Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 22 Rencana Pembunuhan Elina (Part 3)


__ADS_3

Dimas yang sudah duduk disebuah pesawat mewah milik kerajaan Luwis....terus memegang sebuah cincin bermahkota biru, bibirnya terus tersenyum melihat cincin pemberian Ayahnya itu.


Sekarang dia sudah mendapatkan persetujuan ayahnya untuk mengangkat Elina sebagai permaisurinya. Cincin itu sebagai buktinya karena cincin itu merupakan cincin peninggalan ibunya saat diangkat menjadi Ratu.


Saat urusannya selesai di Luwis, dia akan kembali ke pulau dan menjemput istrinya lalu menobatkan Elina sebagai permaisurinya, itulah rencananya tetapi dia tidak tahu bahwa rencananya itu tidak akan terwujud.


Tiba - tiba Halim datang dengan wajah serius sekaligus khawatir, dia terus menunduk dan berlutut didepan Dimas, dia tidak berani menatap wajah dimas ataupun membuka mulutnya.


"Apa yang terjadi?" tanya dimas.


Wajahnya yang tadi tersenyum, tiba - tiba berubah saat melihat halim terus menunduk dan berlutut.


"Aku bertanya padamu" kata dimas yang khawatir.


"Maafkan saya yang mulia, saya siap menerima hukuman dari anda" jawab halim.


"hei...." teriak dimas yang marah. "Aku bertanya padamu, kau tidak dengar" tanya dimas kembali.


"Terjadi sesuatu dipulau yang mulia" jawab halim dengan nada ketakutan.


"Putar balik ke pulau pelangi" kata dimas sambil berdiri.


"Sekarang pesawat tidak memungkinkan untuk mendarat disana yang mulia" jawab halim.

__ADS_1


"Kau kan bisa menggantinya dengan helikopter" kata dimas tegas.


"Baik...yang mulia" jawab halim.


Halim pun menyuruh pilot untuk ke pangkalan militer yang ada disitu. Mereka lalu mendarat disebuah bandara pangkalan militer yang terdekat didaerah itu. Saat turun, pangeran dimas langsung disambut seorang jendral militer didaerah itu.


"Selamat siang yang mulia, apa yang anda butuhkan" kata jendral itu sambil membungkuk.


"Siapkan sebuah helikopter untukku" perintah dimas tegas.


"Baik yang mulia" jawab jendral.


"Aku ingin helikopter yang bisa terbang selama 80 menit" kata dimas.


***


Helikopter pun sudah siap, dimas dan pengawal pribadinya naik ke helikopter sedangkan halim diperintahkan untuk kembali ke Luwis.


Setelah satu jam perjalanan, sampailah mereka dipulau pelangi. Dimas dan pengawalnya pergi ke rumah Elina tapi tidak menemukan mereka.


Saat itu....Jerry, Iman dan Sera datang lalu membawa dimas ke kuburan nenek Sira. Dimas sangat syok tak percaya apalagi saat Jerry memberitahukan semua yang terjadi dipulau itu, dimas tambah syok tak percaya.


"Tidaaaaaaak.......teriaknya. "ini tidak mungkin" wajahnya terlihat merah, dia mulai menangis didepan kuburan nenek Sira dan terus meminta maaf.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena sudah gagal melindungi kalian, tapi aku tidak mempercayai kematian mereka berdua sebelum aku menemukan mayatnya sendiri" kata dimas didepan batu nisan nenek Sira.


***


Dimas lalu berdiri dan hampir jatuh tapi dibantu oleh pengawalnya lalu dia menepis tangan pengawalnya itu.


Wajahnya terlihat sangat sedih bahkan berjalan pun dia seperti tak sanggup. Dimas sangat hancur saat itu. Dia terus berjalan sampai ke tengah laut, Alex pengawalnya yang melihat itu berlari menolong dimas dan mencoba menenangkannya. Dia mengatakan pada tuannya itu bahwa orang - orangnya sebentar lagi akan datang mencari Elina dan Paman Arya.


Dimas pun mendengarkan pengawalnya itu dan kembali ke rumah Elina untuk menunggu para pengawalnya datang.


Saat mereka datang....pencarian pun terus dilakukan selama berhari - hari tetapi mereka tidak menemukan mereka berdua. saat itu dimas sangat yakin bahwa istrinya masih hidup. Dia berpikir bahwa Elina masih marah padanya makanya dia bersembunyi darinya, dia terus meyakinkan dirinya.


***


Selama beberapa hari dimas tidak menemukan keberadaan mereka, dia pun kembali ke Luwis bersama pengawalnya itu. Saat itu Dimas sudah disambut oleh beberapa pejabat kerajaan.


***


Sementara ditempat lain Elina berada disebuah kamar yang cukup luas dihiasi dengan dinding berwarna pink. jendela kaca yang berhias horden berwana coklat mengkilat. Kasur bergaya klasik menghadap ke jendala kaca. Dikasur itu Elina tengah duduk menghadap jendela kaca yang ada didepannya. Dia tampak lemah dan hanya termenung, entah apa yang dipikirkannya, hanya dia yang tahu. Ibu wulan masuk bersama dokter Alia untuk memeriksa keadaan Elina.


Dokter Alia mengatakan bahwa kondisi Elina semakin hari semakin buruk, dia bahkan tidak bisa diajak bicara apalagi mau makan. Satu - satunya cara adalah menghilangkan ingatan tentang masa lalunya. Tanpa berpikir....ibunya Elina langsung setuju asalkan putrinya sembuh dari depresinya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2