Suami Amnesiaku

Suami Amnesiaku
Kebahagiaan Bian, Kehancuran Ririn


__ADS_3

Keesokan harinya....


Pagi ini, Mika dan Bian akan melangsungkan ijab kabul di kediaman Ganendra. Mika sedang di dandani oleh Mami Maharani.


"Kamu cantik sekali, sayang," seru Mami Maharani.


"Terima kasih, Mami."


Mami Maharani menggenggam kedua tangan Mika.


"Mika, Mami titip Bian kepadamu, Mami tidak ingin Bian sampai terpuruk lagi karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Ririn kepadanya."


"Mami jangan khawatir, Mika mencintai A Bian dengan tulus bahkan Mika tidak pernah melihat A Bian itu anak siapa, Mika juga tidak pernah peduli dengan kekayaan yang dimiliki A Bian, karena Mika mencintai A Bian apa adanya," sahut Mika.


Mami Maharani memeluk Mika dengan meneteskan airmatanya.


Ceklek....


Pintu kamar Mika pun terbuka, menampilkan wajah bahagia Mama Nuri.


"Mika, penghulu sudah datang, ayo kita ke bawah."


Mika pun melepaskan pelukan Mami mertuanya itu, lalu menghapus airmata Mami Maharani.


"Mami jangan menangis, ini kan hari bahagia jadi cukup menangis bahagia saja," seru Mika.


"Iya sayang."


Mami Maharani dan Mama Nuri pun memapah Mika untuk turun ke bawah, Bian tampak tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa hidup dengan wanita yang dia cintai dan tentu saja wanita yang sangat mencintainya juga.


Mika langsung duduk di samping Bian...


"Cantiknya istriku," bisik Bian.


Mika hanya tersenyum dengan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu. Bian pun langsung mengucapkan ijab kabul, dan Bian mengucapkannya dengan sangat lancar membuat semua orang senang dan mengucapkan Hamdallah.


Setelah mengucapkan ijab kabul, keduanya pun langsung sungkeman kepada orangtua mereka berdua masing-masing.


"Nak Bian, Ayah menitipkan Mika untuk ke dua kalinya kepada Nak Bian, semoga pernikahan kali ini bahagia selalu menyertai kalian berdua," seru Ayah Rusdi.


"Iya Yah, Bian akan selalu menjaga Mika jadi Ayah dan Mama jangan khawatir," sahut Bian.


Pernikahan kedua kalinya antara Mika dan Bian terasa sangat terharu dan membahagiakan bagi semua orang.


Saat ini Mika dan Bian masuk ke dalam kamar mereka karena sore ini mereka akan langsung berangkat ke Jepang. Bian mengambil dua koper untuk mereka berdua dan Mika membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke Jepang.

__ADS_1


"A, berapa lam kita di sana?"


"Satu Minggu sayang, jangan terlalu banyak bawa baju nanti kita beli saja di sana," sahut Bian.


Mika pun dengan sigap membereskan barang-barang yang akan mereka bawa ke Jepang, tapi Bian malah memeluk Mika dari belakang dan menciumi tengkuk leher Mika.


"A, geli tahu."


"Sayang, aku sudah beberapa hari menahannya, bisakah sekarang kita melakukannya."


"A, kita mau berangkat sore ini nanti kalau ketinggalan pesawat bagaimana?"


Bian tidak mendengarkan keluhan Mika, dia pun langsung mengangkat tubuh Mika membuat Mika terkejut.


"A...."


"Gak lama kok, aku janji."


Mika tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah karena kalau dia menolak, dia akan berdosa.


Siang itu menjadi siang pertama, untuk Mika dan juga Bian. Setelah ujian cinta yang menghadang mereka akhirnya keduanya bisa kembali bersama lagi.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 sore dan keberangkatan hanya tinggal 15 menit lagi, Mika dan Bian berlari memasuki Bandara membuat keduanya tertawa karena mereka sendiri yang sudah membuat susah.


"Maaf-maaf."


Beberapa saat kemudian, keduanya pun sudah duduk di dalam pesawat. Napas keduanya tampak memburu dan ngos-ngosan, Bian menyeka keringat Mika membuat Mika tersenyum.


"Maafkan aku ya sayang, gara-gara aku kita jadi harus lari-lari seperti ini."


