
Dimas sekarang sudah berada di Istana Kerajaan Luwis. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam Istana Pemerintahan diikuti Sekretaris Halim dan pengawal pribadinya dengan gaya angkuhnya. Didalam sudah terlihat penuh para menteri yang mengisi ruangan, terlihat juga ayahnya yang sudah duduk dikursi tahtanya dengan baju rajanya yang berwibawa. Dimas berjalan kedepan ayahnya dan langsung berlutut dengan hormat sambil meletakkan kedua tangan yang ia silangkan didadanya.
“Yang Mulia....Pangeran pertama memberi hormat pada Anda”
“Berdirilah....” dengan nada tegas. Dimas langsung berdiri tegak dihadapan ayahnya. “Katakanlah....keputusanmu” tegasnya.
Dimas lalu berbalik menghadap kesemua menteri kerajaan yang hadir saat itu dan langsung membacakan surat keputusannya yang sudah ia buat dan stempel dengan atas kuasa Raja Luwis yang diberikan padanya.
“Hari ini...aku Pangeran pertama Kerajaan Luwis yang memiliki setengah kekuasaan dari Raja Luwis akan mengumumkan dua hal pada semua menteri Luwis. Yang pertama...aku memustuskan untuk menurunkan Karina Artamefa sebagai Anggota Kerajaan menjadi rakyat biasa atas perbuatan jahat yang pernah dilakukannya pada seorang calon permaisuri kerajaan Luwis karena perbuatannya itu tak bisa termaafkan maka ia akan meninggalkan Negara Luwis atas perintah Raja Luwis dan atas perintahku sebagai pengeran pertama. Yang kedua, aku ingin mengumumkan pada semua para menteri jika aku Pangeran Dimas Prayuda Mahendra sudah memiliki seorang permaisuri yang telah kunikahi dua tahun lalu maka aku sebagai seorang pangeran pertama negara Luwis tidak akan menikahi seorang wanita untuk menjadi permaisuriku” tegasnya.
Para menteri yang mendukung Karina hanya menunduk ketakutan mendengar keputusan Pangeran Dimas, mereka tidak bisa membantah karena Dimas sudah diberi kekuasaan oleh ayahnya untuk memutuskan segala hal yang terjadi dipemerintahan apalagi Karina memang tak punya hak didalam kerajaan Luwis karena ia hanyalah istri kedua Raja Luwis yang tak diakui rakyat Luwis.
Setelah selesai mengumumkan penurunan Karina...Raja Luwis menyuruh semua para menterinya untuk kembali ke tugas mereka masing – masing. Ia juga menyuruh bawahannya untuk secepatnya memberitahukan kabar penurunan dirinya menjadi rakyat biasa. Ia akan kembali ke Inggris dan tidak diijinkan untuk pulang ke Luwis. Karina yang mengetahui itu hanya bisa terduduk lemas tak bisa mengatakan apa – apa lagi. Harapannya untuk menjadikan Milan sebagai penerus tahta kerajaan Luwis pupus sudah. Ia tak bisa melakukan apa – apa lagi sekarang selain merenungkan nasibnya yang tak lagi bisa berada di Kerajaan Luwis.
Sementara Dimas, sudah ada didepan Kastil. Ia masuk kedalam untuk mencari keberadaan istrinya tapi ia tidak menemukan Sabrina. Saat keluar untuk mencari Sabrina di Rumah Belakang, tiba – tiba Sabrina datang bersama dengan Dea pengawalnya. Dimas yang melihat Sabrina langsung berlari memeluknya.
“Kamu darimana saja?” sambil memeluk erat tubuh Sabrina.
“Aku habis bertemu dengan keluargaku” jawab Sabrina.
“Kamu mengagetkanku saja..” sambil melepaskan pelukannya dari Sabrina. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya Dimas penasaran sambil memeluk pundak Sabrina untuk masuk kedalam Kastil.
