Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 44 Malas bergerak karena kamu


__ADS_3

Dimas sekarang berada di Ruang Kerjanya bersama Halim mendiskusikan tentang penurunan Karina sebagai Anggota Kerajaan.


“Yang Mulia...menurut saya sebaiknya Anda mengurus Nyonya Karina dulu sebelum melakukan konfrensi pers agar tidak menyebabkan kekacauan lagi. Takutnya kalau Anda mengumumkan tentang permaisuri Anda, dia akan melakukan hal yang tidak bisa kita ketahui”


“Benar juga dengan yang kamu katakan itu. Kalau begitu besok pagi kamu undang para menteri untuk hadir di Istana Pemerintahan. Disana aku akan mengumkan tentang penurunannya dari anggota kerajaan”


“Baik Yang Mulia”


“Kamu boleh istirahat sekarang”


“Baik Yang Mulia....saya permisi”


Setelah Halim keluar, Dimas berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamarnya.


Saat masuk kamar, ia melihat Sabrina sudah baring miring ditempat tidurnya. Ia lalu masuk ke ruang ganti bajunya dan melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya lalu menggantinya dengan baju mandi. Dimas keluar dari ruang gantinya menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit mandi, ia keluar dengan baju mandinya sambil menggosok – gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang dipegangnya.


Karena tak punya tenaga lagi....ia langsung membaringkan tubuhnya disamping Sabrina dengan baju mandinya yang menempel ditubuhnya. Ia langsung memeluk Sabrina yang tengah baring membelakanginya.


“El....aku sangat merindukanmu” gumamnya sambil memejamkan matanya. Ia pun tertidur sambil memeluk Sabrina dengan erat. Sementara Sabrina tidak tidur dari tadi karena tak tahu harus melakukan apa didepan Dimas. Sekarang ia hanya bisa membiarkan Dimas memeluknya karena Dimas memang punya hak atas dirinya. Itu tidak bisa terbantahkan olehnya, ia pun berusaha tertidur dengan pelukan Dimas ditubuhnya.


Keesokan paginya.....Dimas bangun, ia terus memandangi wajah Sabrina yang menghadap padanya sambil mengelus lembut pipi Sabrina. Sabrina bangun dan sudah melihat Dimas didepannya.


“Pagi sayang....” sapa Dimas sambil tersenyum.


“Pagi mas....”

__ADS_1


“Apa kamu tidur dengan nyenyak disini?” tanya Dimas


“Ia.....aku tidur dengan nyenyak kok”


“Syukurlah kalau kamu bisa tidur nyenyak berarti kamu nyaman disini”


“Apa aku bisa ke Rumah Belakang nanti...aku ingin bertemu dengan keluargaku?”


“Mereka sudah kupanggil datang kesini....nanti siang mereka akan datang kesini sayang”


“Terima kasih mas”


“Ia....yang penting kamu senang aku juga ikut senang”


“Bukankah hari ini Mas Dimas ada konfrensi pers...kenapa tidak bangun?”


“Ia mas...” sambil bangun.


“Kamu mau kemana?” tanya Dimas dengan wajah serius.


“Aku mau mandi terus ke sekolah”


“Ngapain ke sekolah...kamu kan masih sakit. Istirahat saja di Kastil”


“Baiklah...kalau itu kemauan Mas Dimas tapi besok aku harus ke sekolah ya”

__ADS_1


“Oke...asalkan kamu sudah sehat”


“Kalau gitu Mas Dimas yang pergi mandi......kan mau pergi ke Istana”


Dimas bangun dan langsung melingkarkan tangannya pada perut Sabrina sambil meletakkan kepalanya dipundak Sabrina.


“Haaaaaaa......sebenarnya hari ini aku malas sekali untuk bergerak karena kamu. Tapi untuk menyelesaikan masalah yang sangat penting, mau tidak mau harus pergi”


Ia lalu melepaskan pelukannya dari Sabrina dan mengecup keningnya membuat jantung Sabrina dag dig dug tak karuan. Dimas langsung turun dari kasur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sedangkan Sabrina kembali baring dikasur. Setelah mandi, Dimas masuk keruang ganti nya dan berpakaian rapi dengan setelan jaz seragam mahkotanya berwarna merah. Ia keluar dari ruang ganti dan melihat Sabrina sudah duduk disofa sambil menunduk memainkan HP-nya. Sabrina mendongakkan kepalanya melihat Dimas yang berjalan kearahnya. Betapa terkejutnya ia melihat penampilan Dimas memakai seragam pangeran mahkota yang menempel ditubuhnya.


“Astaga...dia gagah sekali dengan baju pangerannya itu. Apa itu ya, pakaian yang dipakai setiap dia ke istana kerajaan. Aku tak menyangka kalau dia adalah suamiku, seluruh negara Luwis menginginkan menikah dengannya tapi aku yang biasa – biasa saja tiba – tiba menjadi istrinya” dalam hati Sabrina sambil melihat Dimas.


“Sudah puas lihatnya....” ucap Dimas yang sudah berdiri didepannya sambil tersenyum. Sabrina tersadar dari lamunannya setelah mendengar Dimas menggodanya.


“Ah.....Mas Dimas sudah


mau pergi”


“Ia sayang...tunggu aku pulang ya. Aku Cuma sebentar saja kok”


“Ia...”


Dimas mengecup kening istrinya dengan sangat lama...lalu pergi meninggalkan Sabrina yang masih duduk disofa. Setelah Dimas pergi, Sabrina masih mengotak – ngatik HP-nya mencoba menghubungi Pangeran Milan karena sejak terakhir disekolah ia tak pernah bertemu dengan Pangeran Milan sedangkan Milan yang berada dikamarnya, membiarkan HP-nya berbunyi sendiri setelah melihat jika yang menghubunginya adalah Sabrina. Ia tak ingin mengganggu Sabrina sejak ia tahu kalau Sabrina adalah istri kakaknya bahkan ia berencana untuk meninggalkan Luwis dan kembali ke inggris.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like and koment ya karena like itu gratis


__ADS_2