Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 33 Latar Belakang Sabrina (part 2)


__ADS_3

Saat sampai rumah, Sandrina langsung masuk ke kamarnya


dengan ekspresi marah dan tidak senang, dia membanting pintu kamarnya, sabrina dan Evan yang melihatnya terlihat bingung.


Dikamar.....Sandrina langsung melempar tas yang dia pegang, lalu dia melihat dirinya dicermin.


“Bagian mana dari diriku yang dia tidak suka, kenapa dia selalu dekat dengan gadis penjilat itu” kata sandrina yang marah. Dia mengambil gelas yang ada dimeja dekat tempat tidurnya lalu melemparkannya ke cermin kaca.


“Awas kau Sabrina, beraninya kau.... kau sudah mengambil perhatian ibu dan ayahku. Dan sekarang kau mengambil perhatian Pangeran Milan, lihat saja...apa yang akan kulakukan padamu nanti” dengan wajah yang sangat marah.


Setelah marah – marah sendiri, dia lalu duduk dan menghela nafas sambil memegang dadanya.


***


Sementara Sabrina sedang istirahat dikamarnya setelah pulang dari pesta dansa, matanya tidak bisa terpejam memikirkan kejadian tentang dipesta tadi.....dia sangat bingung dengan tindakan Pangeran


Dimas padanya, satu – satunya alasan masuk akal sekarang adalah Pangeran Dimas mabuk saat itu.


“Kenapa yang mulia sampai bertindak seperti itu ya, dia tidak mungkin gila kan, tapi kalau dia gila, dia tidak mungkin menjadi orang berpengaruh di luwis..haaaa pusing memikirkan dia....aaaahhh..apa dia suka padaku ya, tidak mungkinlah,...kita kan baru bertemu dengannya tadi, satu – satunya alasan yang masuk akal adalah dia itu sedang mabuk tadi, heemmm pasti begitu” gumamnya.


Dia pun memaksa matanya untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan jam 1 malam.


***


Ditempat lain....yaitu dikastil Pangeran Dimas, terlihat dimas yang masih berdiri terjaga, dia memegang gelas anggur sambil meneguknya sedikit demi sedikit, dia tidak bisa tidur. Pangeran Dimas memang menderita insomnia yang ia derita semenjak kehilangan jejak istrinya, jika dia ingin istirahat dia harus menelan beberapa pil tidur untuk membuat matanya terpejam, kadang pil itu tidak mempan padanya.


Seperti saat ini, dia sudah minum beberapa pil tidur untuk membuatnya tidur tapi tetap saja dia


terjaga, penyebabnya hanya satu yaitu Sabrina. Wajah istrinya yang marah itu tidak bisa dia lupakan.


“Apa yang harus kulakukan padamu Elina, melihatmu marah membuatku sangat sakit apalagi melihatmu tertawa dengan pria lain....seandainya dulu aku membawamu dengan paksa ke luwis mungkin kau tidak mengalami hal seperti itu dan mungkin nenek sira tidak meninggal, itu adalah kesalahanku, kau berhak membenciku atas kematian nenek sira tapi kumohon jangan berpura – pura tidak mengenalku seperti ini....aku tidak tahan” dalam hati dimas.

__ADS_1


Saat itu dia meneteskan air matanya untuk pertama kali dalam hidupnya. Sungguh sebuah keajaiban yang terjadi sekarang, bagaimana bisa seorang Dimas yang terkenal dingin dan kejam tak kenal ampun pada orang lain, bisa meneteskan air matanya seperti itu...apa orang akan percaya, tapi kalau melihat langsung mungkin sedikit percaya tidak percaya. Yaaa....namanya manusia biasa ya, biarpun dia terlihat kejam dan dingin tetapi tidak ada yang bisa menebak hati orang.


***


Kembali ke Dimas


Jam 3 subuh, Dimas masih terjaga....karena tidak bisa tidur, dia keluar dan masuk ke ruang kerjanya. Pengawal yang barusan berjaga didepan pintu kamar pangeran dimas, berlari membangunkan Alex. Haaa....kasihan alex, baru saja tidur tapi sudah dibangunkan lagi.


