
Bian pulang ke rumahnya dan ternyata Mika masih terlelap tidur, Bian pun merebahkan tubuhnya di samping Mika dan menyusul Mika ke alam mimpinya.
Bian selama ini memang bekerja sama dengan Sonia untuk menjebak Bima, Bima memang sudah mempunyai hutang ke sebuah perusahaan dan perusahaan itu juga sudah bekerja sama dengan Bian, maka dari itu Bian menyuruh Sonia untuk mengambil surat kepemilikan restoran Bima.
Ririn pun ditangkap Polisi di apartemennya, dan kedua orangtua Ririn diserahkan ke panti jompo supaya ada yang mengurus mereka. Panti jomponya pun bukan sembarangan panti jompo, Bian mengirim mereka ke panti jompo yang mewah sehingga mereka akan merasa nyaman tinggal di sana.
Mika mulai merentangkan kedua tangannya, dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 17.00 sore.
"Ya Allah, sudah sore ternyata," gumam Mika.
Dilihatnya Bian masih terlelap dalam tidurnya, Mika pun mencium pipi Bian setelah itu dia pun bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya biar terasa segar.
Setelah selesai mencuci wajah dan berganti pakaian, Mika pun turun ke bawah untuk memasak makan malam.
"Bi, biar aku bantuin ya," seru Mika.
Bi Imah kaget saat melihat Nyonya rumah itu turun ke bawah dan menemuinya ke dapur.
"Jangan Nyonya, kotor nanti bau bumbu loh."
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa kok, jadi Bibi jangan khawatir."
"Nanti kalau Tuan marah bagaimana?"
"Tuan tidak akan marah, tenang saja."
Bi Imah pun hanya bisa pasrah, dia tidak bisa menolak keinginan Nyonya rumahnya itu. Satu jam pun berlalu, Mika dan Bi Imah sudah selesai masak.
"Bi, tolong tata di meja makan ya, saya mau mandi dulu."
"Baik Nyonya."
Mika pun segera masuk ke dalam kamarnya dan cepat-cepat menuju kamar mandi, soalnya badannya sudah gerah dan bau masakan juga.
Tidak membutuhkan waktu lama, Mika pun selesai mandi dan berganti pakaian. Mika tampak tersenyum saat melihat suaminya masih terlelap tidur.
"A, bangun sudah sore sebentar lagi waktunya makan malam," seru Mika dengan lembut.
Bian mulai menggerakkan tubuhnya, dipeluknya Mika dengan sangat erat membuat Mika kaget.
"Hai, ayo bangun jangan seperti ini."
"Kamu harum sekali, apa kamu sudah mandi?" tanya Bian dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah dong, aku sudah masak dan sudah mandi sekarang giliran AA yang mandi habis itu kita makan malam sama-sama."
Bian pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia menikah denganku, sayang?"
"Kenapa AA bertanya seperti itu? tentu saja Mika sangat bahagia menikah dengan AA."
"Apa kamu tidak menyesal Sayang?"
"Tidak sama sekali."
"Kamu harus janji kepadaku, kalau kamu akan selalu berada di sampingku saat suka mau pun duka karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu lagi," seru Bian.
Mika tersenyum. "Tanpa diminta pun, Mika akan selalu berada di samping AA, jadi AA tidak usah khawatir."
Bian pun menarik tengkuk leher Mika dan mencium bibir Mika tapi dengan cepat Mika segera melepaskannya karena Mika tahu, kalau dilanjutkan akan panjang urusannya.
"Sudah sana mandi, Mika tunggu di bawah."
Bian menyunggingkan senyumannya dan bangkit dari tidurnya lalu masuk ke kamar mandi. Sedangkan Mika, menyiapkan pakaian untuk Bian terlebih dahulu.
Setelah menikah, Mika memang sudah terbiasa menyiapkan semua kebutuhan suaminya itu, maka dari itu Bian pun sudah terbiasa disiapkan oleh sang istri makan kalau Mika tidak ada, sudah dipastikan Bian akan kesusahan.
