Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Mengingat Semuanya


__ADS_3

1 Minggu kemudian...


Mika sudah kembali lagi ke kampung, Mika terus saja mengurung diri di kamar membuat Ayah dan Mamanya merasa sangat khawatir.


Mika menggenggam erat sebuah map yang isinya entah apa, hanya Mika yang tahu.


Tok..tok..tok..


"Mika, apa Mama boleh masuk!"


"Masuk saja Ma."


Mama Nuri pun akhirnya masuk dan duduk di hadapan Mika.


"Kamu lagi apa?"


"Ma, Mika mau minta izin kepada Mama, teman Mika yang sedang bertugas di Banten meminta Mika untuk membantunya. Dia merasa kewalahan soalnya tenaga medis di sana banyak yang memilih pulang, sedangkan teman Mika harus bertahan di sana karena dia merasa kasihan pada masyarakat di sana yang sangat membutuhkan tenaga medis. Dia juga bilang kalau saat ini banyak Ibu-ibu hamil yang kurang gizi, jadi dia minta Mika untuk bantuin dia di sana, apa Mama mengizinkan Mika?" seru Mika.


Mama Nuri tampak terdiam, entah apa yang harus dia katakan.


"Pergilah Nak, Ayah mengizinkanmu untuk ke sana," seru Ayah Rusdi dari balik pintu.


Mika dan Mama Nuri tampak terkejut, mereka tidak tahu kalau dari tadi Ayah Rusdi mendengarkan percakapan antara keduanya.


"Ayah serius?" tanya Mika tidak percaya.


Ayah Rusdi menghampiri Mika dan mengusap kepala Mika dengan penuh kasih sayang.


"Sekarang Ayah tanya, apa Eneng ingin pergi ke sana? jawab dengan jujur."


"Iya Yah, kasihan teman Mika dan hati Mika juga rasanya terpanggil untuk membantu teman Mika itu," sahut Mika mantap.


"Pergilah, Ayah mengizinkan kamu. Ayah berharap semoga dengan kamu pergi ke sana, kamu bisa melupakan semuanya dan memulai hidup baru di sana. Karena dengan kamu menyibukkan diri, itu akan mempercepat kamu untuk bisa melupakan semuanya."


Mika tersenyum dan langsung memeluk Ayahnya itu. "Terima kasih, Yah."


"Iya Neng."


***


Sementara itu di kediaman Ganendra...


Semenjak kepulangan Bian dari rumah sakit, Bian belum juga masuk ke kantor karena kadang-kadang rasa sakit di kepalanya itu suka datang kalau Bian sedang memikirkan Mika.

__ADS_1


Begitu pun dengan Irwan, dia belum memberitahukan tentang bukti-bukti yang dia temukan mengenai Ririn, karena Irwan takut kondisi Bosnya itu semakin memburuk.


"Astaga, si Bian kapan tidurnya sih? aku kan mau pergi menemui Bima," batin Ririn.


Selama satu Minggu ini Ririn tampak kesal, karena dia tidak bisa ke mana-mana bahkan dia tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya.


"Bi, ini kamu minum obat dulu, habis itu kamu istirahat biar cepat pulih," seru Ririn dengan memberikan obat kepada Bian.


Tanpa ekspresi apa pun, Bian pun mengambil obat dan air minum dari tangan Ririn dan kemudian Bian meminum obat itu. Tidak membutuhkan waktu lama, Bian mulai menguap dan lama-kelamaan mata Bian pun mulai sayu.


Ririn segera membenarkan posisi Bian supaya Bian merebahkan tubuhnya, dan benar saja tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bian pun terlelap.


"Akhirnya tidur juga," batin Ririn.


Dengan langkah yang mengendap-endap, Ririn pun mengambil tasnya dan keluar dari kamar itu.


"Kamu mau ke mana, Ririn?" tanya Papi Ganendra.


"Eh Papi, Ririn mau ke rumah Mama sebentar barusan Mama menghubungi Ririn katanya antar periksa ke Dokter," dusta Ririn.


"Oh, terus Bian bagaimana?"


"Bian baru saja tidur Pi, dia baru minum obat."


