Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Pertemuan Mika Dan Ririn


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Bian baru saja selesai dengan pekerjaannya dia mengangkat kepalanya dan terlihat Mika sudah tertidur dengan posisi duduk.


Mika saking bosannya sampai tertidur karena terlalu lama menunggu Bian bekerja. Bian tampak menyunggingkan senyumannya, dia pun bangkit dan menghampiri Mika.


"Hai, kamu ngantuk ya?" seru Bian dengan mengelus pipi Mika.


Mika pun mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya.


"Astagfirullah, Mika ketiduran."


"Sudah waktunya makan siang, ayo kita makan."


Mika tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Bian menggenggam tangan Mika dan berjalan beriringan keluar dari kantor.


"Irwan, kali ini biar aku saja yang bawa mobil."


"Baik Tuan."


Irwan pun langsung menyerahkan kunci mobilnya kepada Bian dan Bian pun segera melajukan mobilnya ke sebuah restoran.


"Habis makan siang, kita ke butik langganan Mami soalnya kita harus fitting baju."


"Ngapain fitting baju? kita kan, hanya melakukan ijab kabul saja," sahut Mika.


"Walaupun cuma ijab kabul, tapi kan itu hari bersejarah buat kita berdua jadi harus spesial dong. Oh iya, memangnya kamu tidak mau melaksanakan resepsi pernikahan seperti yang dilakukan orang-orang?"


"Tidak A, tidak usah seperti itu ijab kabul saja sudah cukup."


"Kamu mau kita honeymoon ke mana?" tanya Bian.


"Perlu ya A, honeymoon?"


"Perlulah, supaya kita segera dapat momongan lagi."


"Terserah Aa sajalah, Mika mah ikut saja."


Bian pun tersenyum, Bian membelokan mobilnya ke sebuah restoran untuk makan siang terlebih dahulu.


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Bian.


"Apa sajalah A."


Bian pun segera memesankan makanan dan minuman untuk mereka berdua, tidak membutuhkan waktu lama pelayan pun datang dengan membawa pesanan Bian.


Mika dan Bian makan dengan tenang, tidak ada yang bicara sama sekali kadang sekali-kali, Bian menyuapi Mika. Mereka merupakan seperti pasangan yang baru pacaran, padahal usia mereka sudah tidak termasuk dalam jajaran anak muda.


Selesai makan siang, Bian pun mengajak Mika untuk fitting baju ke butik langganan Maminya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bian dan Mika pun sampai di butik.


"Ayo sayang," seru Bian dengan mengulurkan tangannya.


Tentu saja Mika membalas uluran tangan Bian dengan senang hati.

__ADS_1


"Tuan Biantara, silakan ikut saya."


Salah satu karyawan membawa Bian dan Mika ke ruangan khusus dan ternyata di sana sudah berjejer berbagai macam kebaya yang sangat bagus-bagus beserta dengan jas pasangannya.


"Sayang, kamu pilih saja mana yang kamu suka."


"Bagus-bagus sekali, A."


Mika pun dengan antusias, melihat-lihat kebaya itu dan Bian pun dengan senang hati mengikuti Mika dari belakang.


Pandangan Mika tertuju kepada salah satu kebaya berwarna Lilac soft dengan dipadu padankan dengan batik warna hitam itu.


"A, Mika suka yang ini."


"Cantik, seperti orang yang memilihnya."


"Apaan sih, A."


"Mba, kami ambil yang ini saja."


"Baik Tuan."


Bian dan Mika pun keluar, kemudian Bian membayar kebaya itu. Di saat Bian dan Mika sedang menunggu kebayanya di rapikan, tiba-tiba pintu butik pun terbuka. Bian dan Mika bersamaan menoleh, begitu pun dengan sepasang manusia yang baru datang itu.


Keempatnya terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Ayo sayang, kamu pilih saja baju yang mau kamu beli untuk pernikahan kita," seru Bima dengan senyuman sinisnya sembari melirik ke arah Bian.


