
Siang itu....Pangeran Dimas datang ke Rumah Kediaman Surya Hadinata bersama para pengawalnya dan Sekretaris Halim. Semua orang sudah menunggunya didepan Rumah Keluarga Hadinata kecuali Sabrina, Sandrina dan Evan karena mereka belum kembali dari sekolah.
Pak Surya dan yang lainnya tahu kedatangan Pangeran Halim karena sesaat tadi Sekretaris Halim sudah memberitahu Keluarga Hadinata tentang kedatangan mereka tapi tidak memberitahukan maksud kedatangan mereka. Pangeran Dimas disambut hangat oleh Keluarga Hadinata tetapi diwajah mereka tampak bingung dengan kedatangan Pangeran Dimas.
“Silahkan masuk Yang Mulia” sapa Surya Hadinata sambil berdiri membungkuk disamping Pangeran Dimas.
Pangeran Dimas langsung masuk tanpa menghiraukan mereka semua. Ia langsung duduk disofa Ruang Tamu diikuti oleh Pak Surya dan yang lainnya. Ia mulai berbicara pada Ibu Wulan yang sudah duduk didepannya.
“Hari ini aku ingin bicara pada Nyonya Wulan” ucap Pangeran Dimas.
“Silahkan Yang Mulia....” balas Nyonya Wulan dengan wajah sedikit takut.
Semua orang terlihat tegang melihat wajah serius Pangeran Dimas saat itu.
“Apa gadis yang bernama Sabrina itu adalah putri kandungmu?” tanya Pangeran Dimas.
“Ia....Yang Mulia. Tapi apa yang sudah dilakukan anak saya pada Anda” jawab Nyonya Wulan dengan wajah takut. Ia tidak tahu apa yang dilakukan putrinya sampai menyinggung Pangeran Dimas.
“Jawab dengan jujur....apa kau menemukannya di Pulau Pelangi?”
“Kenapa Yang Mulia bisa tahu tentang Pulau Pelangi?” dalam hati Nyonya Wulan.
“Ia...Yang Mulia”
Nyonya Wulan memang tidak bisa berbohong pada Pangeran Dimas karena dia bisa mencari tahu jika ia sampai berbohong.
“Tapi kenapa Anda menanyakan putri saya. Apa yang sudah dilakukan Sabrina pada Anda?” tanya Nyonya Sandra.
“Dia adalah Permaisuri saya”
Semua orang yang berada disitu sangat kaget mendengar perkataan Pangeran Dimas yang mengatakan bahwa Sabrina adalah Permaisurinya.
__ADS_1
“Yang Mulia....apa Anda tidak salah orang, putri saya tidak mungkin Permaisuri Anda. Dia belum menikah, dia masih remaja?” ucap Nyonya wulan dengan gelagapan.
“Nyonya yakin kalau putri Anda belum menikah. Apa saya perlu membuktikannya kalau putri Anda adalah istri saya yang sah dimata hukum bahkan jika Anda mencoba menutupi dari saya. Saya tetap tahu” jelas Pangeran Dimas.
Karena takut...Nyonya Wulan pun menceritakan semuanya pada Pangeran Dimas tentang kejadian yang dialami Sabrina selama dua tahun ini.
“Yang Mulia....saya melakukan ini karena tidak tahan melihat putri saya depresi. Saya tidak ada maksud lain, Anda pasti mengerti bagaimana perasaan seorang ibu jika melihat putrinya menderita depresi. Saya harap Anda bisa mengerti”
“Saya tidak akan mempermasalahkannya karena Nyonya Wulan dan Keluarga Hadinata menyelamatkan istri saya. Saya akan memberikan keluarga Anda status yang tinggi sebagai Anggota Keluarga Kerajaan tapi saya ingin mengambil istri saya kembali”
“Terima kasih Yang Mulia” sahut Tuan Surya Hadinata.
“Tapi bagaimana bisa Anda membawa putri saya Yang Mulia sedangkan dia masih dalam keadaan lupa ingatan jika Anda membawanya kembali itu hanya akan membuatnya bingung dan depresinya bisa kembali seperti dulu” ucap Nyonya Wulan dengan wajah serius sambil menunduk.
“Aku sudah menyiapkan rumah untuk kalian didekat Istanaku jadi kalian bisa pindah sekarang. Aku sudah menyiapkan beberapa pengawal untuk membantu pindahan kalian”
“Apa sebaiknya kami sekeluarga pindah besok Yang Mulia?” sahut Pak Surya.
