Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Menuju Kehancuran Bima


__ADS_3

Keesokan harinya....


Seorang wanita cantik dan seksi memasuki sebuah restoran.


"Maaf Mba, Bimanya ada?"


"Ada, Mba dengan siapa?" tanya si pelayan.


"Saya Sonia, temannya."


"Apa Mba sudah janjian dengan Pak Bima?"


"Sudah," dustanya.


"Baik, kalau begitu Mba ikut saya."


Si pelayan restoran itu pun mengajak Sonia naik ke lantai dua tempat di mana ruangan Bima berada.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Permisi Pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak."


"Siapa?"


Si pelayan baru saja ingin membuka mulutnya, tapi Sonia dengan cepat masuk menemui Bima.


"Halo sayang."


Seketika Bima membelalakkan matanya melihat siapa yang sudah datang menemuinya. Bima segera menutup pintu ruangannya.


"Ngapain kamu ke sini? apa kemarin bayaran kamu kurang?" sentak Bima.


"Tidak, aku hanya ingin bertemu saja denganmu," seru Sonia dengan mengelus pipi Bima.


Bima menghindar dan menghempaskan tangan Sonia.


"Jangan seperti ini Sonia, ngapain kamu ke sini? cepat pergi dari sini sebelum Ririn datang."

__ADS_1


"Kapan kita bersenang-senang lagi?"


"Sepertinya tadi malam yang terakhir, karena sebentar lagi aku akan menikah dan aku tidak akan bermain-main lagi," sahut Bima.


"Kenapa seperti itu? padahal aku ingin kita menjalin hubungan lebih dari sekedar ini, aku sudah jatuh cinta sama kamu Bima."


"Kamu jangan berlebihan Sonia, aku hanya bersenang-senang saja denganmu tidak untuk serius karena yang akan menjadi istriku hanyalah Ririn seorang," sahut Bima.


Sonia mengeluarkan minuman kaleng dari dalam tasnya, kemudian melihat Bima lengah, Sonia membuka kaleng itu dan memasukan sesuatu ke minuman tersebut.


"Baiklah, kalau begitu bisa dong kita minum-minum untuk yang terakhir kalinya."


Bima tampak terdiam tapi kalau tidak di turuti, Sonia tidak akan pergi dari sana.


"Oke, tapi setelah ini kamu harus pergi dari sini, soalnya sebentar lagi Ririn pasti akan datang."


"Siap."


Sonia dan Bima pun berbincang-bincang sebentar sembari meminum minuman yang dibawa oleh Sonia. Sonia tampak menyunggingkan senyumannya, dan dalam hitungan detik Bima mulai mabuk dan lemas.


Sonia tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung mencari sesuatu dan yang Sonia cari adalah surat kepemilikan restoran itu.


Sonia terus mencarinya, hingga akhirnya dia pun bisa menemukannya di laci meja kerja Bima.


"Akhirnya, aku bisa menemukannya," gumam Sonia.


Sonia segera menghampiri Bima yang saat ini sudah terkapar dengan setengah sadar.


"Kamu harus tanda tangani ini?" seru Sonia.


"Ini apa?" tanya Bima bingung.


Kepalanya terasa sangat pusing, bahkan pandangannya pun terlihat kabur jadi Bima tidak bisa melihat dengan jelas.


"Ini adalah surat perjanjian, kalau mulai sekarang aku tidak akan mengganggu kamu lagi, jadi kalau aku datang dan mengganggu kamu lagi, kamu bisa tuntut aku," dusta Bima.


Bima yang memang sudah terasa sangat pusing, tidak memikirkan apa lagi. Dia langsung menandatangani surat kepemilikan restoran itu dengan tangannya di tuntun oleh Sonia.


Setelah selesai menandatanganinya, Bima pun akhirnya jatuh tak sadarkan diri membuat Sonia tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Dasar pria bodoh," gumam Sonia.


Sonia segera keluar dari ruangan Bima dengan membawa surat itu, lalu masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi meninggalkan restoran milik Bima, tujuannya kali ini adalah apartemen Bima yang ditempati oleh Ririn.


***


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil Sonia pun sampai di apartemen Bima. Sonia langsung menuju apartemen yang ditempati oleh Ririn.


Sementara itu Ririn benar-benar kesal kepada Bima, bisa-bisanya Bima tidak datang ke apartemen.


"Ma, Ririn ke restoran Bima dulu ya."


"Iya, hati-hati."


Ririn pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi di saat Ririn membuka pintu ternyata sudah ada seorang wanita cantik nan seksi yang berada di depan pintu apartemen itu.


"Mba siapa?" tanya Ririn.


"Ini alamat apartemennya Bima kan? Bukanya ada?" tanya wanita itu.


"Bima? Mba siapanya Bima?" tanya Ririn mulai curiga.


"Kenalkan nama aku Sonia, aku pacarnya Bima."


"Apa? kamu jangan bercanda, Bima itu calon suami aku dan bulan depan aku akan menikah dengannya," geram Ririn.


"Iyakah? barusan aku dari restoran dia, katanya aku disuruh istirahat di sini tapi kok ada orang sih? gimana si Bima," seru Sonia dengan pura-pura bingung.


Dada Ririn begitu sesak, emosinya memuncak, akhirnya Ririn memilih meninggalkan Sonia dan dengan cepat keluar apartemen dan tujuannya adalah restoran Bima.


"Selamat bersenang-senang kalian berdua," seru Sonia dengan senyumannya.


Sonia pun masuk ke dalam mobilnya, lalu mengotak-ngatik ponselnya mencari nomor seseorang.


📞"Tuan, saya sudah mendapatkan surat kepemilikan restoran Bima, dan saya juga sudah membuat Ririn tahu dengan hubunganku bersama Bima," seru Sonia.


📞"............"


📞"Terima kasih Tuan, senang bekerja sama dengan anda."

__ADS_1


Sonia memutuskan sambungan teleponnya, lalu Sonia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Bima.


__ADS_2