
Belinda yang merasakan kedatangan Pangeran Dimas langsung berlari menghampirinya dan memegang lengan Dimas.
“Yang Mulia....Anda lihat gadis ini. Dia berani memukul wajahku” dengan suara manja dan memasang wajah tak berdaya dihadapan Dimas.
“Sepertinya hal yang aku khawatirkan tadi percuma saja. Ternyata dia bisa menangani wanita murahan ini. Dia memang pantas menjadi permaisuri Luwis” dalam hati Dimas sambil menatap istrinya.
“Yang Mulia...kenapa Anda diam saja. Dia sudah mempermalukan tunangan seorang pangeran” ucapnya dengan manja.
“Kenapa dia bisa memukulmu?” tanya Dimas berbalik melihat Belinda.
“Aku tadi hanya datang menjenguknya lalu aku bilang padanya kalau aku adalah tunangan Yang Mulia tapi dia langsung memukulku” ucapnya dengan manja.
“Cih.....” sambil memalingkan wajahnya dihadapan Dimas dan Belinda.
Dimas tersadar dengan pipi merah Sabrina yang habis ditampar oleh Belinda. Ia lalu melepaskan tangan Belinda dari lengannya lalu berjalan menghampiri Sabrina.
“Apa dia memukulmu?” tanya Dimas sambil memegang pipi Sabrina.
“Hanya sedikit tapi tidak apa – apa. Aku membalasnya dengan pukulan” balas Sabrina.
“Maaf sayang....aku tidak menjagamu dengan baik”
“Sebaiknya Mas Dimas urus saja tunangannya sebelum mengurusiku” dengan nada kesal.
“Apa kamu cemburu.....?” tanya Dimas sambil tersenyum.
“Huh...cemburu. aku hanya kesal dengan wanita itu. Datang – datang langsung nampar wajahku” jawabnya. Ia lalu duduk dikasurnya dengan wajah kesal.
Belinda yang melihat tingkah mereka sangat syok apalagi melihat Dimas yang sangat perhatian dan mesra pada Sabrina membuatnya semakin terkejut.
Sedangkan Dimas yang melihat Sabrina kesal saat itu, menarik tangan Belinda keluar dari kamar Sabrina.
Diluar, ia menampar wajah Belinda sampai membuatnya tersungkur. Sebenarnya ia sudah ingin sekali memukul Belinda dari tadi tapi dia tidak ingin jika Sabrina melihat sisi dirinya yang kejam apalagi sampai memukul wanita.
“Cepat berdiri” perintah Dimas dengan tatapan seperti ingin menerkamnya. Belinda yang melihat tatapan Dimas langsung berdiri sambil memegang pipinya.
__ADS_1
“Yang Mulia.....kenapa Anda memukul saya?” tanya Belinda sambil melihat Dimas.
“Itu karena kamu berani memukul istriku” dengan mata melotot memandang Belinda. Belinda sangat terkejut sampai membuat matanya terbuka lebar.
“Apa....istri?” dengan wajah syok.
“Ia...dia adalah istriku Elina”
“Kenapa tiba – tiba Anda bilang dia istri Anda padahal aku adalah tunangan Anda yang diakui dunia?”
“Dulu ia....sekarang tidak. Aku bertunangan denganmu karena ingin membuat istriku kembali dan sekarang dia sudah kembali jadi tugasmu selesai”
“Yang Mulia...kenapa Anda seperti ini?”
Dimas mendekatkan tubuhnya kesamping Belinda lalu berbisik ditelinganya.
“Dengar baik – baik Belinda. Jika kamu berani menyentuh istriku lagi maka kamu tidak akan pernah melihat dunia ini lagi. Apa kamu mengerti” sambil berbisik.
Belinda yang mendengar itu langsung terkejut dengan ucapan Dimas yang mengancamnya, ia tahu jika Dimas tidak akan pernah main – main setiap yang diucapkannya.
“Yang Mulia...apa gadis itu tahu sifat kekejaman Anda?” tanya Belinda.
“Kenapa....kamu ingin mengatakan sesuatu pada istriku. Katakanlah kalau kamu berani?” sambil mendorong tubuh Belinda sampai membuat dia terjatuh.
“Alex....”
“Ia Yang Mulia”
“Usir dia...jangan biarkan dia muncul dihadapan Sabrina”
“Baik Yang Mulia”
Alex menarik Belinda keluar dari Rumah Sakit itu. Sementara Dimas masuk kembali kedalam kamar Sabrina.
“Sayang.....kita pulang sekarang ya” sambil tersenyum pada Sabrina.
__ADS_1
“Apa dokter sudah membolehkanku pulang?” tanya Sabrina.
“Ia....sekarang kita pulang ke Kastil”
“Baiklah....aku ganti bajuku dulu”
Sabrina turun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju kamar ganti yang ada dikamar pasien itu. Setelah berganti pakaian, ia keluar Rumah Sakit bersama Dimas. Diluar sudah ada Halim yang membuka pintu mobil untuk mereka, Sabrina masuk kedalam mobil bersama dengan Dimas.
Setelah beberapa menit perjalanan menuju Kastil, mereka akhirnya sampai di Kastil yang mewah itu. Sekretaris Halim langsung memarkirkan mobilnya di didepan Kastil. Halim turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk mereka berdua, Sabrina dan Dimas keluar mobil. Sabrina terlihat bingung, kenapa dia dibawa ke Kastil.
“Kenapa Mas Dimas tidak membawaku ke Rumah Belakang?” tanya Sabrina sambil berjalan masuk Kastil.
“Mulai hari ini....kamu akan tinggal disini bersamaku”
“Apa....” dengan nada kaget.
“Sudah...jangan kaget begitu. Ayo masuk” sambil menggenggam tangan Sabrina masuk.
Dimas membawa Sabrina masuk kedalam kamar utama. Sabrina sangat terkejut kamar mewah yang dimiliki Dimas. Sangat luas dan mewah bahkan seharian tinggal dikamar itu tak akan membuat bosan.
“Apa ini kamar Mas Dimas?” tanya Sabrina sambil melihat sekelilingnya.
“Ia....mulai hari ini akan menjadi kamarmu juga”
“Kita berdua tinggal dikamar ini” tanya Sabrina terkejut.
“Ia....tenang saja, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kamu sukai”
“Benarkah...”
“Ia....aku akan menunggu sampai kamu siap. Oke” ucapnya. Ia lalu mencium kening Sabrina. “Istirahatlah dulu....nanti ada seseorang yang akan datang mengantar makanan untukmu. Aku ingin mengurus sesuatu dulu setelah itu aku akan menemanimu disini. Ya”
“Ia...” sambil mengangguk.
Dimas pergi meninggalkan Sabrina yang masih berada dikamar mereka berdua. Ia berjalan menuju Ruang Kerjanya. Disana ia sudah melihat Halim sedang menunggunya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like and koment ya karena like itu gratis.