
Sesampainya di restoran, Ririn langsung keluar dari taksi online dengan wajah yang memerah menahan amarah yang memuncak.
Ririn langsung naik ke lantai dua menuju ruangan Bima, betapa terkejutnya Ririn saat melihat Bima tak sadarkan diri di atas sofa dengan dua minuman kaleng di sana.
"Bima, bangun Bima!" sentak Ririn dengan mengguncangkan tubuh Bima.
Cukup lama Ririn membangunkan Bima, hingga tidak lama kemudian Bima pun mulai membuka matanya.
"Sayang."
Perlahan Bima bangun sembari memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Kamu ngapain tidur jam segini? siapa wanita bernama Sonia?" bentak Ririn.
Seketika Bima membelalakkan matanya dan menatap Ririn, dia ingat apa yang Sonia bicarakan barusan. Bima langsung bangkit dan menuju laci meja kerjanya.
"Ah, kurang ajar."
"Kamu kenapa?" tanya Sonia.
"Wanita itu sudah mengambil surat kepemilikan restoran ini."
"Wanita mana maksud kamu?" tanya Ririn.
"Sonia."
"Siapa Sonia itu? dia tadi datang ke apartemen, kalau dia disuruh kamu untuk istirahat di sana."
"Apa?"
"Jangan bilang, selama ini kamu selingkuh di belakang aku?" geram Ririn.
"Tidak sayang, mana mungkin aku selingkuh di belakang kamu. Kamu juga kan tahu, seberapa besarnya cintaku untukmu."
"Bohong, aku tidak percaya sama kamu."
"Sayang, coba kamu pikir, kalau aku berniat selingkuh di belakang kamu, buat apa aku nunggu kamu sampai sejauh ini? bahkan bulan depan adalah pernikahan kita," seru Bima dengan memegang kedua pundak Ririn.
"Tapi itu ada minuman, kata wanita itu sebelum dia datang ke apartemen, dia juga sudah bersamamu menghabiskan waktu berdua," seru Ririn.
Bima kembali mengepalkan tangannya. "Kamu jangan percaya sama dia, Sonia itu sudah sejak lama menyukaiku tapi aku tidak menyukainya karena wanita yang aku cintai hanyalah dirimu."
"Kamu serius kan? kamu tidak membohongi aku, kan?" tanya Ririn.
"Mana mungkin aku membohongimu, aku benar-benar sangat mencintaimu."
Akhirnya Ririn pun luluh dan memeluk Bima, Bima bisa bernapas lega karena Ririn mempercayainya.
"Sonia, siapa sebenarnya dia? kenapa dia menjebaku seperti ini, bahkan berani mencuri surat kepemilikan restoran ku," batin Bima.
***
1 Minggu kemudian....
Bian dan Mika sampai di Bandara Soeta, wajah keduanya tampak bahagia. Waktu satu Minggu, mereka habiskan benar-benar berdua untuk bulan madu.
__ADS_1
Bian dan Mika menghentikan taksi dan mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Apa kamu bahagia, sayang?" tanya Bian disela-sela perjalanannya.
"Bahagia banget A, terima kasih ya."
"Membahagiakanmu adalah tugas utamaku kali ini, jadi mulai sekarang kamu jangan menangis lagi karena aku tidak akan membiarkan kamu menangis."
Mika tersenyum dan menyandarkan kepalanya di pundak Bian.
"Mudah-mudahan pulang dari Jepang ada kabar baik untuk kita," seru Bian.
"Amin."
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya Bian dan Mika pun sampai di sebuah rumah yang besar dan itu membuat Mika kebingungan.
"A, ini rumah siapa?"
"Rumah kitalah."
"Hah, serius A?"
"Kapan aku bohong sama kamu, sayang. Ayo kita masuk."
Bian pun menggandeng tangan Mika yang masih terlihat kebingungan. Itu adalah rumah bekas orangtua Ririn dulu namun Bian sudah mendekor ulang dan mencat ulang jadi terlihat seperti rumah baru.
Mika masih celingukan, kagum akan rumah yang sangat besar dan megah itu.
"Selamat datang Tuan Bian dan Nyonya Mika," seru Fatimah yang merupakan ART di rumah itu.
