Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Menangis Bahagia


__ADS_3

Mika melangkahkan kakinya menuju ruangan Bian, semua karyawan tampak membungkukkan badannya saat melihat istri sang Bos lewat membuat Mika merasa canggung.


"Selamat siang, Nyonya."


"Mas Irwan, A Bian ada?"


"Ada Nyonya, baru saja masuk ke ruangannya."


"Ya sudah, aku masuk dulu."


Ceklek....


Mika pun masuk ke dalam ruangan Bian membuat Bian menoleh ke arah pintu.


"Sayang, kok kamu ke sini?"


Bian bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan istri tercintanya dengan pelukan hangat dan ciuman di keningnya.


"Iya, tadi Mika langsung ke sini soalnya kalau pulang ke rumah bosan harus diam sendirian," sahut Mika dengan manjanya.


"Kok istriku jadi manja sekarang?"


"Memangnya Mika gak boleh manja ya sama Aa?"


"Ishh...bukanya begitu, aku senang kalau kamu manja seperti ini."


Bian pun mengajak Mika untuk duduk di sofa.


"Mika ingin makan mie ayam A, minumnya jus alpukat," seru Mika.


Bian menatap Mika dengan mengerutkan keningnya.


"Kenapa AA menatap Mika kaya gitu?" tanya Mika bingung.


"Yakin mau makan mie ayam?"


"Yakinlah, tapi beli mie ayamnya dari gerobak-gerobak pinggir jalan jangan dari restoran."


"Oke, sebentar aku panggilkan Irwan dulu."


Bian hendak bangkit dari duduknya, tapi Mika malah menahan tubuh Bian dan memeluknya dengan erat.


"Sayang, aku mau panggil Irwan dulu."


"Gak mau, AA harus tetap di sini jangan ke mana-mana."

__ADS_1


"Lah, terus mau manggilnya bagaimana?"


Mika terus saja mengendus-ngendus tubuh Bian membuat Bian merasa geli.


"Kamu apaan sih sayang, geli tahu."


"Mika suka wangi badan AA, rasanya gak mau jauh-jauh dari AA."


Bian lagi-lagi mengerutkan keningnya, dia merasa bingung dengan kelakuan istrinya hari ini.


"Sayang, hari ini kamu kenapa? kok, rasanya aneh?" tanya Bian.


Mika tersadar, dia pun segera merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


"Mika punya sesuatu buat AA."


"Apa?"


Mika pun mengeluarkan hasil pemeriksaan dan USG dari sebuah rumah sakit.


"Ini."


Bian memperhatikan hasil USG itu dengan seksama, mata Bian mulai berkaca-kaca melihatnya.


"Iya A, dan usianya baru dua Minggu."


"Alhamdulillah, ya Allah."


Bian memeluk Mika dan menciumi seluruh wajah Mika saking bahagianya.


"Akhirnya aku bakalan jadi Papa lagi."


"Apa AA bahagia?"


"Bahagia banget, sayang."


Tidak terasa airmata Bian pun menetes dan Mika dengan cepat menghapusnya.


"Jangan menangis."


"Ini tangisan bahagia, sayang. Aku saking bahagianya sampai-sampai tidak bisa menahan air mataku," sahut Bian.


Mika pun memeluk suaminya itu, hingga Bian pun tersadar dan melepaskan pelukan Mika.


"Bukanya tadi kamu mau mie ayam, sebentar aku panggil Irwan dulu."

__ADS_1


Bian langsung bangkit dari duduknya dan segera memanggil Irwan untuk membelikan mie ayam dan jus alpukat yang tadi di minta oleh istrinya itu.


"Irwan, tolong kamu belikan mie ayam sama jus alpukat ya buat istri saya."


"Baik Tuan."


"Mas Irwan, mie ayamnya yang di pinggir jalan ya jangan beli di restoran," seru Mika.


"Siap Nyonya."


"Istri saya sedang hamil, Irwan," seru Bian dengan antusias.


"Alhamdulillah, selamat ya Nyonya, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Irwan pun segera pergi untuk membelikan pesanan Mika, sedangkan Bian kembali memeluk istrinya itu. Sungguh saat ini Bian merasa sangat bahagia, akhirnya dia akan dianugerahi seorang anak lagi.


"Pokoknya mulai sekarang, kamu jangan capek-capek lagi, jangan masak lagi, kamu diam saja jangan banyak bergerak," seru Bian.


"Oh iya, AA lihat dengan benar-benar gambar USG itu."


Bian kembali memperhatikan gambar USG tapi Bian tidak mengerti dan tidak tahu dengan yang di maksud oleh istrinya itu.


"Aku gak ngerti sayang."


"Sini duduk, biar aku jelaskan."


Bian pun duduk di samping istrinya...


"Lihat, ini ada titik-titik kecil itu adalah calon anak kita, coba AA hitung ada berapa titik-titik kecil itu."


Bian kembali menajamkan penglihatannya. "Ada tiga, sayang."


"AA tahu apa maksudnya?" tanya Mika dengan senyumannya.


Bian kembali terdiam, hingga beberapa saat Bian membelalakkan matanya dan menatap Mika dengan tatapan terkejutnya.


"Jadi...calon anak kita 3?" seru Bian tidak percaya.


"Iya A, Insya Allah Mika mengandung anak kembar 3."


"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang luar biasa ini."


Bian kembali memeluk Mika, pundak Bian mulai bergetar kali ini airmatanya tidak bisa tertahankan lagi.


Mika mengusap punggung Bian, dia pun ikut meneteskan airmatanya. Sungguh kali ini Mika benar-benar sangat bahagia, dia ingat dulu saat mengandung begitu sulit karena harus ditinggal sang suami tapi kali ini Mika begitu sangat bahagia karena berada di tengah-tengah suami dan mertua yang begitu sangat menyayanginya.

__ADS_1


__ADS_2