Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Kebahagiaan Bian Dan Mika


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Bian tak henti-hentinya memperhatikan Mika.


"Sabar ya Bu, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Mas, bisa lebih cepat lagi," keluh Mika.


"Baik Nyonya."


Bian tampak tersenyum melihat Mika, sedangkan Mika yang awalnya sedang fokus kepada Bu Aisyah tiba-tiba menoleh ke arah Bian yang saat ini sedang senyum-senyum.


"Aa kenapa, senyum-senyum seperti itu?" tanya Mika gugup.


"Kamu cantik."


Wajah Mika berubah menjadi merah menahan malu, sedangkan Bian semakin semangat menggoda Mika karena Bian suka melihat Mika yang malu-malu seperti itu.


"AA apa-apaan sih."


Beberapa saat kemudian, mobil Bian pun sampai di rumah sakit. Mika tampak sigap membantu Bu Aisyah turun dari dalam mobil.


"Suster, tolong saya!" teriak Mika.


Seorang Suster pun langsung membawakan kursi roda dan membawa Bu Aisyah ke ruang pemeriksaan.


Mika dan Pak Usman tampak panik, sedangkan Bian hanya diam saja, dia tidak tahu harus melakukan apa. Hingga tidak lama berselang, Dokter pun keluar.


"Keluarga Ibu Aisyah!"


"Iya, saya suaminya, Dok."


"Pak, istri anda harus segera di operasi Cesar, tolong Bapak segera mengurus pembayarannya biar kami segera tangani istri anda."


"Bu Bidan bagaimana ini? saya tidak punya uang sama sekali," seru Usman tampak panik.


"Ya sudah, Bapak tunggu saja di sini ya, biar saya saja yang mengurus administrasinya," sahut Mika.


"Terima kasih, Bu Bidan."


"Dokter, anda langsung saja jalankan operasi karena sekarang saya yang akan mengurus administrasinya," seru Mika.


"Baik kalau begitu."


Mika pun segera pergi untuk mengurus administrasi Bu Aisyah, tentu saja Bian mengikutinya. Sesampainya di meja administrasi, Mika langsung melakukan pembayaran.


"Maaf suster, saya ingin melakukan pembayaran atas nama Bu Aisyah," seru Mika.


"Baik, sebentar ya Mba."


Suster itu pun segera memeriksa pasien atas nama Aisyah itu.


"Semuanya 15 juta Bu, termasuk dengan rawat inap empat hari tiga malam."


"Baiklah."


Mika pun hendak mengeluarkan kartu ATMnya tapi sayang kalah cepat dengan Bian, Bian memberikan kartu ATMnya kepada suster.


"Sus, pakai kartu ATM saya saja," seru Bian.


"Baik Mas."


Suster itu langsung memprosesnya membuat Mika terkejut.

__ADS_1


"Tidak usah A, eh maksudnya Mas," seru Mika gugup.


"Sudah tidak apa-apa."


"Tapi itu sangat mahal."


"Memangnya kenapa? sudah kamu jangan khawatir."


"Ini Mas, terima kasih."


"Sama-sama, Mas."


Setelah melakukan pembayaran, Mika dan Bian pun kembali menghampiri Pak Usman.


"Bagaimana Bu Bidan?"


"Bapak jangan khawatir, semuanya sudah beres."


"Terima kasih Bu Bidan, saya tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi karena Bu Bidan sudah menyelamatkan anak dan istri saya."


"Jangan berkata seperti itu Pak, lagipula yang bayar biaya istri Bapak itu bukan saya tapi Mas ini," seru Mika dengan menunjuk Bian.


"Terima kasih Mas, oh iya, Mas ini siapa?"


"Saya suami Mika," sahut Bian dengan santainya.


"Hah...."


Mika tampak terkejut dengan ucapan Bian, sedangkan Pak Usman terlihat tersenyum.


"Ternyata Bu Bidan sudah menikah ya, saya pikir Bu Bidan masih gadis soalnya tidak terlihat sudah menikah."


Mika hanya bisa tersenyum canggung, seketika Mika tersentak saat Bian menarik tangan Mika.


"Ah iya, silakan Mas."


Bian pun membawa Mika ke taman rumah sakit dan duduk di kursi taman itu.


Sesaat keduanya tampak terdiam, Mika terlihat meremas tangannya sendiri saking gugupnya.


"Apa kabar, Mika!"


"Mi-mika ba-baik A, eh maksud Mika baik Mas," sahut Mika gugup.


"Kenapa panggilannya dirubah? kamu kan, biasa panggil aku dengan sebutan AA."