"Nama Bibi Fatimah, panggil saja Bi Imah."
"Bi, kita sangat capek jadi kita mau istirahat dulu," seru Bian.
"Baik Tuan."
Bian dan Mika pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua, dimana kamar mereka berada.
"Kamarnya besar banget A."
"Kamu suka?"
"Suka sekali, terima kasih ya A."
Mika pun memeluk Bian, dan tentu saja Bian sangat bahagia mendapat pelukan dari istrinya tercinta.
"Kita istirahat, aku sudah sangat capek," seru Bian.
Bian dan Mika pun mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Bian tertidur dengan memeluk istrinya itu dan karena saking kecapean, Mika pun sudah terlelap menuju alam mimpinya.
Bian membuka matanya, perlahan Bian melepaskan tangannya dan turun dari tempat tidur. Bian melangkahkan kakinya mengendap-ngendap karena takut Mika bangun.
Bian dengan cepat keluar dari kamarnya dan segera menghubungi Irwan untuk segera menjemputnya.
"Bi Imah, aku keluar dulu sebentar jadi jika Nyonya bangun dan menanyakan saya, Bibi bilang saja saya ke kantor ada urusan dan tidak akan lama."
__ADS_1
"Baik Tuan."
Bian pun segera keluar dan tidak membutuhkan waktu lama, Irwan pun datang. Bian dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan Irwan pun mulai melajukan mobilnya.
Sementara itu, Bima tampak frustasi karena dia tidak menemukan Sonia sama sekali.
"Kurang ajar kamu Sonia, ternyata selama ini kamu sudah menjebakku," geram Bima.
Selama satu Minggu ini, Bima sudah mencari Sonia ke mana-mana tapi tidak menemukan keberadaan Sonia. Bahkan Bima sudah seminggu ini mengacuhkan Ririn karena pusing memikirkan nasib restorannya.
Tok..tok..tok..
"Masuk!"
"Maaf Pak Bima, di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?"
"Namanya Pak Bian."
"Kurang ajar, mau apa lagi dia?"
Bima pun langsung ke bawah untuk menemui Bima, dan betapa terkejutnya Bima saat melihat kedatangan Bian dengan dibarengi anggota dari kepolisian.
"Ada apa ini?" tanya Bima kaget.
"Apa kabar Bima, apa kamu sudah puas bersenang-senang? sepertinya, aku sudah cukup berbaik hati membiarkanmu dan Ririn berkeliaran di udara bebas, jadi sekarang saatnya kamu dan Ririn membusuk di penjara," seru Bian dengan senyumannya.
"Apa? kurang ajar."
Bima hendak menyerang Bian tapi kedua polisi itu langsung sigap menahan tubuh Bima.
"Sialan kamu Bian, atas dasar apa kamu mau memenjarakan aku dan Ririn?" bentak Bima.
"Jangan pura-pura bego Bima, bukanya kamu yang merencanakan menyabotase mobilku, sehingga aku mengalami kecelakaan dan amnesia," sahut Bian.
Seketika tawa Bima pecah membuat Bian sedikit mengerutkan keningnya.
"Kamu tidak punya bukti Bian, jadi kamu tidak bisa memenjarakan ku tanpa bukti."
Bian tersenyum, lalu mengeluarkan ponselnya. Bian memutar video yang dia rekam diam-diam waktu itu dan memperlihatkannya kepada Bima, betapa terkejutnya Bima saat melihat itu semua. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah.
"Bawa dia ke kantor polisi Pak, dan jebloskan dia ke dalam penjara!" tegas Bian.
"Awas kamu Bian, kamu dan keluargamu akan menerima balasan dariku," ancam Bima.
Kedua polisi itu pun membawa Bima masuk ke dalam mobil polisi, sedangkan Bian dan Irwan tampak menyunggingkan senyumannya.
"Kamu sudah berikan bonus kan, untuk Sonia?" seru Bian.
"Sudah Tuan."
"Bagus, karena dia sudah bekerja dengan sangat baik jadi dia pantas untuk mendapatkan bonus."
Bian pun menyuruh Irwan untuk mengantarkan dia pulang karena takut Mika keburu bangun.
__ADS_1