“Aku tidak suka mengubah setiap rencana yang sudah kusiapkan. Jadi kalian harus pindah sekarang juga”
“Kakak....jangan membantah Yang Mulia. Kita pindah saja sekarang. Bukankah kita sudah menjadi bagian dari keluarga kerajaan” sahut Nyonya Ratna dengan wajah senang. Ya... karena itulah yang diinginkan Nyonya Ratna menjadi salah satu keluarga kerajaan.
“Yang Mulia....apa sebaiknya kami menunggu putri kami kembali dulu baru kamia kan pindah”
“Ya..tentu saja. Kalian boleh tunggu Sabrina”
Sabrina dan Evan yang baru kembali, melihat beberapa pengawal didepan rumahnya. Mereka pikir jika ayahnya yang sudah menyewa pengawal dirumah mereka. Mereka masuk kedalam sambil tertawa bersama Evan. Pangeran Dimas berbalik dan melihat mereka saling bercanda dan tertawa membuat wajah Dimas berubah dingin.
Sabrina dan Evan sangat kaget saat melihat Pangeran Dimas didepannya. Ia berjalan pelan kedepan bersama Evan.
“Kenapa Pangeran mesum ini disini. Apa dia melaporkan pada keluargaku tentang aku yang sudah menamparnya” dalam hati Sabrina.
__ADS_1
Sedangkan Dimas tidak pernah melepaskan pandangannya dari istrinya itu. Ia ingin sekali memeluk erat istrinya itu.
“Salam Yang Mulia” sapa Sabrina sambil membungkuk memberi hormat bersama Evan.
“Bangunlah...tidak usah terlalu formal begitu” balas Dimas sambil tersenyum memegang pundak sabrina.
Orang yang hadir saat itu sangat terkejut saat Pangeran Dimas berbicara pada Sabrina sangat berbeda saat dia berbicara pada mereka tadi.
“Yang Mulia....tolong maafkan atas perbuatan saya kemarin. Tolong jangan libatkan keluarga saya” ucap Sabrina dengan wajah takut.
“Tenang....aku datang bukan karena itu. Aku datang karena memberi pengangkatan pada keluargamu yang sudah menjadi Anggota Keluarga Kerajaan dan Ayahmu akan menjadi salah satu menteri perdagangan di Negara Luwis ini”
“Ayahku....” balas Sabrina dengan wajah terkejut sekaligus senang.
“Ia.....karena aku melihat Perusahaan ayahmu merupakan salah satu perusahaan terbaik di Negara ini. Itu sudah membuktikan jika dia adalah pebisnis terbaik di Negara ini”
“Benarkah...selamat ayah” sambil memeluk Pak Surya.
“Terima kasih sayang...ini semua berkat kau nak”
“Hah....berkat aku. Maksudnya” balas Sabrina dengan wajah bingung.
“Oh....maksud ayahmu. Kau itu merupakan keberuntungan keluarga kami sayang” ucap Nyonya wulan sambil memberikan kode pada suaminya untuk tidak memberitahu putrinya tentang situasi tadi.
“Kalau begitu kami pamit dulu Nyonya” sahut Sekretaris Halim.
“Silahkan Yang Mulia...saya antar sampai kedepan” pinta Pak Surya sambil membungkuk.
“Sabrina....saya permisi dulu ya” ucap Pangeran Dimas dengan wajah tersenyum.
Orang – orang masih tidak menyangka dengan sikap Pangeran Dimas yang tiba – tiba berubah didepan Sabrina tidak seperti tadi dia memasang wajah dingin didepan mereka. Ini seperti ibu tiri yang pura – pura baik pada anak tirinya saat ayah mereka datang. Itulah yang terjadi saat ini, Pangeran Dimas hanya berbicara baik kepada mereka jika Sabrina datang.
__ADS_1
Setelah Pangeran Dimas pulang....Nyonya Wulan memberitahu Sabrina tentang kepindahan mereka yang tiba – tiba karena atas perintah Pangeran Dimas. Sabrina mengerti itu karena dia sudah mendengar tentang keberuntungan yang didapatkan keluarganya tadi begitupun dengan Sandrina yang baru kembali. Ia sangat senang bisa menjadi Anggota Keluarga Kerajaan, itu berarti ia bisa mendekati Pangeran Milan dengan mudah.
Bersambung