Ririn langsung mencari-cari kebaya untuk acara pernikahannya dengan Bima, hingga Ririn pun melihat seorang karyawan yang sedang merapikan kebaya milik Mika.


"Mba, aku mau kebaya yang ini," seru Ririn.


"Maaf Mba, ini kebaya punya istrinya Tuan Biantara."


Bian yang mendengar itu, langsung menghampiri karyawan Butik.


"Cepat kamu rapikan kebayanya, takutnya ada orang yang ingin merebutnya," sindir Bian.


Bima menghampiri Bian dan mendorong tubuh Bian.


"Maksud kamu apa? jangan sembarangan kalau ngomong."


Bian menepuk-nepuk jasnya yang disentuh Bima.


"Tuan ini kebayanya sudah selesai."


"Sayang, ayo kita pulang," ajak Bian.


Bian pun menggandeng tangan Mika tanpa mau memperdulikan kedua orang itu.


"Kebaya itu bagus banget, sayang," rengek Ririn.


"Sudah, kamu pilih yang lain saja masih banyak kebaya yang bagus kok," sahut Bima.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan Bian tampak kesal, dan Mika bisa tahu itu. Mika pun mengelus tangan Bian dengan lembut.


"AA tidak apa-apa, kan?"


Bian tersentak, dia lupa kalau saat ini di sampingnya ada Mika.


"Ah iya, aku tidak apa-apa kok, sayang."


Bian memutuskan untuk membawa Mika pulang, karena pekerjaan pun sudah selesai.


Sementara itu, setelah selesai memesan kebaya di tempat yang sama, Bima pun mengantarkan Ririn ke apartemennya karena hari ini Bima akan kembali ke restoran.


"Sayang, ingat pernikahan kita bulan depan jangan sampai kamu macam-macam," seru Ririn.


"Macam-macam apa, aku kan sudah cinta mati sama kamu sayang," sahut Bima.


Bima pun memeluk dan mencium kening Ririn, setelah itu Bima pun pamit untuk pergi ke restoran. Bima saat ini tinggal di rumahnya karena apartemen miliknya sudah di tempati oleh Ririn dan kedua orangtuanya.


Ririn melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen, di saat Ririn masuk, ternyata Mama Yulia sedang menangis di samping suaminya yang saat ini hanya bisa terdiam.


"Loh, Mama kenapa?" tanya Ririn khawatir.


"Obat Papa kamu sudah habis Ririn, sedangkan Mama sudah tidak punya uang lagi."


Ririn terdiam, dia juga sudah tidak punya uang bahkan biaya makan sehari-hari sudah Bima yang menanggungnya.


"Ririn juga tidak punya uang Ma, nanti Ririn coba bicara kepada Bima."


Ririn dan kedua orangtuanya saat ini hanya mengandalkan Bima, karena mereka memang sudah tidak punya apa-apa lagi.


***


Sore pun tiba....


Mama Nuri dan Ayah Rusdi baru saja sampai di kediaman Ganendra, mereka disambut hangat oleh kedua orangtua Bian.


Mika sangat bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Pak Rusdi, Bu Nuri, besok adalah pernikahan ulang antara Mika dan Bian, semoga anak-anak kita selalu bahagia ya," seru Mami Maharani.


"Amin."


"Kalian rencananya mau bulan madu ke mana?" tanya Papi Ganendra.


"Bian ada pertemuan dengan Tuan Takashi di Jepang, jadi sepertinya Bian mau ajak Mika bulan madu ke Jepang saja," sahut Bian dengan senyumannya.


"Lah, kok bulan madu malah bekerja sih?" kesal Mami Maharani.


"Pertemuan Bian dan Tuan Takashi hanya satu hari kok Mi, habis itu Bian akan fokus sama Mika."


"Soalnya Mami ingin cepat-cepat punya cucu."


Wajah Mika tampak merah saat mendengar permintaan Mami mertuanya itu, sedangkan kedua orangtua Mika ikut tersenyum melihat orangtua Bian yang ternyata sangat menyayangi Mika.

__ADS_1


__ADS_2