Pengawal itu mengatakan bahwa yang mulia sedang berada diruang kerjanya, dengan cepat...alex langsung ke ruang kerja Pangeran Dimas.


Tok....tok....tok....suara ketukan pintu


“Masuk..” kata dimas


Alex langsung masuk kedalam.....


“Ada apa?” tanya dimas.


Dimas tidak menanggapi pertanyaan Alex, dia menanyakan hal lain pada Alex.


“Dimana Halim?” tanya Dimas


“Halim ada dipaviliun belakang yang mulia” jawab alex.


“Panggil dia kesini”perintah dimas.


Alex pun pergi memanggil halim yang sedang istirahat dipaviliun belakang kastil. Tidak menunggu lama, halim datang bersama alex.


“Apa yang mulia tidak tidur semalaman?” tanya halim yang sudah berada didepannya.


Dimas tidak menanggapi pertanyaan halim yang menurutnya tidak penting. Dia menanyakan hal lain pada halim.

__ADS_1


“Bagaimana hasil penyelidikanmu?” tanya Pangeran Dimas.


“Haaa....yang mulia benar – benar tidak sabaran, baru beberpa jam menyuruh saya menyelidikinya tapi yang mulia sudah meminta hasilnya....kalau saja saya tidak cepat menyelidikinya tadi, yang mulia pasti kesal dengan hasil kinerjaku” dalam hati halim.


“Hei....kau belum mendapatkan apa – apa ya” teriak Dimas.


“Saya Cuma dapat sedikit informasi yang mulia” jawab halim.


“ Katakan” perintah dimas.


“Sepertinya nona Sabrina tidak tahu kalau paman dan tantenya itu tidak menikah..... saya mencari informasi tentang nona sabrina dua tahun lalu dari kerabat jauh tuan hadinata, mereka mengatakan bahwa nona sabrina hanya tinggal dirumah selama setengah tahun, dia tidak diperbolehkan keluar rumah, bahkan keluarga terdekatnya saja tidak tahu dia seperti apa, hanya tiga orang yang selalu bertemu dengannya, ibu wulan, tuan arya dan nyonya alia. saya juga mendengar kalau kemunculan nona sabrina bertepatan dengan kemunculan paman dan tantenya yang tiba – tiba menikah dan punya anak berumur 19 bulan. Menurut dari umur anak itu sangat cocok dengan anak yang dikandung nona elina, jika nona melahirkan anak, umurnya sama dengan anak tuan arya tapi saya tidak bisa mendapatkan informasi tentang siapa anak itu. Dan keluarga hadinata sepertinya sengaja mengubah umur nona sabrina, saya tidak tahu alasan mereka melakukan semua itu yang mulia” jelas Halim.


Dimas terdiam sejenak mendengar penjelasan Halim tetapi dari diamnya itu menunjukkan ekspresi lain dari biasanya, halim tidak mengerti dengan ekspresi yang dipasang dimas sekarang.


“Apa sudah kau katakan semuanya?” tanya Dimas.


“Itu saja informasi yang saya dapat yang mulia” jawab halim


“Hari ini kau sudah bekerja keras....terima kasih, kau boleh keluar sekarang” perintah Dimas.


Alex dan Halim terkejut mendengar ucapan terima kasih yang keluar drai mulut Dimas.


“Apa ini yang mulia.....jangan membuat saya takut, hari ini saya sudah banyak melihat ekspresi aneh anda, jangan membuat saya mati berdiri” dalam hati halim.


“Hei....apa kau dengar, aku menyuruhmu keluar” teriak dimas.


“Baik yang mulia” jawab halim


“Syukurlah dia kembali dengan sifatnya yang biasa” dalam hati halim.


Dia pun keluar meninggalkan dimas yang masih duduk dikursi kerjanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2