
Sabrina sudah ada dirumah, ia duduk disofa ruang tamu dan menyuruh Dea berdiri didepannya untuk menjelaskan semua yang terjadi saat perkenalan mereka.
“Jelaskan padaku saat pertama kita bertemu, apa kamu sengaja atau tidak?” sambil menatap serius Dea. Dea hanya menunduk didepannya.
“Maaf nona....seperti yang saya katakan tadi pagi. Saya hanya menerima perintah dari yang mulia”
“Jadi maksudmu....kamu itu sengaja mendekatiku, mengajakku berteman hanya karena disuruh Pangeran Dimas. Begitu?” dengan kesal.
“I....i....ia nona” dengan gelagapan karena takut melihat Sabrina sudah terlihat marah padanya.
“Lalu kenapa kamu tidak melanjutkan aktingmu menjadi temanku. Dan malah muncul menjadi pengawal pribadiku” tegasnya.
“Kalau itu saya tidak tahu nona. Awalnya yang mulia menyuruh saya menjadi teman Anda untuk menjaga Anda diam – diam tapi tiba – tiba yang mulia menyuruh saya untuk menjadi pengawal pribadi Anda. Saya tidak berani bertanya pada yang mulia saat itu” balasnya.
“Bagus sekali ya tuanmu itu. Dia menghancurkan pertemanan orang dalam sekejap. Oh....aku lupa, ini bahkan belum disebut teman ya karena kita baru kenal sehari” sambil tersenyum sinis.
“Maafkan saya nona tapi waktu itu saya benar – benar tulus pada Anda. Saya kira Anda adalah orang yang sombong tapi waktu saya mengajak Anda bicara saya tidak menyangka kalau Anda gadis yang baik. Saya benar – benar ingin berteman dengan Anda, nona. Sungguh!” dengan wajah sedih.
“Maaf ya tapi sekarang aku tidak ingin berteman dengan orang pembohong sepertimu cukup ikuti perintah tuanmu itu” dengan wajah marah. Dea hanya menunduk saja tanpa membalas ucapan Sabrina lagi.
Sabrina lalu masuk ke kamarnya dengan perasaan marah, bagaimana tidak marah. Ia baru pertama kali berteman dengan seseorang ternyata itu hanya pura – pura saja. Dan itu semua atas perintah Dimas. Ia semakin geram dengan perbuatan Dimas.
Sementara di Kastil, Dimas memanggil keluarga Hadinata. Mereka diantar sekretaris Halim masuk kedalam ruangan kerja Dimas. Pikiran mereka masih bingung, apalagi yang ingin dikatakan Pangeran Dimas pada mereka sampai memanggilnya ke Ruang Kerjanya.
“Yang mulia....mereka sudah datang” kata Halim pada Dimas yang saat itu tengah sibuk di Ruang perpustakaan yang ada disebelah meja kerjanya.
__ADS_1
Dimas pun keluar dan sudah melihat keluarga Hadinata duduk di sofa. Ia langsung duduk didepan mereka.
Sementara mereka langsung berdiri memberi hormat saat Dimas datang dan kemudian kembali duduk disofa.
“Kalian pasti bingung kan, kenapa aku memanggil kalian semua datang kesini tanpa kehadiran Sabrina?” tanya Dimas tegas sambil bersandar disofa dengan kedua kaki menyilang kedepan.
“Ia yang mulia....kami memang merasa bingung karena Anda tiba – tiba memanggil kami kesini” sahut Tuan Surya sambil melihat kearah Dimas.
“Aku hanya ingin memberitahu pada kalian jika aku ingin kalian mengatakan pada Sabrina tentang statusnya sebagai istriku. