
"Selamat siang Mba Sena".
"Selamat siang, Mas Ari yaa?".
"Iya saya Ari disuruh Mas Andre dan Tuan Dika buat handle dulu resto mba disini selama mba pergi".
"iyaa Mas, silahkan duduk"
Sena menceritakan sedikit bagaimana mengelola restonya itu, tidak usah panjang lebar karena Mas Ari adalah salahsatu orang kepercayaan Andre.
"Kebetulan saya harus pergi Mas, jadi saya mau minta tolong Mas Ari boleh monitoring aja kalo Mas Ari ada perlu hari ini"
"Gapapa Mba, saya hari ini stay disini saja, semua saya sudah bicarakan bersama Mas Andre dan Tuan Dika"
"Yaudah saya pamit duluan yaa Mas Ari, maaf saya sudah merepotkan"
"Saya tidak merasa direpotkan Mba Sena"
"Terima Kasih Mas Ari"
"Kembali kasih Mba"
Sena langsung keluar ruangan dan disambut dengan Fani di depannya, "ituuuu siapaa Mba?".
"Ohh itu, dia Mas Ari, saya bakal pergi beberapa hari jadi dia yang mengkoordinasi semua disini, kalo ada apa apa ke dia aja ya".
"Emang Mba mau kemana? Sama pacar Mba yang ganteng itu ya?" Fani mencari info.
"kamu kepo banget Fan, aku ada perlu aja kamu yang baik di sini Fan"
"ehhhhhh, siap Mba"
***
"aku harus kasih tau Mba Monic nih tentang kepergian si Sena"
Fani dengan sigap langsung menginfokan tentang kepergian Sena yang tidak tau mau kemana, dan untuk Monic itu adalah info penting yang diterimanya.
"Oke, thanks infonya malem ini gue mau ke apartement Dika"
***
Mobil Sena sampai di depan Gedung kantor Dika, "Nona Sena sudah ditunggu Tuan Dika di ruangannya" ucap salah seorang resepsionis.
"makasih mba".
Sena menuju lift dan langsung naik ke lantai atas tempat Dika bekerja, sesampainya di atas Sena melihat Tari duduk di meja sekretaris.
"Haiiii Tari, apakabarrrrrrrr????? kangeeeennnnn"
"Lhooooo kok kamu disini????"
__ADS_1
"Kok kamu kaget gitu sih Tar, aku disuruh Dika kesini Dikanya ada? katanya aku langsung ke ruangannya aja"
"ada sih di dalem lagi sama Alfin, bukannya kamu lagi berantem ya sama Dika?"
Sena yang mendengar perkataan Tari langsung keheranan, mengerutkan dahinya, memikirkan apa yang dimaksud oleh Tari.
"Maksud kamu apa Tar? aku memang sempet berantem sama Dika tapi itu cuma salah paham aja sekarang udah biasa lagi, kamu kenapa bisa tau Tar? aku engga pernah cerita sama siapapun tentang masalah aku sama Dika lho"
"ohhhhh ituuuu, aku tauuuu dariii... daariiii.... dariii Andreeeee, iyaa darii Andree.. ehhhh kamu langsung masuk aja Dika udah nunggu kamu"
"ohh dari Andre, yasudah aku masuk dulu ya"
Tari yang merasa keheranan juga melihat hubungan Sena dan Dika yang baik baik saja langsung melaporkan hal ini kepada Monic, Monic meminta agar Tari terus melihat gerak gerik mereka berdua.
Sena mengetuk pintu,
"Masuuukkkk"
"helloooo kaliaaaan" Sedikit mengintip Sena menyapa dua pria yang ada di depannya itu dengan raut muka yang sedikit malu.
"Senaaa, masuk sayang, duduk sebelahkuu" Ajak Dika menepuk Sofa yang kosong disebelahnya.
"Udah makan???".
"Udaaaah".
"Capeeeek???".
"Ngga siiiih, biasaa ajaa".
"engga apa apa Dika, aku disini aja nemenin kamu, liatin kamu kerja"
"nanti aku enggak konsen kalo diliatin sama kamuuu kerjanyaa" Dika mulai merayu.
Alfin yang melihat tingkah konyol bossnya itu ikut malu menundukan kepala sembari tersenyum.
"Napa loe Fin... makanyaaa punya pacar jangan jomblo muluuuu"
Sena tertawa melihat Alfin yang dicandai oleh Dika, "hahahahaha... aku carikan mau Fin?"
"Boleh Non, yang seperti Nona kalo ada". jawab Alfin.
"heeeeyyyyy maksud loe, Sena pacar gue, loe cari yang lain Fin"
"maaf Tuan bercanda. hahaha".
"hahaha yaudah kalian beresin dulu kerjaannya biar cepet selesai, kalo bercanda mulu kapan selesainya".
Pekerjaan Dika selesai dan Alfin langsung kembali ke ruangnnya.
Sena sekarang hanya berdua dalam ruangan itu, Dika mengambil henponnya dan menelpon Tari yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiam.
__ADS_1
"Tari, untuk hari ini bereskan semuanya dengan Alfin, karena sekarang aku sedang tidak ingin di ganggu"
"Kamu ada pekerjaan lain? dan kenapa harus menelpon Tari, dia ada di depan ruangan kamu Dik, hihihi kamu aneh" Sena tertawa melihat kekonyolan Dika.
Dika menatap Sena dengan memegang dagunya "iyaa, aku ada meeting dengan seorang perempuan yang ada di depanku sekarang, dan Tuan Dika ini tidak ingin di ganggu oleh siapapun".
Sena sangat malu dibuatnya, wajahnya memerah jantungnya berdebar kencang dia mencoba untuk menghindar dengan melepas tangan Dika yang masih menempel di dagunya, "Kamu bisa aja Dika, aku malu seperti ini"
"Aku suka melihatmu tersipu begitu, kamu pulang bersamaku yaa, tapi sebelum itu kita ke apartemenku dulu, ada barang yang ingin aku ambil"
"apa?"
"nanti juga kamu akan tau, aku kemasi barangku dulu ya, tunggu sebentar yaa cantik" Dika masih merayu Sena dengan mencubit pipinya.
"awwwwwww Dikaaaaa, sakiiitttt tauu" Sena merengek dengan memegang pipinya, Dika hanya melihat Sena tersenyum.
Dika membereskan meja kerjanya, sementara Sena duduk memainkan henponnya teringat dia kepada masalah Fani dan Tari yang menurutnya mengganjal. di Ceritakan semua kejadiannya, mendengar hal itu Dika berhenti dari aktifitas yang dilakukannya dan wajahnya berubah menjadi wajah yang serius.
"kamu serius sayang?"
"iya Dika, tapi mungkin memang Andre yang memberitau Tari masalah kita jadi dia bisa tau tapi aku lupa menanyakan hal tentang Aldi".
"nanti aku bicarakan ini dengan Andre ya, kamu engga usah khawatir yuk sekarang kita pulang".
"Aku merasa tidak punya beban kalo ada kamu Dik, makasih ya".
"heiii kamu itu pacar aku, aku engga bakal lama lamain hubungan kita, aku pengen kamu cepet cepet jadi Nyonya Andika, jadi masalah kamu bakal jadi masalah aku juga".
Sena tersenyum melihat Dika yang sangat hangat, dia tidak menyangka jika orang asing yang pernah dilihatnya menyiram perempuan adalah orang yang sangat bisa menghargai pasangannya.
Sena dan Dika keluar, "Tari, kita duluan yaa.. sampe ketemuuuuu, kita liburan bareng, makasih yaa udah ngajakin aku main".
"haahhh.... ohhh iyyaa sama sama".
"dadaaah".
"Fucek, ternyata si Andre ngajakin si Sena buat maen bareng, gagal ini buat deketin Andre, oiia aku kan bisa kontek Monic" Merasa Niatnya gagal Tari meminta bantuan kepada Monic dan memberitau Monic semuanya.
***
Sesampainya di Apartement Dika, sudah ada Monic yang menunggu.
"Ngapain kamu disini" dengan wajah ketus Dika tanpa basa basi.
"Aku yang harusnya nanya sama cewe kampung ini, ngapain dia ada sama kamu. engga puas sama satu cowok hahh?" Monic langsung membentak Sena.
"Jaga ucapan loe sama calon istri gue Monic, loe sekarang pergi dari sini, gue nyesel enggak jeblosin loe ke penjara waktu itu"
"gue bakal pergi, tapi gue mau ngasih tau sama cewek kampung ini harusnya dia ngaca asalnya dari kampung bakal tetep kampungan, engga pantes dapetin anak anak Wiguna mau adiknya atau kakaknya, loe pengen jadi kaya dengan godain Dika dan Andre?! Jangan ngimpi loe".
Satu tamparan keras keluar dari tangan Dika.
__ADS_1
"Jangan sekali kali lagi loe ngehina Sena, loe ngehina Sena sama aja loe ngehina gue.. Ayo Sena kita masuk".
Monic ditinggal sendiri dengan tamparan di pipinya, sementara Sena mulai menangis mendengar ucapan yang dilontarkan kepadanya.