
Dimas sampai disebuah Rumah Sakit Keluarga Kerajaan. Ia langsung masuk di UGD dan berteriak memanggil dokter. Para dokter kaget saat melihat kedatangan Pangeran Dimas sambil menggendong seorang wanita. Mereka dengan sigap berlari kearah Dimas.
“Cepat tolong dia...” teriak Pangeran Dimas.
“Baik yang mulia” balas seorang dokter senior yang merupakan kepala dokter di Rumah Sakit itu.
Para dokter pun memindahkan Sabrina ke brankar pasien dan langsung membawanya ke Ruang IGD. Semua dokter di Rumah Sakit itu sudah datang dan memeriksa Sabrina. Direktur Rumah Sakit yang mengetahui itu langsung datang dan menghampiri Pangeran Dimas.
“Yang mulia....maaf kami tidak tahu kedatangan Anda jadi kami tidak melakukan persiapan”
“Hem...” sambil mondar – mandir karena khawatir.
Selang beberapa menit, Kepala Dokter yang bernama Dokter Hedrik itu keluar dan memberitahukan kondisi Sabrina pada Pangeran Dimas.
“Yang mulia” sambil membungkuk hormat.
“Bagaimana dengan kondisinya?” tanya Dimas dengan wajah cemas.
“Dia baik – baik saja yang mulia. Hanya terbentur ringan saja” jawab Dokter Hedrik.
“Benarkah.....apa aku boleh melihatnya?” tanya Dimas.
Sontak saja membuat dokter dan kepala Rumah Sakit kaget karena Pangeran Dimas meminta ijin masuk. Biasanya kan kalau dia berada di Rumah Sakit, kalau mau masuk langsung masuk begitu saja tanpa mempedulikan orang.
“Oh tentu yang mulia.....tapi kami pindahkan dulu ke kamar VIP” jelas Dokter Hedrik.
“Baiklah..”
Para dokter Rumah Sakit membawa Sabrina keluar menuju kamar VIP. Dimas mengikutinya sambil memegang tangan Sabrina.
Saat sampai, Sabrina langsung dipindahkan ke kasur besar yang ada di kamar itu.
“Apa perlu diperiksa lagi?” tanya Dimas yang berdiri disamping Sabrina.
“Tidak yang mulia” jawab Dokter Hedrik.
“Kalau begitu kalian semua bisa keluar sekarang” perintah Dimas tegas.
“Baik yang mulia” sahut secara bersamaan.
Mereka lalu keluar Ruangan, sementara Dimas duduk disamping Sabrina sambil memegang tangannya. Tiba – tiba keluarga Hadinata datang bersama Sekretaris Halim dan Alex. Nyonya Wulan terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
“Sabrina sayang” panggilnya sambil berjalan kearah Sabrina dan langsung menangis didepan anaknya itu.
“Nyonya....dia tidak apa – apa hanya terbentur ringan” kata Dimas.
“Dia benar – benar tak apa – apa yang mulia” balas Nyonya Wulan sambil melihat Dimas.
“Ia....Anda tenang saja.” Ucapnya dengan pelan.
Tiba – tiba seorang pria masuk dan langsung memukul wajah Pangeran Dimas dengan keras. Alex dengan sigap berlari kearahnya tapi ditahan oleh tangan Dimas saat itu. Ia pun mundur kembali ketempatnya semula. Pria yang memukul Dimas itu tak lain adalah Paman Arya. Dimas sangat kaget melihat kedatangan Paman Arya. Semua orang juga kaget melihat Paman Arya tapi mereka bukan kaget karena kedatangan Paman Arya yang secara tiba – tiba tapi karena ia sudah berani memukul Pangeran Dimas.
“Paman...” panggil Dimas.
“Apa kamu tidak puas sudah membuat Elina menderita sekarang kamu ingin menambah penderitaannya. Hah” dengan wajah marah. Ya....Paman Arya memang baru sampai dan langsung diberi tahu oleh Tuan Surya jika Sabrina masuk Rumah Sakit. Tentu saja ia sangat marah pada Dimas, karena setiap Sabrina masuk Rumah Sakit pasti gara – gara Dimas.
“Maaf paman.....ini salahku” sambil melihat Paman Arya.
Semua orang disitu dibuat semakin syok. Mereka berkali – kali dibuat terkejut dengan Pangeran Dimas. Ternyata masih ada orang yang membuat Dimas bertingkah aneh bukan hanya Sabrina saja.
“Arya....tenanglah. keponakanmu baik – baik saja. Dia hanya terbentur ringan” sahut Nyonya Wulan.
Tiba – tiba Sabrina siuman, Paman Arya dengan sigap berada disampingnya sambil memegang tangannya.
“Bina...kamu tidak apa – apa sayang” sambil menatap Sabrina dengan ekspresi sedih.
“Ia sayang....”
Sabrina melihat kearah Pangeran Dimas yang ada dibelakang Paman Arya lalu kembali melihat Paman Arya.