“Banyak.....Paman Arya bilang kalau besok Reygan dan Tante Alia akan sampai ke Luwis. Mereka sementara dalam perjalanan kesini” jelas Sabrina.
__ADS_1
“Benarkah.....anak kita akan datang kesini” balasnya dengan antusias. Wajahnya terlihat sangat senang saat mendengar anaknya yang akan datang ke Luwis.
“Ia....” balas sambil tersenyum.
Mereka masuk kedalam kamar.....Dimas langsung mengganti bajunya dan masuk kedalam kamar mandi. Setelah mandi, ia keluar dalam keadaan telanjang dada. Hanya handuk yang melingkar ditubuh bagian bawahnya. Ia menggosok – gosok rambutnya yang basah sambil berjalan kearah Sabrina yang duduk dikasur sambil memainkan HP-nya. Ia tengah sibuk mengirim sms ke Milan tapi Milan tak pernah membalas pesan yang ia kirim.
“Bina...kamu sedang apa?” tanya Dimas yang sudah berdiri didepan Sabrina.
Sontak saja membuat Sabrina kaget dan langsung berdiri. Ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan akhirnya jatuh kekasur dengan menarik tangan Dimas. Mereka pun terjatuh kekasur secara bersamaan, Dimas berada diatasnya sedangkan Sabrina ada dibawah Dimas. Dimas menegakkan tubuhnya diatas tubuh istrinya itu sambil memandang wajah Sabrina yang terkejut dengan posisi mereka.
“Kamu sedang mengirim pesan pada siapa tadi?” tanya Dimas yang menekan tubuh Sabrina.
“Bisakah Mas Dimas bangun dulu. Aku sama sekali tidak bisa bergerak?” sambil memalingkan wajahnya karena malu.
“Tadi aku mengirim pesan pada Milan karena terakhir bertemu dikampus aku tidak pernah dengar kabarnya lagi”
“Sudah....kamu tidak usah pedulikan Milan....lebih baik kamu pedulikan suamimu sendiri”
“Memang ada apa dengan Mas Dimas?” tanya Sabrina bingung.
“Aku sangat lapar sayang” jawabnya dengan nada pelan sambil memegang kepala Sabrina.
“Bangunlah kalau Mas Dimas lapar....kita makan”
__ADS_1
“Aku tidak ingin makan itu tapi aku ingin memakan dirimu” sambil tersenyum nakal didepan Sabrina.
Sabrina sangat kaget mendengar ucapan Dimas yang menggodanya. Ia tahu maksud dari ucapan suaminya itu. Dimas yang melihat Sabrina diam mencoba memajukan wajahnya untuk mencium istrinya itu. Sabrina hanya menutup matanya karena malu dan akhirnya Dimas mencium Sabrina dengan sangat bergairah.
Ia lalu melepaskan ciumannya dan melihat kembali wajah Sabrina untuk memastikan jika istrinya itu masih tidak bisa menerimanya tapi Sabrina hanya diam saja sambil menatap wajahnya karena tak ada respon penolakan dari istrinya itu, ia melanjutkan ciumannya lagi yang selama dua tahun ini selalu ia nanti – nantikan. Sabrina juga menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan suaminya itu. Dimas memuaskan rindunya selama dua tahun pada istrinya malam itu dengan penuh gairah. Dimas bahkan melakukannya berkali – kali pada istrinya itu agar ia bisa melepaskan rasa rindunya pada Sabrina tapi tetap saja ia masih belum puas.
Setelah kelelahan, Sabrina tertidur pulas dilengan Dimas dengan keadaan telanjang sedangkan Dimas masih tak tidur.
“Terima kasih sayang....kamu sudah kembali kesisiku lagi” gumamnya.
Ia terus menatap wajah istrinya itu sambil tersenyum. Ia mencium kening Sabrina lalu memejamkan matanya sambil memeluk erat tubuh Sabrina.
Bersambung
Jangan lupa like and comment ya.
__ADS_1