Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 39 Syok Tak Percaya


__ADS_3

Sekretaris Halim sudah berada dirumah belakang, ia menyuruh Dea memanggil Sabrina yang sekarang berada dikamarnya. Dea mengetuk pintu kamar Sabrina. Sabrina membuka pintu kamarnya dan sudah melihat Dea berdiri didepannya.


“Ada apa lagi?” tanya Sabrina.


“Tuan Halim ada diluar nona” jawab Dea.


Sabrina pun keluar kamarnya dan berjalan ke ruang tamu dimana Sekretaris Halim berada.


“Ada apa...Anda memanggil saya?” tanya Sabrina dengan wajah tak senang.


“Selamat sore nona.....yang mulia menyuruh Anda menghadap ke Kastil sekarang. Keluarga Anda juga ada disana” sambil membungkuk hormat.


“Kebetulan sekali....aku juga mau bicara padanya” gumamnya.


“Silahkan nona”


Sabrina berjalan menuju Kastil diikuti Sekretaris Halim dibelakangnya. Saat di Kastil, Sabrina berhenti dan menengok kebelakang Sekretaris Halim.


“Ada apa nona?” tanya Sekretaris Halim.


“Anda yang berada didepan karena saya tidak tahu dimana tempat yang mulia berada”


“Baik nona”


Sekretaris Halim berjalan duluan melewati Sabrina yang masih berdiri. Saat Halim sudah jalan, Sabrina mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di Ruang Kerja Dimas. Mereka langsung masuk kedalam, Sabrina kaget melihat keluarganya sudah berdiri didepannya. Sementara Dimas tengah berdiri didepannya sambil menyenderkan tubuhnya dimeja kerjanya.


“Ada apa ini....kenapa semua orang disini?” dalam hati Sabrina.


Nyonya Wulan langsung datang menghampirinya dan memegang tangan Sabrina. Suasana mulai tegang saat itu, begitupun dengan wajah Dimas. Ia terlihat sangat tegang melihat kedatangan Sabrina.


“Ada apa ini....kenapa kalian terlihat tegang sekali?” tanya Sabrina. Nyonya Wulan menengok kearah Dimas, Dimas lalu mengangguk pelan.


“Sayang.....ibu ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu tapi sebelum itu ibu ingin memohon supaya kamu tidak marah pada ibu” kata Nyonya Wulan dengan wajah khawatir.

__ADS_1


“Ibu ingin mengatakan apa?” tanya Sabrina yang sedikit tegang.


“Janji dulu kalau kamu tidak akan syok dan marah pada ibu” sambil memegang erat kedua tangan Sabrina.


“Aku janji tidak akan marah. Cepat katakanlah bu”


“Sabrina.....dua tahun yang lalu kamu mengalami depresi yang membuat kamu tidak bisa makan sampai sekarang pun kamu hanya bisa makan sayuran saja akibat dari depresimu itu”


“Ia...aku tahu tapi apa ini yang ingin ibu katakan?”


“Bukan.....sebenarnya dua tahun lalu kami semua sengaja menghapus memorimu untuk menyembuhkan penyakit depresimu itu dan sekarang ibu ingin mengatakan kalau sebenarnya kamu sudah menikah dua tahun lalu bahkan memiliki anak” jelas Nyonya Wulan sambil menatap dalam – dalam putrinya.


“Apa.......” Sabrina sangat terkejut mendengar ucapan ibunya. “Ibu bercanda kan” dengan ekspresi tak percaya.


“Tidak nak...ibu tidak berbohong.”


“Bagaimana bisa aku menikah....ibu tidak pernah bilang padaku?” tanya Sabrina dengan wajah sedih.


“Karena waktu ibu menemukanmu dengan Paman Arya kamu sudah hamil besar tapi dulu ibu tidak tahu siapa suami kamu. Ibu hanya membawamu bersama Paman Arya keluar negeri. Waktu itu kamu sakit depresi karena merasa kehilangan suami dan nenek yang paling kamu sayangi apalagi kamu hampir dibunuh oleh sekelompok orang makanya ibu menghapus memorimu agar kamu tidak mengingat kenangan yang menyakitkan itu”


“Kamu lihat yang mulia didepanmu....” sambil menengok kearah Dimas. Sabrina juga ikut melihat Dimas yang ada didepannya. “Dia adalah suami kamu nak”


Sabrina semakin terkejut, ia sampai tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan hampir jatuh tapi untung saja tangannya dipegang ibunya.