"Kalau begitu Ririn pergi dulu ya, Pi."


Dengan setengah berlari, Ririn pun akhirnya segera pergi meninggalkan rumah itu, Mami Maharani yang baru saja keluar dari kamarnya tampak mengerutkan keningnya.


"Ririn mau ke mana lagi, Pi?"


"Entahlah, akhir-akhir ini dia memang sering pergi bahkan dia pun rela meninggalkan Bian yang sedang sakit."


Mami Maharani dan Papi Ganendra memang sudah mulai curiga kepada Ririn, kelakuan Ririn sangat mencurigakan.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA MIKAYLA DIANDRA BINTI RUSDI DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR, TUNAI."


"Bagaimana saksi, sah?"


"Saaaaaahhhhh....."


Mika terlihat mencium punggung tangan Bian dan Bian mencium kening Mika.


"A, Mika harap kalau Aa tidak akan pernah meninggalkan Mika."

__ADS_1


"Aku janji, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Mika."


Wajah Bian sudah sangat berkeringat, kali ini dia bermimpi sangat jelas hingga akhirnya Bian pun terbangun dengan napas yang memburu.


"Mika, istriku. Ya, sekarang aku ingat semuanya," gumam Bian.


Bian segera bangun dan dengan cepat berlari menuruni anak tangga, membuat Mami Maharani dan Papi Ganendra terkejut.


"Bian, kamu kenapa sayang?" tanya Mami Maharani khawatir.


"Mi, Pi, Bian sudah ingat semuanya."


"Ingat apa?" tanya Papi Ganendra.


"Di saat Bian kecelakaan satu tahun yang lalu, Bian ditemukan oleh satu keluarga yang sangat baik. Bian mengalami amnesia dan dengan baiknya keluarga itu mengurus Bian dan memberi Bian tempat tinggal. Setelah itu Bian menikah dengan anak mereka yang bernama Mika dan Mika saat ini sedang mengandung anak Bian."


"Apa?"


Mami Maharani dan Papi Ganendra tampak kebingungan dan saling pandang.


"Jadi maksud kamu, wanita yang kamu ceritakan bertemu kamu di restoran itu adalah istri kamu?" seru Mami Maharani.


"Iya Mi, Bian benar-benar sangat berdosa karena tidak mengenali istri Bian sendiri bahkan Bian tidak menolong Mika saat Ririn mendorongnya, bahkan waktu itu Mika dirawat di rumah sakit yang sama dengan Bian tapi waktu itu Bian belum mengingatnya," seru Bian.


Bian duduk di sofa dan menjambak rambutnya sendiri merasa sangat frustasi, begitu pun dengan kedua orangtuanya yang merasa bingung juga.


"Pi, tolong bantuin Bian untuk menemukan Mika."


"Kamu tidak ingat, Mika tinggal di mana?" tanya Mami Maharani.


"Tidak Mi, Bian hanya ingat hubungan Bian saja soal tempat tinggal yang Mika tinggalin, Bian tidak tahu."


"Terus kita mau cari dia ke mana, kalau kamu tidak tahu tempatnya," seru Papi Ganendra.


"Please, Carikan Mika, Bian sangat khawatir dengan keadaan Mika dan calon anak Bian," seru Bian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Mami Maharani memeluk anaknya, sedangkan Papi Ganendra tampak bingung dengan semua ini.


"Kalau kamu benar-benar menikahi wanita itu, terus bagaimana dengan Ririn."


"Iya sayang, pasti Ririn akan sangat terluka," sambung Mami Maharani.


"Ririn biar jadi urusan Bian, sekarang yang terpenting Bian harus bertemu dengan Mika dan meminta maaf atas apa yang sudah Bian lakukan kepadanya. Pasti Mika sangat sedih dan Bian tidak bisa membiarkan Mika sedih seperti itu, selain Mika adalah istri dan calon Ibu anak Bian, keluarga Mika juga sudah berjasa dalam hidup Bian karena kalau tidak ada mereka, entah bagaimana nasib Bian waktu itu," sahut Bian.

__ADS_1


Ketiganya seketika langsung terdiam, mereka sedang memikirkan langkah apa yang akan mereka lakukan.


__ADS_2