"Tidak apa-apa, yang penting kita tidak terlambat," sahut Mika dengan mengelus pipi Bian.


Bian sangat bahagia, dia benar-benar baru merasakan dicintai dan disayangi oleh istrinya dengan tulus dan sepenuh hati.


***


Berbeda dengan Bian yang saat ini sedang merasakan kebahagiaan yang hakiki, Ririn sedang mengalami kebingungan.


"Ririn, Bima ke mana? katanya kamu sudah bilang kepada Bima, tapi kok Bima justru gak datang-datang sih," seru Mama Yulia.


"Ririn juga gak tahu Ma, dari tadi pagi sampai sekarang Ririn hubungi nomornya gak aktif," sahut Ririn.


Ririn ingin sekali menyusul Bima ke restoran, namun sayang uang Ririn tinggal sedikit lagi jadi daripada dipakai untuk ongkos grab mending dipakai untuk membeli makanan.

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah hotel, Bima baru saja menggerakkan tubuhnya. Di sampingnya, ada seorang wanita yang masih tertidur lelap dengan tanpa sehelai benang pun.


Bima melihat ponselnya yang ternyata mati karena kehabisan baterai.


"Astaga, ponselku mati lagi, pasti Ririn dari tadi menghubungiku," gumam Bima.


Bima pun bangkit dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, Bima pun selesai mandi lalu segera memakai bajunya kembali. Bima melihat kalau wanita yang tadi melayaninya itu masih terlelap tidur, Bima pun mengeluarkan uang dari dompetnya dan menyimpannya di atas nakas, kemudian Bima pun keluar dari hotel itu.


Perlahan mata si wanita pun terbuka, ternyata dari tadi dia hanya pura-pura tidur saja. Wanita itu pun terduduk di atas tempat tidur, lalu mengambil uang yang tadi disimpan oleh Bima.


"Aku suka berurusan dengan para pengusaha muda, selain kaya mereka juga tampan-tampan," gumam si wanita dengan senyumannya.


Bima selama ini memang suka gonta-ganti wanita untuk memuaskan hasratnya, tapi selama ini Bima memang belum pernah melakukan hal di luar batas bersama Ririn.


Bima memang benar-benar mencintai Ririn, tapi Bima enggan merusak masa depan Ririn, maka dari itu Bima lebih baik bermain dengan para wanita di luaran sana tanpa sepengetahuan Ririn.


Bima pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya, hari ini dia sangat lelah bahkan saking lelahnya bermain dengan wanita itu, Bima sampai lupa akan membelikan obat untuk Papanya Ririn.


Sesampainya di rumah, ternyata Mamanya Bima sudah menunggu.


"Bima, Mama ingin bicara sebentar denganmu," seru Mamanya.


"Ada apa, Ma?"


Bima pun duduk di samping Mamanya itu...


"Apa kamu masih berhubungan dengan wanita yang bernama Ririn itu?"


"Iya Ma, memangnya kenapa? bahkan Bima akan menikahi Ririn bulan depan."


"Apa kamu bilang? kamu sudah gila ya Bima, bisa-bisanya kamu mau menikah dengan wanita itu tanpa sepengetahuan Mama dan Papa!" bentaknya.


"Mama sama Papa dari dulu tidak pernah merestui hubungan Bima dan Ririn, padahal apa salah Ririn? dia wanita baik dan Bima sangat mencintainya."


"Mama dan Papa melarang kamu berhubungan dengan wanita itu karena dia adalah istri orang dan kamu seperti tidak ada wanita lain lagi selain mengganggu istri orang."


"Tapi sekarang Ririn sudah bercerai, Ma."


"Pokoknya Mama tidak mau kamu sampai menikah dengan seorang janda, kamu itu tampan, mempunyai usaha juga, ngapain nungguin janda. Gadis masih banyak Bima, jangan mempermalukan Mama seperti ini."


Bima bangkit dari duduknya membuat Mamanya menatap tajam ke arah Bima.


"Bima sudah janji kalau bulan ini Bima akan menikahi Ririn walaupun tanpa ada restu dari Mama dan Papa," sahut Bima.

__ADS_1


Bima pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Mamanya yang saat ini begitu sangat emosi.


__ADS_2