“Sabrina..sayang”


“Tidak ibu....hahahaha....tidak mungkin ibu.” Sambil tertawa paksa karena tak percaya. “Dia bukan suamiku” matanya sudah berkaca – kaca.


Pangeran Dimas berjalan pelan kearahnya sambil menatap Sabrina dengan pandangan penuh kerinduan. Ia langsung memeluk Sabrina.


“Itu semua benar Sabrina...aku adalah suamimu” sambil memeluk erat tubuh Sabrina.


Sabrina mendorong tubuh Dimas dengan keras sampai membuat Dimas tersungkur kelantai. Sabrina berjalan mundur sambil menutup mulutnya karena menahan tangisannya. Ia lalu berlari keluar Kastil menuju rumah belakang, Ia mengambil kunci mobilnya pada Dea yang saat itu tengah berdiri didepan Rumah. Dimas mengejar Sabrina sampai kerumah belakang dan sudah melihat Sabrina menaiki mobil Dea.

__ADS_1


“Bina....buka pintunya....kamu mau apa” sambil menggedor – gedor kaca mobil Sabrina. “Sabrina.... jangan gila. Kamu mau kemana?” ia terus menggedor pintu mobil Sabrina.


Sabrina melajukan mobilnya dengan cepat sampai keluar Kastil. Dimas mengejarnya tetapi tidak bisa meraihnya lagi. Ia lalu mengendarai salah satu motor besarnya. Semua orang keluar dan melihat Dimas sudah keluar mengejar Sabrina dengan motor besarnya. Wajah mereka terlihat khawatir, terutama Nyonya Wulan.


“Bagaimana ini sayang....?” kata Nyonya Wulan pada suaminya.


“Tenanglah sayang.....Bina pasti baik – baik saja. Kamu jangan khawatir, yang mulia tadi mengejarnya kan” sambil mengelus punggung istrinya mencoba menenangkannya.


Sekretaris Halim dan Alex mengikuti Dimas dengan mengendarai salah satu mobil sport Dimas. Mereka sudah bisa melihat Dimas didepannya.


Sementara Sabrina terus melajukan mobilnya dengan cepat sambil menangis keras. Ia tidak menyangka jika keluarganya menyembunyikan kehidupan lalunya.


Dimas sudah berada disamping mobil Sabrina......


“Bina.....cepat hentikan mobilnya sekarang.” Teriaknya dengan keras. Sabrina tidak mempedulikan Dimas saat itu. Ia terus menangis sampai membuat matanya rabun tak melihat jelas.


“Sabrina awaaaaass....”teriak Dimas dari belakang mobilnya.


Ia tak melihat seorang penjual grobak dorong didepannya dan akhirnya ia menabrak pohon. Kepalanya terbentur disetir mobilnya sampai membuatnya pingsan. Dimas dengan sigap turun dari motornya dan berlari kearah Sabrina.


Ia membuka kaca mobil Sabrina dan melihat Sabrina sudah tak sadarkan diri. Ia lalu mengeluarkan Sabrina dari mobil dan menggendongnya.


“Sabrina.....sayang...” sambil menggendong sabrina.


Halim dan Alex datang, mereka langsung datang menolong Dimas dan Sabrina.


“Yang mulia....Anda tidak apa – apa?” tanya Halim dengan khawatir.


“Kalian urus orang yang hampir ditabrak Sabrina” dengan wajah khawatir.


“Baik yang mulia”


Dimas langsung memasukkan Sabrina ke mobil sportnya. Dimas meninggalkan Halim dan Alex saat itu karena memang mobil yang dikendarai Halim tak cukup untuk empat orang.

__ADS_1


Bersambung


Jangan Lupa Like And Koment ya.


__ADS_2