
"Sena, mungkin ini sangat mendadak buat kamu tapi aku tau apa yang harus aku lakukan, kamu tau aku sayang sama kamu Sena, kita bisa menjalin ini berdua tanpa ada yang tau. selama ini kita sudah banyak ngelewatin banyak hal, jalan bareng, sharing, dan perhatian kamu itu udah cukup buat ngebuktiin kalo kamu juga sayang sama aku. aku janji, aku bakal bikin kamu bahagia lebih dari apa yang Dika kasih ke kamu. Love Andre"
Bagai petir yang menyambar tubuh membaca isi dari surat itu, Sena mematung tidak percaya dengan apa yang Andre lakukan. pantas saja Dika sebegitu Marahnya setelah membaca suratnya.
"ahhhhhhhhhhhhh, Tega kamu Andre" teriak Sena sembari merobek surat yang ada ditangannya, menangis sejadi jadinya dengan hati yang hancur.
Sena mencari hapenya, mencoba untuk menghubungi Dika, tetapi apa daya Dika tidak menjawab panggilannya bahkan nomornyapun sekarang tidak aktif.
Panggilan kini beralih ke Andre, Sena menelpon Andre, "Andre, aku perlu bicara sama kamu kita ketemu di Taman Anggrek sekarang, aku tunggu".
Dirumah Andre bingung tidak seperti biasanya Sena seperti itu, Andrepun mengikuti kemauan Sena.
Andre menuruni anak tangga rumahnya, dilihatnya Dika dan Alfin sedang duduk diruang keluarga, Andre berlari dengan tegesa gesa melewati Dika dan Alfin.
Dika merasa aneh dengan tingkah Andre, Dikapun berniat untuk mengikutinya.
"Tuan, mau kemana"
"saya mau mengikuti Andre Fin"
"Saya antar Tuan"
"Tidak perlu, saya mau bawa motor"
Tanpa sepengetahuan Andre dia diikuti Dika, Sena yang sudah ada di Taman masih dengan tangisannya. Malam ini tidak sehangat biasanya, Sena yang sedang duduk menunduk menutup muka dengan kedua tangannya seolah tidak ingin menampakkan wajah cantiknya kepada malam, karena malam ini dirasa jahat, malam ini begitu dingin untuk tubuh mungilnya.
"Sena kamu kenapa?" tanya Andre yang tanpa basa basi melihat keadaan Sena, Sena langsung berdiri dihadapan Andre.
__ADS_1
Tiba tiba Dika juga datang dan langsung memotong pembicaraan Andre, "Bagusss yaa kalian, ga cukup apa kalian udah khianatin gue haahh ???? loe Ndre, loe tau gue pernah disakitin cewe sekarang loe mau nyakitin gue juga? abang loe sendiri? dan loe Sena, gue liat loe kayak liat masa depan, gue liat loe cewe yang beda dari banyak cewe yang gue kenal, tapi gue salah.. loe ngga ada bedanya, gue serius sama loe Sena, apa ngga cukup sama satu cowok cuma gue doang??? ato loe ngga bisa hidup sama satu cowok???"
Plaaaaakkkkkkk......
satu tamparan kuat dari Andre hinggap di pipi Dika.
"loe udah keterlaluan Dik, loe ngga berhak ngomong gitu ke Sena, loe udah janji mau bahagiain dia tapi mana? gue malah liat loe memperlakukan Sena kayak gitu, ini ada apa sih"
"UDAAHHHH CUKUPPP KALIAAN" Sena menengahi dengan teriakan dan tangisannya.
"Dika, kamu harus denger dulu penjelasan aku, aku ketemu Andre disini ini tuh ngga seperti apa yang kamu pikirin" Sena coba menjelaskan dengan memegang tangan Dika. namun tangan indah Sena tidak dihiraukannya, Dika membuang tangan Sena dan pergi.
