Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Sementara itu, Mika baru saja sampai di pelabuhan Merak. Mika akan menyebrang menggunakan kapal Ferry menuju Banten.


"Ma, Yah, Mika pergi dulu ya, kalian harus jaga kesehatan jangan lupa makan, jangan pernah banyak pikiran karena Mika akan baik-baik saja," seru Mika.


"Iya, kamu juga jaga kesehatan jangan lupa selalu kabari kami," sahut Mama Nuri.


"Pasti, tapi kalau Mika tidak menghubungi kalian, itu artinya di sana tidak ada signal."


"Semoga kamu bisa memulai hidup kamu yang baru dan melupakan semuanya, karena anak Ayah adalah anak yang kuat."


"Iya Yah."


Mika pun mulai menggeret kopernya masuk ke dalam kapal Ferry yang akan membawanya ke Banten nanti, Mika melambaikan tangannya dan tersenyum lebar supaya kedua orangtuanya tidak khawatir.


Mama Nuri tampak meneteskan airmatanya melepaskan kepergian anak perempuan satu-satunya itu.


"Sudahlah Ma, biarkan Mika menyibukkan dirinya dan menyembuhkan luka hatinya walaupun harus membutuhkan waktu yang lama," sahut Ayah Rusdi memeluk istrinya itu.


Kapal Ferry pun mulai melaju meninggalkan dermaga, dan Mika masih saja melambaikan tangannya. Kedua orangtuanya tidak pernah tahu kalau hatinya tidak akan bisa sembuh dengan apa pun juga.


"Semoga aku bisa melupakanmu, A," batin Mika.


***


Sementara itu, sepulang dari rumah sakit Bian tidak langsung ke kantor melainkan menuju restoran milik Bima. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Ririn dan Bima saat melihat kedatangannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bian pun memarkirkan mobilnya di depan restoran milik Bima.


"Selamat siang Mas."


"Apa Bima ada?"


"Ada, Mas."


"Bisakah kamu memanggilkannya untuk turun ke sini, katakan saja ada temannya ingin bertemu."


"Baik Mas, bisa ditunggu sebentar."


Bian pun duduk dan memesan sebuah kopi, sedangkan si pelayan langsung naik ke lantai dua untuk memanggil Bima.


Tok...tok...tok...


Ririn yang sedang duduk di pangkuan Bima langsung bangkit karena mendengar ketukan pintu.


"Astaga, ada apa sih gangguin aja," kesal Bima.


"Sudah sana buka, kali aja ada hal yang penting," seru Ririn.


Bima pun dengan kesal bangkit dan membuka pintu ruangannya.


"Ada apa?" kesal Bima.


"Maaf Pak, di bawah ada yang mencari Bapak."


"Siapa?"

__ADS_1


"Katanya teman Bapak."


"Oke, sebentar lagi aku turun."


"Baik Pak."


"Ada apa, sayang?"


"Di bawah ada yang mencari ku, katanya temanku tapi entah siapa."


"Ya sudah, kamu temui dulu dong kali aja memang benar temanmu."


"Tapi kamu harus temani aku."


"Idih, kok kamu jadi manja gitu sih?"


"Ayolah, temani aku ke bawah."


Akhirnya Ririn pun ikut Bima ke bawah, mereka menuruni anak tangga dengan Ririn merangkul lengan Bima sembari mengembangkan senyumannya.


"Mana tamunya?" tanya Bima.


"Itu Pak, sudah menunggu," tunjuk seorang pelayan.


Bima dan Ririn menoleh bersamaan dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Bian duduk santai di sana dengan melambaikan tangannya kepada mereka.


"Bi-bian."


Ririn langsung melepaskan rangkulannya, begitu pun Bima yang hanya bisa terdiam untuk beberapa detik.


Prok..prok..prok...


"Hebat sekali kalian, sepertinya kalau ada penghargaan akting terbaik, kalian yang akan mendapatkannya," ledek Bian dengan senyumannya.


"Bi, aku bisa jelaskan semuanya, kamu salah paham," seru Ririn dengan menyentuh lengan Bian.


Bian menghempaskan tangan Ririn membuat Bima geram.


"Jangan kasar kepada kekasihku!" bentak Bima.


