
Media Negara Luwis memberitakan tentang Dimas yang tengah menggendong seorang gadis ke Rumah Sakit karena itu Dimas dipanggil menghadap oleh Raja Luwis ayahnya karena sekarang ia tengah bertunangan. Dimas meminta ijin pada Sabrina untuk pergi ke Istana sebelum pergi ia meninggalkan dua pengawal padanya dan Dea sekarang juga sudah berada di Rumah Sakit menjaga Sabrina.
Istana Luwis.
Dimas berjalan menuju Taman Kekasairan tempat dimana Raja berada sekarang. Semenjak Raja punya penyakit ia memang sering menghabiskan waktunya ditaman menghirup udara yang dipenuhi dengan bunga dan tanaman obat. Itu bisa membuat pikirannya tenang. Tamannya terlihat sangat indah karena berbagai macam bunga dan tanaman obat yang ada ditaman itu.
Saat melihat ayahnya yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh hijau, Dimas langsung berjalan kearahnya dan membungkuk hormat pada ayahnya itu.
“Dimas menghadap pada Yang Mulia Raja” sambil membungkuk hormat.
“Kamu sudah datang....duduklah” dengan nada tegas. Dimas langsung duduk didepan ayahnya dan seorang pelayan yang tengah berdiri sejak tadi disitu langsung menuangkan teh hijau pada Dimas.
“Bisa kamu jelaskan tentang berita yang kamu sebabkan kemarin. Seluruh rakyat Luwis sekarang menghujat dirimu karena berita tentang dirimu yang menggendong seorang wanita disaat kamu memiliki tunangan?” tanya ayahnya dengan wajah serius.
“Itu memang benar ayah....kemarin aku memang sedang menggendong seorang wanita di Rumah Sakit tapi aku sama sekali tidak bersalah disini bahkan hari ini aku akan mengadakan konfrensi pers atas kejadian kemarin”
“Apa maksdumu?”
“Wanita yang kemarin aku gendong itu adalah istriku Elina yang dulu kuceritakan pada Ayah”
“Istrimu...” dengan wajah terkejut. “Bukankah dia sudah meninggal dua tahun yang lalu?” tanya ayahnya serius.
“Tidak.....dia masih hidup Ayah” jawabnya.
“Jika dia masih hidup...kenapa dia tidak datang padamu bukankah seluruh negara Luwis tahu tentang dirimu”
__ADS_1
“Dua tahun lalu dia mengalami cedera yang mengakibatkan dirinya lupa ingatan”
“Jadi sekarang dia tidak mengingat siapa dirimu?” tanya ayahnya.
“Ia ayah...Dimas juga ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Ayah tentang Karina” dengan wajah serius.
“Ada apa dengan wanita itu...apa dia berulah lagi?” tanya ayahnya dengan nada tegas.
“Ia ayah....”
“Katakanlah apa yang dia lakukan kali ini?”
Dimas menceritakan semua tentang yang dilakukan Karina pada istrinya dua tahun lalu. Raja Luwis sangat marah dan syok....ia tak menyangka jika Karina yang selama ini selalu menunjukkan wajah lemah dihadapannya mampu melakukan kejahatan yang tak pernah bisa dimaafkan.
“Ayah serahkan semuanya padamu Dimas...kamu merupakan pewaris Kerajaan Luwis saat ini jadi kamu mau menghukum Karina dengan cara apa itu terserah padamu tapi jangan pernah libatkan adik – adikmu. Mereka berdua masih muda”
“Pergilah....selesaikan semua masalah yang disebabkan Karina setelah itu bawa istrimu menghadap padaku. Ayah tidak peduli dengan dirinya yang lupa ingatan atau apalah itu sekarang dia adalah istrimu tidak ada yang bisa membantahnya” jelasnya dengan tegas.
“Baik ayah”
Dimas pun pergi meninggalkan ayahnya yang masih duduk menikmati tehnya dan udara segar yang ada ditaman indah itu.
Sementara ditempat lain, Belinda tengah berada di depan Rumah Sakit kerajaan. Saat ia tahu tentang berita Dimas yang menggendong Sabrina, ia langsung menuju Rumah Sakit untuk melabrak Sabrina, wajahnya terlihat sangat marah. Ia sekarang sudah berada didepan kamar dimana Sabrina dirawat.
“Minggir aku ingin masuk kedalam” teriaknya pada kedua pengawal didepan kamar Sabrina. Sedangkan Dea saat itu tak ada karena ia disuruh Sabrina membelikannya beberapa makanan.
__ADS_1
“Anda tidak boleh masuk nona” balas salah satu pengawal.
“Apa kalian tidak tahu aku. Aku adalah tunangan Pangeran Dimas?” dengan wajah melotot didepan kedua pengawal itu.
Karena tahu mereka adalah tunangan Pangeran Dimas, mereka pun diijinkan masuk kedalam. Tentu saja Belinda langsung masuk kedalam, ia berjalan cepat dan langsung menampar Sabrina yang tengah duduk dikasurnya. Sabrina sangat terkejut dengan tamparan Belinda.
“Anda siapa....tiba – tiba datang menampar saya?” dengan wajah sedikit kesal.
“Kamu mau tahu siapa saya. Saya adalah tunangan Pangeran Dimas” dengan nada tegas.
Saat mendengar Belinda mengatakan jika ia adalah tunangan Dimas, Sabrina langsung melepas selang infusnya dan turun dari tempat tidurnya. Ia sekarang berhadapan dengan Belinda.
“Jadi Anda tunangan Mas Dimas”
“Apa.....Mas Dimas. Berani sekali kamu memanggil tunangan orang dengan sebutan Mas Dimas. Dasar murahan” teriaknya.
Belinda ingin menampar lagi Sabrina tapi Sabrina menghindar dan ia yang menonjok wajah Belinda dengan keras sampai membuat hidungnya berdarah.
“Aaaaaahhh darah” teriaknya sambil memegang hidungnya yang berdarah. “Beraninya kamu memukulku.....” dengan wajah melotot. Sabrina hanya tersenyum mengejek padanya.
“Rasakan itu.....” sambil tertawa mengejek.
Tiba – tiba Dimas berlari menuju kamar Sabrina saat tahu dari salah satu pengawalnya jika Belinda datang mengacau. Ia masuk kedalam kamar Sabrina dengan wajah khawatir karena dia tahu kalau Belinda itu orang yang sangat berani tapi betapa kagetnya dia saat melihat Belinda terjatuh dilantai sedangkan Sabrina sedang berdiri didepan Belinda sambil melingkarkan kedua tangannya didada. Rasa Khawatirnya tadi berubah menjadi senyuman diwajahnya.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like and comment ya