Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Kebusukan Ririn


__ADS_3

Sore pun tiba...


Saat ini Bian sudah terlihat lebih segar karena sudah mandi, Ririn yang katanya tidak akan lama justru sampai sekarang belum kembali juga ke rumah.


Bian sedang duduk termenung di ruangan kerjanya.


Tok..tok..tok..


"Masuk!"


"Permisi Tuan."


"Irwan masuk."


Irwan pun masuk dan menutup kembali pintunya.


"Silakan duduk."


"Terima kasih, Tuan."


"Selama satu Minggu ini, kenapa kamu tidak menghubungiku? aku kan, sudah menyuruhmu untuk menyelidiki istriku, terus sekarang bagaimana kelanjutannya?" seru Bian dingin.


"Saya sudah mendapatkan buktinya Tuan, tapi karena Tuan baru saja keluar dari rumah sakit dan belum bisa masuk kerja, saya takut mengganggu Tuan, jadi saya menyimpannya dan akan menyerahkan bukti yang saya dapat, di saat Tuan sudah sembuh," sahut Irwan.


"Sekarang saya sudah sembuh, terus apa saja yang kamu dapat selama mengikuti Ririn?"


"Ini Tuan, semuanya saya simpan di sana biar Tuan gampang melihatnya."


Irwan pun menyerahkan flashdisk kepada Bian dan Bian pun segera melihatnya di laptopnya, betapa terkejutnya Bian saat melihat hasil penyelidikan asistennya itu.


"Bima, jadi selama ini kamu selingkuh dengan istriku? dan di saat beberapa waktu lalu bertemu di restoran, kalian seakan-akan tidak saling mengenal, hebat sekali akting kalian," geram Bian dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Saya sudah catat alamat restoran dan apartemen pria itu, bahkan saya juga sudah catat di lantai berapa pria itu tinggal."


"Oke, terima kasih Irwan, kamu memang sangat bisa diandalkan."


"Sama-sama Tuan, itu semua sudah menjadi tugas saya."


"Oh iya, satu lagi.Tolong kamu selidiki lokasi satu tahun yang lalu saat aku mengalami kecelakaan dan menghilang. Coba kamu cek, kampung apa yang jaraknya dekat dari lokasi kecelakaan aku waktu itu."


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Saya harap kamu bisa menemukannya secepat mungkin."


"Baik Tuan."


"Oke, sekarang kamu boleh pergi."


"Kalau begitu saya pamit, Tuan."


Irwan pun keluar meninggalkan ruangan kerja Bian yang ada di rumahnya, Bian kembali melihat foto-foto mesra Ririn dan Bima yang tertangkap kamera Irwan.


"Kalian benar-benar sangat keterlaluan, dan kamu Ririn ternyata selama ini aku sudah salah menilai kamu," batin Bian.


Bian pun menutup laptopnya dan segera mengambil jaket serta kunci mobilnya, kali ini dia benar-benar ingin menyaksikan secara langsung kelakuan Ririn dan Bima.


"Kamu mau ke mana, Bian?" tanya Mami Maharani.


"Bian pergi dulu sebentar Mi, mau jemput Ririn," dusta Bian.


"Memangnya kamu sudah baikan?"


"Iya Mi, Bian sudah tidak apa-apa kok. Ya sudah, kalau begitu Bian pergi dulu."


"Hati-hati, Nak!"


Bian langsung masuk dan menanyakan tentang keberadaan Bima, namun sayang Bima sudah pulang.


Tapi Bian tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia pun berpura-pura menjadi temannya Bima dan ingin mengambil berkas yang Bima simpan di ruangannya. Tentu saja karyawannya percaya dan dengan cepat Bian pun masuk ke dalam ruangan Bima dan menyimpan kamera tersembunyi di sana.


"Sebentar lagi kebusukan kalian akan terbongkar," batin Bian.


