Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 37 Kecewa


__ADS_3

Pangeran Dimas tengah berdiri menatap keluar jendela sambil minum anggur yang ia pegang.


Sekretaris Halim berdiri dibelakangnya sambil menunduk, ia mencoba berbicara pada Pangeran Dimas tentang Sabrina.


“Yang mulia....jika Anda melakukan ini pada nona bukankah Anda hanya akan membuat Nona Sabrina bingung dan bertanya – tanya dengan perlakuan Anda sekarang?”


“Aku memang sengaja melakukannya supaya dia cepat mengerti dengan statusnya” balas Dimas.


“Tapi yang mulia....nona kan masih belum tahu tentang statusnya sebagai istri Anda”


“Makanya aku ingin membuat dia bingung sekarang. Saat dia bingung, dia akan datang padaku dan bertanya. Kenapa aku bisa melakukan itu padanya dan saat itu juga aku akan memberitahukan semuanya. Kalau menunggu sampai dia ingat, sampai kapan.” Jelas Dimas sambil meminum gelas anggur yang ada ditangannya.


“Lalu.... bagaimana dengan Nona Belinda yang sudah menjadi tunangan Anda?” tanya Halim.


“Setelah Sabrina menerima kehadiranku sebagai suaminya. Aku akan memutus hubungan pertunangan dengan Belinda dan mengumumkan diseluruh dunia jika Sabrina adalah istriku” tegasnya.


Tiba – tiba Pangeran Milan datang ke Ruang kerja Dimas. Alex yang berada diluar, masuk kedalam dan melaporkan kedatangan Milan. Dimas pun menyuruh Milan masuk. Milan masuk kedalam dan sudah melihat Dimas sedang duduk disofa menunggunya sambil melingkarkan kedua kakinya.


“Duduklah” kata Dimas. Milan langsung duduk didepan kakaknya itu. “Ada apa?”tanya Dimas.


“Aku ingin menanyakan pada kakak tentang Sabrina” ucapnya. Dimas langsung mengerutkan keningnya didepan Milan.


“Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Sabrina?” tanya Dimas dengan tegas.


“Kenapa kakak sampai memperlakukan keluarga mereka dengan sangat istimewa?” tanya Milan dengan serius.

__ADS_1


“Bukankah kamu sudah tahu kalau ayahnya menjadi salah satu menteri kerajaan. Wajarkan kalau dia mendapatkan perlakuan istimewa”


“Tapi selama ini yang aku tahu. Kakak tidak pernah perhatian pada setiap pejabat kerajaan disini apalagi sampai kakak menyuruhnya tinggal dirumah didalam kastil kakak. Sekarang kakak juga memberikan Sabrina pengawal kerajaan. Apa itu tidak terlalu aneh untuk mereka?”


“Apa maksudmu mengatakan ini padaku?” tanya Dimas dengan tegas.


“Apa kakak menyukai Sabrina?” tanya Milan dengan tatapan tajam.


Dimas terdiam sambil menatap tajam Milan. Wajahnya berubah dingin. Ia tahu maksud ucapan Milan yang menanyakan tentang dirinya yang menyukai Sabrina. Pasti karena ia juga menyukai istrinya itu. Ia pun tak ingin menyembunyikan identitas Sabrina pada Milan.


“Dia adalah Elina, istriku” tegasnya sambil menatap serius Milan.


“Apa...?” Milan sangat terkejut mendengar ucapan kakaknya itu. “Bagaimana bisa dia istri kakak. Sedangkan yang aku tahu kalau dia itu tidak pernah menikah dan istri kakak kan sudah meninggal dua tahun lalu”


“Apa aku pernah mengatakan padamu kalau istriku meninggal.?” Dengan wajah serius.


“Dia itu tidak ingat tentang kejadian yang pernah dialaminya dua tahun lalu Milan.” tegasnya.


“Tapi...bagaimana mungkin” ucapnya yang seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan kakaknya karena ia memang menyukai Sabrina selama ini.


Dimas yang melihat Milan masih bingung langsung berdiri dari tempat duduknya dan kembali ke meja kerjanya.


“Kalau sudah tidak ada lagi, kamu boleh keluar sekarang karena aku masih banyak pekerjaan disini.” Sambil duduk dikursi kerjanya. “Halim....antar Pangeran Milan keluar” perintah Dimas.


“Baik yang mulia” sambil menunduk

__ADS_1


Pangeran Milan masih duduk mematung karena merasa tidak percaya pada ucapan kakaknya.


“Silahkan yang mulia, saya antar keluar”


Milan kaget dengan panggilan Halim. Karena ia dari tadi masih mematung sambil mencerna ucapan Dimas padanya. Ia keluar tanpa mengatakan apa – apa lagi karena ia merasa kecewa dengan apa yang didengarnya tadi. Saat diluar, ia berjalan pelan sambil memikirkan ucapan kakaknya.


“Tidak mungkin....Sabrina tidak mungkin istri kakak yang selama ini dia cari. Tapi kakak tidak mungkin berbohong padaku hanya karena dia menyukai Sabrina” gumamnya sambil berjalan menuju sebuah ruangan sepi yang ada dikampus itu.


Ia masuk ke sebuah ruangan gelap yang tidak terpakai itu sambil duduk termenung mencoba menenangkan dirinya. Ruangan itu adalah tempat dimana ia bisa menenangkan pikirannya jika merasa sedih.


“Ya tuhan....bagaiamana bisa orang yang aku suka selama ini adalah istri kakakku sendiri. Apakah ini dosa dari semua perbuatanku yang telah mempermainkan banyak wanita hingga aku bisa jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak kucintai. Rasanya aku ingin menghilang, aku tidak sanggup menerima jika Sabrina istri kakak yang selama ini membuat dia menderita” gumamnya sambil menatap langit – langit gelap yang ada diruangan itu.


Sementara Sabrina yang sudah selesai dengan mata kuliahnya terus menunggu kedatangan Pangeran Milan dikelasnya selama berjam - jam tapi Milan tak kunjung datang. Akhirnya ia datang ke kelas Pangeran Milan tetapi tidak melihat keberadaannya. Ia lalu menelfon nomor Pangeran Milan tapi tak diangkat.


"Dimana Milan....apa dia lupa kalau dia denganku. Tapi dia kan tadi menyuruhku untuk menunggunya disini?" gumamnya. Dea yang berada disamping Sabrina mendengar ucapannya.


"Mungkin yang mulia lupa nona atau mungkin yang mulia punya urusan mendadak" kata Dea.


"Tapi harusnya dia menelfonku kan. aah sudahlah, aku pulang saja. Besok saja aku bertemu dengannya" sambil berjalan keluar kampus.


Saat diluar, Dea membukakan pintu mobil untuknya dan Sabrina masuk kedalam mobil. Selama perjalanan ia tidak pernah bicara pada Dea karena masih kesal dengan Dea yang pura - pura mendekatinya. Ia akan meminta penjelasan Dea lagi saat sampai rumah karena ia masih belum puas dengan jawaban Dea tadi pagi.


Ia bisa saja sih meminta Dea menjelaskannya sekarang tapi ia tidak punya tenaga untuk berdebat karena memikirkan Milan yang tiba - tiba menghilang tanpa penjelasan.


 Bersambung

__ADS_1


Jangan Lupa Like And Koment ya.


__ADS_2