"Wow, hebat-hebat. Kekasihmu? sungguh kalian dua manusia yang tidak tahu malu," ledek Bian.


Bima menarik kemeja Bian tapi Bian hanya bisa tersenyum sinis.


"Dari dulu kamu selalu merebut apa yang menjadi milikku, kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk mendapatkan yang aku mau bahkan saat ini kamu juga merebut Ririn dengan kekuasaannya!" bentak Bima dengan memukul Bian membuat Bian tersungkur ke lantai.


"Bima hentikan!" teriak Ririn.


Bian mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kemudian dia kembali bangkit.


"Sekarang kamu sudah tahu semuanya kan, kalau Ririn adalah kekasihku jadi lepaskan Ririn, ceraikan dia," seru Bima.


"Ambil saja, aku tidak butuh wanita murahan seperti dia!" sahut Bian dengan menunjuk ke arah Ririn.


"Kurang ajar berani sekali kamu menyebut Ririn sebagai wanita murahan," geram Bima.

__ADS_1


Bima hendak memukul Bian lagi tapi Ririn dengan cepat menghalanginya.


"Sudah cukup, hentikan Bima," seru Ririn dengan deraian airmatanya.


Ririn tidak terima kalau dirinya di sebuah wanita murahan, Ririn menatap Bian dengan penuh kebencian.


"Terus, kenapa kamu mau menikah dengan wanita murahan sepertiku?" seru Ririn.


"Karena aku pikir, kamu adalah wanita baik-baik yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku kelak tapi ternyata pikiranku salah, dalam hidupku baru pertama kali ini melakukan kesalahan yang sangat besar, dan kesalahan besar itu adalah mencintaimu dan menikahi wanita ular sepertimu!" bentak Bian.


"Brengsek, kalau menikahi Ririn suatu kesalahan, kenapa kamu mau menikahi Ririn!" bentak Bima.


"Tanya saja kepada wanita kesayanganmu itu, jangan tanya kepadaku. Kalau dia bilang dari awal, dia sudah punya kekasih, aku tidak akan jadi menikahinya tapi kenyataannya, dia memang tidak mau hidup susah makanya dia memilih menikah denganku demi hidup enak lagi dan meninggalkanmu, terus kamu juga masih mau mempertahankan wanita gila harta kaya dia?" sinis Bian.


"Kurang ajar."


Plaaaakkk....


Ririn menampar Bian membuat Bian geram...


"Berani sekali kamu menamparku!" bentak Bian.


"Ingat, nasib perusahaan kedua orangtuamu ada di tanganku jadi sekarang kamu sudah menghancurkan bisnis mereka, dan siap-siap kamu tinggal di kontrakan kecil lagi," geram Bian.


Bian memutuskan untuk pergi dari restoran Bima, sedangkan Ririn tampak menangis di pelukan Bima.


"Sekarang aku harus bagaimana, Bim? pasti Mama dan Papa aku akan marah besar kepadaku."


"Kamu jangan khawatir, masih ada aku di sini."


Lagi-lagi Bian tampak sangat marah, dia benar-benar sudah ditipu dan dibodohi oleh wanita yang sangat dia cintai itu.


Bian pun menghubungi Pengacaranya, untuk mengurus surat perceraian antara dirinya dan juga Ririn. Bian tidak kembali ke kantor, dia memilih untuk pulang ke rumahnya.


"Bian, kenapa kamu sudah pulang?" tanya Mami Maharani.


"Mi, Bian akan menceraikan Ririn."


"Apa? maksud kamu apa?"


Bian pun duduk di sofa dan menceritakan semuanya kepada Maminya.


"Astaga, Mami tidak menyangka kalau Ririn seperti itu."


"Makanya Bian akan membawa Mika ke sini sebagai menantu Mami, lagipula Mika saat ini sedang hamil anak Bian."


"Bawa wanita itu ke sini Bian, Mami yakin kalau wanita bernama Mika itu adalah wanita yang baik."


"Mika memang wanita yang sangat baik, dia seorang Bidan Mi."


"Mami jadi ingin cepat-cepat bertemu dengannya."


"Mami do'akan saja, semoga Irwan cepat menemukan alamat Mika."


"Amin."

__ADS_1


__ADS_2