"Itu kan, dulu saat Mas jadi suami Mika, kalau sekarang Mas bukan suami Mika lagi," lirih Mika dengan menundukkan kepalanya.


"Siapa bilang, aku bukan suami kamu lagi? kita belum bercerai, Mika."


"Ingatan Mas sudah kembali, dan Mas sudah punya istri. Mika tidak mau jadi penghalang kebahagiaan kalian, Mika wanita dan istri Mas pun wanita, Mika bisa ngerasain bagaimana sakitnya istri Mas kalau mengetahui Mas punya istri lagi, jadi lebih baik Mika mengalah saja," sahut Mika dengan masih menundukkan kepalanya.


Bian menggenggam tangan Mika dan itu membuat Mika terkejut.


"Mika, lihat aku."


Perlahan Mika menatap mata Bian, mata yang dulu penuh cinta kepadanya tidak pernah berubah.


"Aku memang sudah punya istri, tapi aku sudah menceraikannya."

__ADS_1


Mika terlonjak kaget. "Kenapa Mas, menceraikannya? apa semua itu karena Mika?"


Bian menggelengkan kepalanya. "Ternyata, selama ini dia sudah berselingkuh di belakangku dengan temanku sendiri, bahkan aku kecelakaan dan mengalami amnesia, itu semua perbuatan dia dan selingkuhannya."


Mika tampak membelalakkan matanya mendengar penjelasan dari Bian.


"Kenapa, dia begitu jahat?"


"Maka dari itu, aku sudah menceraikannya dan beruntung ingatanku semuanya sudah kembali. Aku ingat semuanya tentang hubungan kita, dan aku juga minta maaf karena aku sempat melupakanmu dan membuat anak kita harus meninggal sebelum melihat Papa sama Bundanya."


Airmata Mika kembali menetes, Mika paling tidak bisa menahan airmata kalau sudah mengingat calon anaknya.


Bian langsung menarik tubuh Mika ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku Mika, maaf."


"Tidak Mas, Mas tidak salah Mika yang terlalu mencintai Mas jadi Mika tidak memikirkan dampak yang akan terjadi jika ingatan Mas kembali. Mika egois terlalu ingin memiliki Mas, sampai-sampai Mika berdo'a kalau ingatan Mas jangan sampai sembuh," seru Mika dengan deraian airmata.


Bian sangat senang mendengarnya, Bian tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya.


Untuk sesaat mereka saling berpelukan menyalurkan rasa rindu yang selama ini mereka rasakan, bahkan kalau bukan di rumah sakit, mereka tidak mau melepaskan pelukan mereka.


Hingga akhirnya Bian pun melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Mika dengan Ibu jarinya.


"Sudah jangan menangis lagi, kamu mau kan kembali bersamaku? kita mulai lagi dari awal, kita jalani rumah tangga kita dengan penuh kebahagiaan."


Mika tersenyum dan menganggukkan kepalanya membuat Bian ikut tersenyum bahagia.


"Oh iya, aku minta panggilan kamu jangan berubah karena aku suka panggilan kamu yang dulu."


"Iya A."


"Bu Bidan...Bu Bidan!" teriak Pak Usman.


Mika langsung berdiri dan menghampiri Pak Usman.


"Ada apa, Pak?" tanya Mika panik.


"Tidak apa-apa Bu Bidan, saya hanya ingin memberitahukan kalau istri saya sudah selesai di operasi dan Alhamdulillah selamat bersama anak kami."


"Alhamdulillah, ya sudah, aku mau lihat Bu Aisyah. Yuk, A."


Bian dan Mika pun ke ruangan di mana Bu Aisyah dirawat. Mika tampak tersenyum dan menggendong bayi yang berjenis kelamin perempuan itu.


"Ya Allah, lucu sekali kamu sayang."


Bian menghampiri Mika dan merangkul Mika. "Kita juga pasti akan segera mempunyai anak lagi."


"Amin."


"Bu Bidan, ini siapa?" tanya Bu Aisyah.


"Ini suami aku, Bu."


"Ya Allah, saya kira Bu Bidan itu masih gadis ternyata sudah punya suami, mana tampan pula suaminya cocok sama Bu Bidan yang cantik," seru Bu Aisyah.


Mika dan Bian saling pandang sembari tersenyum.


"Bu Bidan, terima kasih ya sudah membantu biaya persalinan istri saya, semoga Bu Bidan dan Mas nya selalu diberikan kebahagiaan," seru Pak Usman.

__ADS_1


"Amin."


Mika dan Bian tersenyum bersama, sungguh saat ini mereka sangat bahagia.


__ADS_2