Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Kehancuran Ririn


__ADS_3

Keesokan harinya....


Bian mulai meregangkan tubuhnya, ternyata semalaman dia tidur di sofa dengan memeluk foto Mika.


"Mika, kamu tenang saja, aku akan balaskan semua rasa sakit yang sudah kamu rasakan jangan sampai mereka bersenang-senang di atas penderitaan kita," geram Bian.


Bian mencium foto Mika kemudian menyimpannya di atas nakas, sedangkan foto pernikahannya dengan Ririn, sudah Bian buang entah ke mana.


Bian pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sementara itu, di kediaman kedua orangtua Ririn. Ririn masih saja bergelung dengan selimutnya.


"Ma, sepertinya ada yang aneh dengan Ririn, dia sudah dua hari menginap di sini tapi anehnya Bian sama sekali tidak datang ke sini, Papa yakin kalau Ririn dan Bian sedang ada masalah," seru Papa Yudi.


"Mama juga gak tahu Pa, apa perlu Mama hubungi Bian?"


"Hubungi saja Ma, biar kalau mereka ada masalah, kita bisa bantuin menyelesaikannya," sahut Papa Yudi.


Baru saja Mama Yulia ingin menghubungi Bian, tiba-tiba ARTnya menghampiri dan memberikan sebuah amplop coklat.


"Maaf Tuan, Nyonya, barusan ada yang mengirim amplop ini katanya dari kantor pengadilan agama," seru ART.


"Hah....kamu boleh kembali bekerja."


"Baik Nyonya."


Papa Yudi membuka amplop itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa isi amplop itu yang ternyata surat gugatan cerai yang ditujukan kepada Ririn putri mereka.


Tangan Papa Yudi sampai bergetar membuat Mama Yulia merasa bingung.


"Papa kenapa?" tanya Mama Yulia khawatir.


Papa Yudi pun menyerahkan surat itu kepada istrinya dan Mama Yulia tidak kalah terkejutnya.


"Maksudnya apa ini, Pa?"


"Papa juga tidak tahu, yang jelas di sana tertulis kalau Biantara Ganendra menggugat cerai Ririn."


Keduanya tampak terdiam, mereka masih memikirkan kenapa semua ini sampai terjadi. Mama Yulia tampak geram, dia pun dengan cepat naik ke lantai dua untuk menanyakan langsung kepada Ririn.


Sesampainya di depan kamar Ririn, Mama Yulia langsung masuk beruntung pintunya tidak dikunci. Mama Yulia sangat marah, hingga dia pun menarik selimut Ririn membuat Ririn tersentak.


"Mama, Ririn masih ngantuk Ma."


"Bangun kamu Ririn, atau Mama akan mengguyur kamu dengan air!" bentak Mama Yulia.


Seketika Ririn membuka matanya, dia kaget mendengar bentakan Mamanya itu karena pasalnya selama ini Mamanya tidak pernah membentaknya.


"Mama kenapa?" tanya Ririn.


"Kenapa kamu bilang, seharusnya Mama yang tanya itu kepada kamu. Kamu kenapa, sampai-sampai Bian menggugat cerai kamu?" bentak Mama Yulia dengan melempar surat itu ke wajah Ririn.


Perlahan Ririn melihat kertas yang dilempar Mamanya itu dan betapa terkejutnya Ririn saat melihat kalau itu adalah surat gugatan cerai dari Bian.

__ADS_1


Seketika Ririn menelan salivanya dengan susah payah, sungguh Ririn tidak tahu harus menjawab apa.


"Pantas saja kamu tidak pulang-pulang, ternyata Bian sudah mau menceraikanmu. Apa yang sudah kamu lakukan, sampai-sampai Bian menggugat cerai kamu?"


Ririn semakin menundukkan kepalanya karena merasa takut kepada Mamanya itu.


"Jawab Ririn!" bentak Mama Yulia.


Airmata Ririn pun mulai menetes. "Maafkan Ririn, Ma."


"Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Selama ini Ririn masih berhubungan dengan Bima, dan Bian mengetahuinya," sahut Ririn.


"Apa? kamu benar-benar keterlaluan Ririn, Bian kurang apa? dia tampan, kaya raya, dan juga yang terpenting mencintai kamu, tapi kenapa kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?" geram Mama Yulia.


"Kenapa Mama menyalahkan Ririn? bukanya dulu Ririn sudah bilang, kalau Ririn sudah punya pacar tapi kalian tetap saja menikahkan Ririn dengan Bian, pria yang sama sekali tidak Ririn cintai," sahut Ririn dengan deraian airmata.


