
Pangeran Dimas masih berada di Rumah Sakit Kerajaan tempat dimana Sabrina dirawat. Ia kemudian masuk kedalam kamar Sabrina sambil berjalan pelan, ia kemudian duduk disofa sambil melirik Sabrina yang tengah duduk bersandar dikasur. Sabrina juga sesekali melirik Dimas tapi mereka hanya diam saja tanpa bicara karena Dimas juga tak tahu harus bicara apa setelah Sabrina tahu tentang statusnya dan untuk mengusir kecanggungan diantara mereka, Dimas memainkan Handphonenya didepan Sabrina.
Sebenarnya banyak sih yang ingin ia bicarakan pada Sabrina tapi bagaimana bisa ia bicara pada Sabrina yang masih tidak mengingat dirinya begitupun dengan Sabrina, ia malu bicara duluan pada Dimas karena ia masih merasa asing dengan Dimas yang tiba – tiba mengaku sebagai suaminya bahkan memiliki anak darinya.
Selama 30 menit diam dan hanya lirik – lirikan, Sabrina memberanikan dirinya bicara pada Dimas.
“Maaf....apa aku boleh bertanya?” tanya Sabrina membuat Dimas kaget sampai menjatuhkan Handphone yang dipegangnya. Sabrina hanya tersenyum melihatnya.
“Apa...tanyakanlah?” sambil mengambil Handphone yang jatuh didepannya dan menegakkan tubuhnya disofa.
“Bagaimana aku memulainya ya?” gumamnya pelan.
“Tanyakan apa yang ingin kamu tahu. Aku akan menjawab semuanya dengan jujur?” sambil tersenyum pada Sabrina.
“Apa yang mulia benar – benar adalah suamiku?” tanya Sabrina dengan serius karena ia masih tak percaya.
“Kalau kamu tidak percaya, aku bisa memberikan buku nikah yang pernah kita tandatangani berdua waktu di Pulau Pelangi” jelasnya sambil menatap Sabrina.
“Jadi benar....dia adalah suamiku” dalam hati Sabrina.
“Oh...tidak perlu. Kalau Yang Mulia punya buktinya aku sudah percaya, aku hanya ingin memastikannya lagi.” Sambil tersenyum pada Dimas. “Tapi aku masih ingin menanyakan hal yang penting”
“Tanyakan saja langsung tidak usah meminta ijin dariku”
“Apa Yang Mulia bisa menceritakan semua yang terjadi dimasa lalu?” tanya Sabrina dengan wajah serius.
“Tentu saja....kalau kamu ingin mendengar semuanya. Aku akan menceritakannya” sambil tersenyum senang.
__ADS_1
Pangeran Dimas menceritakan semua antara dia dan Sabrina dimasa lalu. Saat Sabrina menolongnya, jatuh cinta padanya, menembaknya, melamarnya dipantai, menikah yang dihadiri para penduduk pulau, saat ia hamil muda, sampai Sabrina marah karena sudah membohonginya.
Sabrina terharu mendengar kisahnya bersama Dimas. Ia tak menyangka jika ternyata ia punya masa lalu yang indah bahkan membuat dirinya yang sekarang ini iri dengan kisahnya sendiri.
“Kisah yang Anda ceritakan sangat indah sampai membuatku iri.” Kata Sabrina sambil tersenyum.
“Kenapa kamu harus iri. Itu kan kisah kita berdua?” tanya Dimas.
“Itu karena aku masih merasa asing seperti bukan aku yang mengalaminya”
Dimas lalu berdiri dari sofa dan duduk disamping Sabrina sambil memegang tangan Sabrina.
“Tenang saja....aku akan berusaha membuatmu mengingat semua kenangan kita dimasa lalu”
“Kalau aku tidak mengingatnya bagaimana?”
“Terima kasih....Tapi maaf kalau aku tidak bisa mengingat Anda”
“Jangan minta maaf dan jangan memanggilku dengan sebutan Anda atau Yang mulia”
“Lalu aku harus memanggil Yang mulia dengan sebutan apa?”tanya Sabrina.
“Panggil saja Mas Dimas, karena dulu kamu juga memanggilku dengan sebutan Mas Dimas” jawabnya.
“Baiklah...Mas Di...mas” ucapnya dengan nada gugup.
“Oyah....aku ingin mengatakan sesuatu padamu” ucap Dimas.
__ADS_1
“Apa...?”
“Apa kamu setuju jika aku mengadakan konfrensi pers untuk mengumumkan kambalinya dirimu” sambil menatap serius Sabrina. Sabrina terdiam sejenak sambil menatap dalam – dalam wajah Dimas.
“Kalau Mas Dimas mengumumkan tentang kehadiranku lalu bagaimana dengan tunangan Anda?” tanya Sabrina.
“Bina....aku tidak pernah mencintai seseorang selain dirimu. Dia hanya alat bagiku untuk menemukan dirimu apalagi ada hal yang harus kuselidiki tentang dirinya dan Karina” jelasnya.
“Apa dia bukan wanita baik – baik?” tanya Sabrina dengan wajah polosnya.
“Ia....”
“Baiklah...itu terserah Mas Dimas. Keputusan semua ada pada Mas Dimas apalagi Mas Dimas itu sudah menjadi waliku jadi aku akan menuruti semua yang dilakukan Mas Dimas selama itu baik” jelasnya.
“Terima kasih....kamu memang belum berubah. Masih tetap istriku yang dulu” sambil memegang pipi Sabrina. Sabrina hanya menunduk karena malu karena ia masih terasa asing dengan perlakuan Dimas.
Saat perbincangan mereka, tiba – tiba Alex datang mengetuk pintu sambil memanggil namanya.
“Kamu tunggu disini ya....aku keluar sebentar”
“Ia...”
Dimas mengecup kening Sabrina dan berjalan keluar meninggalkan Sabrina. Sabrina yang dicium tadi sangat kaget sambil memegang keningnya.
Sementara diluar, Alex melaporkan pada Dimas jika yang memiliki tato tengkorak itu adalah anak buah Karina jadi dia tahu jika Karina lah yang berusaha membunuh Sabrina. Ia pun sangat marah tapi ia tak bisa memenjarakan Karina karena baginya itu adalah hukuman ringan bagi seorang Karina apalagi ia adalah Anggota Kerajaan. Ia tak ingin jika Karina sampai dipenjara berakibat tidak baik pada Keluarga Kerajaan dimasa depan apalagi bagi masa depan Pangeran Milan. Jadi satu – satunya cara adalah menurunkan Karina dari jabatannya sekarang sebagai Anggota Kerajaan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like and koment ya.