagi maafkan saya ya, Pak."
"Tidak apa-apa Nak," sahut Ayah Rusdi dengan senyuman ramahnya.
Ayah Rusdi pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Bian, sedangkan Bian masih terdiam mematung.
"Kamu kenapa malah diam?" tanya Ririn.
Bian menatap Ririn, dan tanpa bicara sama sekali Bian pun kembali melangkahkan kakinya dengan sesekali menoleh ke belakang melihat Ayah Rusdi.
"Bukanya dia pria yang kemarin bersama wanita bernama Mika itu? kenapa dia ada di sini? mungkinkah wanita bernama Mika itu dirawat di sini?" batin Bian.
Bian pun akhirnya meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya, selama dalam perjalanan Bian tidak henti-hentinya memikirkan Mika.
Ayah Rusdi masuk ke dalam ruangan rawat Mika, Ayah Rusdi menyunggingkan senyumannya kepada anaknya itu.
"Bagaimana keadaanmu Neng?"
"Mika ingin pulang, Yah."
"Pulang?"
"Mika sudah pasrah, Mika ingin melihat anak Mika," sahut Mika dengan deraian airmata.
Ayah Rusdi langsung memeluk anaknya itu, Ayah Rusdi tidak bisa menahan airmatanya.
"Maafkan Ayah Nak, Ayah yang sudah membuat kamu menjadi seperti ini, Ayah sudah mengizinkan kamu menikah dengan Rian padahal Ayah tahu kalau saat itu Rian sedang hilang ingatan dan kemungkinan terbesar kalau Rian ingat lagi, dia akan melupakanmu."
"Tidak Yah, Mika yang sudah menerima A Rian menjadi suami Mika jadi sekarang Mika harus menerima semuanya kalau A Rian sudah melupakan Mika, bahkan A Rian ternyata sudah punya istri."
Ayah Rusdi mengeratkan pelukannya, Ayah Rusdi benar-benar merasa sangat bersalah. Ia tidak marah kepada Rian, karena saat itu Rian sedang hilang ingatan jadi ini semua bukan salah Rian.
"Mika ingin pulang, Yah."
"Kamu masih lemah Neng, tunggu satu hari lagi ya, nanti Ayah bicara sama Dokter supaya mengizinkan kamu pulang."
Hati Mika benar-benar merasa sakit, dia sangat mencintai suaminya tapi apalah daya, kalau saat ini suaminya sudah kembali ingat semuanya dan melupakan dirinya. Bahkan hal yang sangat membuat Mika sakit hati adalah, ternyata suaminya itu sudah mempunyai istri.
__ADS_1
"Selamat tinggal A, semoga AA selalu bahagia biarlah AA menjadi kenangan terindah untuk Mika," batin Mika.