“Apa benar...kalau aku sudah menikah dan punya anak paman?” tanya Sabrina membuat Paman Arya tiba – tiba berwajah serius. Ia lalu melihat semua orang dan kembali menatap Sabrina dengan serius.
“Ia Sabrina” ucapnya dengan pelan.
“Lalu...dimana kalian sembunyikan anakku?” tanya Sabrina dengan serius.
“Sayang...kamu istirahat dulu ya. nanti kita bahas kembali oke” balas Paman Arya sambil mengusap kepala Sabrina. Sabrina tidak mempedulikan ucapan Paman Arya dan langsung melanjutkan pertanyaannya.
“Apa Reygan adalah anakku yang kalian sembunyikan?” tanya Sabrina yang sudah meneteskan air matanya. Ia melihat Paman Arya dan ibunya secara bergantian tapi mereka hanya diam membuat Sabrina mengerti kebisuan mereka.
“Jadi benar dia adalah anakkku yang kalian sembunyikan” ucap Sabrina kembali memastikan ucapannya.
“Haaaaaaa” Paman Arya bernafas panjang sambil menunduk. Ia lalu menatap Sabrina. “Ia Sabrina”
__ADS_1
Sabrina menutup mulutnya dengan tangannya karena kaget mendengar ucapan Paman Arya begitupun dengan Nyonya Ratna, Sandrina dan Evan yang ada disitu, mereka bertiga tidak menyangka jika Sabrina benar – benar punya anak karena memang Nyonya Wulan dan suaminya tidak memberitahukan mereka. Tapi tidak dengan Dimas dan kedua bawahannya itu karena mereka memang sudah memprediksinya jika anak yang dirawat Paman Arya adalah anaknya bersama Sabrina meskipun ia masih belum membuktikannya.
“Anakku...hiks...hiks....dia anakku paman” sambil menangis karena tak menyangka. Dimas hanya diam tak bicara karena tak ingin menambah rasa kecewa Sabrina.
“Ia sayang” balas Paman Arya sambil mengusap kepala Sabrina.
“Apa kalian semua bisa keluar. Aku ingin sendiri?” kata Sabrina yang masih menangis.
“Baiklah....jika itu bisa menenangkanmu. Kami semua keluar” balas Paman Arya.
Paman Arya pun memberikan kode pada mereka untuk keluar begitupun dengan Dimas. Ia ingin memberikan Sabrina waktu untuk menenangkan pikirannya.
Saat diluar, Dimas menyuruh keluarga Hadinata kembali ke rumah. Sementara ia akan menjaga Sabrina. Mereka pun menuruti perintah Dimas tetapi Paman Arya masih berada diluar sambil duduk diruang tunggu kamar Sabrina. Sedangkan Halim dan Alex berdiri disamping Dimas.
“Beberapa tahun ini paman sebenarnya merasa bersalah padamu Dimas karena paman memisahkanmu dari Elina tapi waktu itu paman tidak punya pilihan selain membawa Elina keluar pulau. Paman takut ada orang yang datang lagi untuk membunuh kami” jelasnya sambil menunduk dengan tangan yang berada dikedua lututnya untuk menopang tubuhnya.
“Aku mengerti paman. Sebenarnya aku memang perlu disalahkan atas semua yang terjadi pada kalian. Kalau saja aku tidak meninggalkan kalian semua mungkin saja tidak akan terjadi hal seperti itu. Tapi paman....apa paman tahu, siapa yang mencoba membunuh Anda dulu” tanya Dimas serius.
“Aku tidak tahu jelas....tapi aku hanya melihat tato tengkorak kecil dilengan orang itu”
“Apa paman tidak salah lihat...paman tidak melihat tato naga pada mereka?” tanya Dimas yang makin penasaran.
“Tidak Dimas....aku melihatnya dengan jelas. Selain itu aku tidak menemukan apa – apa lagi”
Pangeran Dimas langsung melihat Sekretaris Halim sambil mengangguk. Halim pun mengerti maksudnya dan pergi meninggalkan mereka. Ia pergi menyelidiki orang yang memiliki tato tengkorak.
“Paman sebaiknya pulang istirahat karena pasti capek kan naik pesawat kemari. Aku yang akan menjaga El disini. Alex akan mengantar sampai dirumah”
“Baiklah....tapi Paman ingin mengatakan ini padamu. Mungkin kamu harus bersabar menghadapi El karena Dokter Alia bilang kalau ingatannya susah dikembalikan, mungkin kembali secara bertahap – tahap. Paman harap kamu mengerti tapi tenang saja, dia pasti sudah menerima kehadiranmu. Paman bisa melihat tatapan matanya tadi padamu” jelas Paman Arya.
“Terima kasih paman. Aku pasti akan selalu sabar padanya”
Dimas lalu melihat kearah Alex yang sejak tadi berdiri disampingnya.
“Alex...antar Pamanku kerumah” perintah Dimas.
“Baik yang mulia”
Paman Arya pun berdiri dan meninggalkan Dimas yang masih duduk disitu. Ia diantar mobil oleh Alex menuju Kastil.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like and koment