"Mama melakukan itu karena demi keluarga, kalau sampai dulu kamu tidak menikah dengan Bian, kamu tidak akan bisa tidur nyaman seperti ini, bahkan perusahaan Papamu yang sudah hampir bangkrut sekarang kembali bangkit malah semakin berkembang akibat bantuan keluarga Ganendra."


"Ma, Mama!"


Mama Yulia dan Ririn tersentak saat mendengar teriakan Papa Yudi, keduanya langsung berlari menuju meja makan. Tapi betapa terkejutnya keduanya saat melihat Papa Yudi sudah tergeletak di atas lantai dengan memegang dadanya.


"Papa....."


"Ririn, siapkan mobil kita bawa Papa ke rumah sakit!" teriak Mama Yulia.


"Baik Ma."


Mama Yulia dan Ririn tampak khawatir, mereka menunggu di kursi tunggu dengan perasaan yang sangat khawatir.


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dan Ririn segera menghampirinya.


"Bagaimana Dok, kondisi Papa saya?" tanya Ririn.


"Salah satu dari keluarga bisa ikut saya, ke ruangan saya."


"Baik Dok. Biar Ririn saja yang ke ruangan Dokter, Mama jaga Papa saja."


Ririn pun mengikuti Dokter ke ruangannya...


"Silakan duduk."


"Terima kasih, Dok."


"Pasien mengalami stroke akibat pembuluh darahnya tersumbat, pasien juga mengalami serangan jantung."


"Apa? terus, bagaimana sekarang keadaannya? apa Papa saya bisa sembuh?"


"Sekarang sudah mulai membaik, untuk penyembuhan stroke itu berbeda-beda bisa berbulan-bulan, atau sampai bertahun-tahun."


Ririn tampak syok mendengar penjelasan Dokter, dia tidak menyangka kalau Papanya akan mengalami seperti ini.

__ADS_1


"Untuk saat ini hanya terapi yang bisa pasien lakukan, kalau pasien rajin terapi, Insya Allah pasien akan cepat sembuh."


"Baik Dok, terima kasih."


Ririn pun keluar dari ruangan Dokter dengan langkah gontai, dia tidak tahu apa penyebab Papanya mengalami serangan jantung bahkan sampai stroke mendadak seperti ini.


Ririn pun masuk ke dalam ruangan rawat Papanya.


"Bagaimana Ririn, apa kata Dokter?" tanya Mama Yulia khawatir.


"Papa mengalami stroke Ma."


"Apa?"


"Dan Papa harus menjalani terapi."


Mama Yulia tak kalau terkejutnya dengan Ririn, tidak lama kemudian ponsel Papa Yudi pun berbunyi dan Ririn segera mengangkatnya.


"Apa?"


Lemas sudah lutut Ririn, dia terduduk di lantai dan itu membuat Mama Yulia khawatir. Ririn memutuskan sambungan teleponnya, kali ini Ririn benar-benar sudah bingung harus melakukan apa.


"Ada Ririn? siapa yang barusan menelepon?"


"Perusahaan Papa sudah di ambil alih oleh oleh Ganendra group, dan rumah kita pun sudah diambil oleh mereka. Kita harus mengosongkan rumah kita siang ini juga kalau tidak, barang-barang kita akan mereka buang," lirih Ririn dengan deraian airmata.


"Ini semua gara-gara kamu Ririn, puas kamu sekarang!" bentak Mama Yulia dengan deraian airmata.


"Maafkan Ririn, Ma."


"Percuma, semuanya sudah terlambat sekarang kita sudah tidak punya apa-apa lagi, Papa kamu sakit, rumah tidak ada, terus kita harus mencari uang dari mana untuk biaya rumah sakit dan pengobatan Papa kamu! kamu benar-benar keterlaluan Ririn!" geram Mama Yulia.


Ririn saat ini hanya bisa menangisi nasibnya sendiri, apa lagi saat ini dia melihat kondisi Papanya yang sangat mengkhawatirkan.


*


*


*


Ayo guys yang semangat ya, author ingatkan lagi untuk juara vote dan gift....


Juara vote...


Juara 1 : Poin 1k+Pulsa 50k


Juara 2 : Poin 1k+Pulsa 30k


Juara 3 : Poin 1k+Pulsa 20k


Juara gift....


Juara 1 : Poin 5k+Pulsa 100k

__ADS_1


Juara 2 : Poin ak+Pulsa 75k


Juara 3 : Poin ak+Pulsa 50k


__ADS_2