"udah jelas Sena, aku kecewa banget sama kamu"
"Dikaa... Dikaaa... tunggu aku..." T_T
"Sena.. Sena.. dia itu udah ngehina kamu, dia udah nyakitin kamu, kamu ngga seharusnya masih bersikap baik sama dia Sen" Andre mencoba memberhentikan langkah Sena yang ingin mengejar Dika pergi.
Dari situ juga Sena meninggalkan Andre sendiri, Andre tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan Dika dan Sena, kenapa mereka bisa begitu marah.
Tidak jauh dari tempat Andre berdiri, ada Monic dan Tari yang sedang melihat pertengkaran ketiga orang itu.
"gue bilang juga apa Tar, sekarang Sena ngga bakal bisa deket sama Andre, makanya loe ngga usah khawatir sama rencana gue, Andre udah bisa loe deketin pelan pelan, sekarang gue mau bikin Sena lebih di benci sama Dika, kalo Dika ngga bisa jadi milik gue lagi seengganya dia ngga jadi sama cewek kampung kayak Sena, ngga sia sia gue ngirim orang buat mata matain Sena. hahahahaha"
"iyaaa gue akuin loe hebat deh".
Malam itupun dilalui Dika dengan perasaan kembali terkhianati, sekarang Dika pulang menuju Apartementnya karena dia pikir jika untuk pulang ke rumah dia akan bertemu dengan Andre.
__ADS_1
Sena yang pulang dengan rasa bersalahnya masih berusaha menghubungi Dika untuk menjelaskan semuanya, tapi lagi lagi Nihil Dika tidak menghiraukannya.. Pak Bayu yang melihat Sena dengan wajah banjir airmata mencoba menanyakan apa yang terjadi, "Nona, apa yang terjadi?"
"tidak ada apa apa pak, cepetan ya pak saya ingin istirahat"
"baik Nona".
Andre juga pulang dengan seribu pertanyaan dibenaknya, apa yang terjadi dengan Dika dan Sena dan kenapa tiba tiba saja mereka bisa semarah itu terhadapnya.
***
Keesokan harinya Dika bersiap pergi ke kantor, sebenarnya Dika malas untuk bekerja namun teringat ada jadwal meeting yang tidak bisa ditinggalkan.
Sesampainya dikantor, Tari dan Alfin sudah ada didalam ruangannya.
"Tuan, saya perlu bicara" tanpa menyapa sama sekali Alfin segera menghampiri Bossnya itu.
"Ke ruanganku saja Fin, oia Tari.. nanti kamu tunggu saja disini tidak usah ikut meeting, aku didampingi Alfin aja"
"Baik Tuan".
Dika dan Alfin berbicara serius di dalam ruangan, Tari yang kepo mencoba menguping pembicaraan Dika dan Alfin.
"Tuan, sebenarnya ada apa? Saya di hubungi Pak Bayu, dia mengantar Sena pulang dengan keadaan menangis dan melihat Tuan, Tuan Andre dan Sena seperti sedang bertengkar, mohon maaf Tuan, bukan maksud saya untuk ikut campur tetapi apa tidak seharusnya Tuan menyelidiki dulu apa yang terjadi?"
"memang Fin, aku sedang ada masalah sama mereka, aku juga bingung kenapa mereka bisa seperti ini, mereka mencoba menjalin hubungan di belakangku dan tidak hanya itu Sena mulai dekat dengan teman sekolahnya, dan ini ada buktinya aku melihat sendiri"
"dan Tuan semalam kenapa tidak pulang? Tuan kemana?"
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang sebelum aku tenang, aku sudah menghubungi ayah jika aku tinggal di Apartemen. kamu tau kan Fin kalo aku bertemu dengan Andre rasanya tangan aku ini gatal ingin menamparnya, aku tidak ingin ayah tau tentang masalah ini"
Tari yang masih menguping pembicaraan itu teringat rencana selanjutnya yang dirancang dia dan Monic, Tari memesan sebuah bunga dengan kartu ucapan yang ditujukan kepada Sena namun dikirim ke kantor Dika. Tak menunggu lama bunga yang dipesan datang, Tari langsung menjalankan rencananya.