***
3 bulan kemudian....
Mika terbangun di jam 12 malam, dia segera ke kamar mandi karena perutnya terasa sangat mual. Mika muntah-muntah di sana, setelah selesai, Mika pun keluar dari kamar mandi.
"Aku baru sadar, kalau aku sudah telat dua Minggu. Alhamdulillah ya Allah, mudah-mudahan kali ini engkau kembali memberikan kepercayaan kepadaku dan juga suamiku," batin Mika dengan mengusap perutnya.
Mika sangat yakin, kalau kali ini dia kembali hamil. Selain dia tahu karena dia seorang Bidan, Mika juga merasakan hal yang aneh.
Mika melihat ke arah Bian yang sedang terlelap tidur, diusapnya kepala Bian dengan penuh kasih sayang.
"Kamu akan segera menjadi seorang Papa lagi, A," bisik Mika.
Bian tampak menggerakkan tubuhnya tapi Bian tidak bangun, dia pun memeluk Mika dan tentu saja, Mika membalas pelukan suaminya itu.
Keesokan harinya...
"A, hari ini Mika mau ke rumah Mami Maharani dulu ya? soalnya Mika sudah rindu kepada Mami," seru Mika disela-sela memakaikan dasi Bian.
"Baiklah, nanti aku antarkan kamu dulu sebelum berangkat ke kantor."
Bian pun mengantarkan Mika ke rumah kedua orangtuanya.
"Sayang, aku langsung ke kantor ya soalnya pagi ini ada meeting, nanti kalau kamu mau pulang, kamu minta anterin sopir Mami saja," seru Bian.
"Iya, gampang itu mah."
__ADS_1
Bian pun mencium seluruh wajah Mika, Mika mencium punggung tangan Bian dan setelah itu keluar dari mobil Bian.
Sebenarnya tujuan Mika datang ke rumah Mami mertuanya karena Mika ingin Mami Maharani mengantarkannya ke rumah sakit untuk diperiksa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ya Allah menantu kesayangan Mami ada apa pagi-pagi sudah berkunjung?" tanya Mami Maharani.
"Mi, Mika ingin minta tolong antarkan Mika ke rumah sakit."
"Apa? rumah sakit? memangnya kamu sakit apa?"
"Mika sehat kok Mi, Mika tidak apa-apa."
"Terus, kamu mau ngapain ke rumah sakit?"
"Mika ingin memeriksakan kandungan Mika."
"Apa? kamu hamil Mika?"
"Sepertinya begitu, Mi," sahut Mika dengan senyumannya.
"Ya Allah."
Mami Maharani memeluk Mika dengan sangat erat, bahkan Mami Maharani terlihat meneteskan airmatanya.
"Mami senang sekali Mika, akhirnya Mami akan mendapatkan cucu juga."
Mami Maharani dan Mika pun menuju rumah sakit, dan setelah diperiksa ternyata benar saat ini Mika sedang mengandung dan usia kandungannya baru saja dua Minggu persis seperti dugaan Mika.
"Mami, Mika mau ke kantor A Bian."
"Ya sudah, biar sopir Mami antarkan kamu ke sana."
Mami Maharani pun mengantarkan Mika ke kantor Bian, tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai di kantor.
"Sayang, Mami tidak ikut masuk karena Mami ada arisan sama teman-teman Mami."
"Iya, terima kasih Mami sudah antar Mika."
"Pokoknya Mami minta, kamu harus jaga kesehatan dan jangan terlalu capek karena Mami tidak mau kamu dan calon cucu Mami kenapa-napa."
"Iya Mami."
"Ya sudah, Mami pergi dulu sampaikan salam Mami untuk Bian."
"Iya Mami."
__ADS_1
Mami Maharani pun memeluk dan mencium pucuk kepala menantunya itu, Mami Maharani sangat senang dan sayang kepada Mika karena Mika adalah menantu yang sangat baik dan tentunya menyayangi dan mencintai Bian dengan tulus.