Setelah selesai memasang kamera tersembunyi, Bian pun hendak keluar tapi ekor matanya melihat sesuatu yang menarik, di atas meja kerja Bima, ada sebuah bingkai foto yang menampilkan foto Bima dan juga Ririn.


Bian menyunggingkan senyuman sinisnya. "Dasar sepasang manusia yang tidak tahu diri," batin Bian dengan kesalnya.


Bian pun dengan cepat keluar dari ruangan Bima, dan kembali masuk ke dalam mobilnya kembali pulang ke rumahnya.


"Mika, tunggu aku, aku akan segera menemuimu dan anak kita," gumam Bian.


***


Sementara itu di rumah Mika, saat ini Mika sedang dibantu oleh Mama Nuri membereskan barang-barang yang akan Mika bawa ke Banten.

__ADS_1


"Mika, pokoknya Mama minta kamu harus menghubungi Mama dan Ayah setiap hari, terus jangan lupa makan, dan jangan lupa ibadahnya juga," seru Mama Nuri.


"Iya Ma pasti, semuanya akan Mika turuti."


"Ya sudah, Mama masak dulu ya buat makan malam."


"Iya Ma."


Mama Nuri pun keluar dari kamar Mika untuk menyiapkan makan malam, Mika melanjutkan kegiatannya hingga Mika pun tidak sengaja mengambil baju Koko yang biasa Bian pakai kalau mau shalat.


Mika kembali meneteskan airmatanya, kemudian Mika memeluk baju Koko itu dengan deraian airmata.


Malam pun tiba...


Setelah makan malam, Bian pun langsung kembali ke kamar.


Ceklek....


Pintu kamar pun terbuka, Bian tahu kalau itu Ririn tapi Bian berusaha tidak memperdulikannya.


"Sayang maafkan aku ya, tadi Mama minta aku anterin belanja ke Mall, kamu tahu kan, bagaimana ribetnya kalau Ibu-ibu sudah belanja jadi aku pulangnya ke malaman," seru Ririn.


Bian tidak bereaksi apa pun, dia hanya sibuk dengan laptopnya membuat Ririn kesal karena merasa dicuekin. Ririn menghampiri Bian dan menutup laptop Bian, dan seketika Bian menatap tajam ke arah Ririn.


"Sayang, kok kamu malah cuekin aku sih? memangnya laptop itu lebih menarik ya, dibandingkan wajah aku," rengek Ririn dengan manjanya.


"Sudahlah gak usah lebay, aku lagi banyak kerjaan jangan ganggu aku, kalau kamu mau tidur, tidur saja," sahut Bian dingin.


"Kok, kamu gitu sih ngomongnya? kamu marah ya, sama aku? maafkan aku Bi, aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


"Sayangnya, aku sudah tidak peduli lagi. Kamu mau pulang malam kek, pulang subuh kek, atau gak pulang sekalian, aku gak peduli toh selama ini juga kamu memang gak ada perhatiannya sama aku, kamu sibuk dengan duniamu, bahkan waktu aku menghilang satu tahun pun, jangan-jangan kamu malah bahagia dan berharap aku tidak akan kembali lagi, iya kan?"


Ririn membelalakkan matanya, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bian pun turun dari atas ranjangnya, tapi Ririn dengan sigap menahannya.


"Kamu mau ke mana, sayang?"


"Aku lagi banyak kerjaan."


Bian pun langsung keluar dari kamarnya menuju ruangan kerjanya, Bian sungguh benar-benar muak dengan Ririn yang sok baik padahal kenyataannya busuk.


Bian duduk di kursi kebesarannya, dia pun menyandarkan punggungnya kemudian memejamkan matanya.

__ADS_1


Perasaannya kali ini merasa tidak enak, entah apa yang sudah terjadi kepada Mika dan calon anaknya.


"Mika, bersabarlah aku akan segera menemuimu. Maafkan aku karena sudah melupakanmu," batin Bian.


__ADS_2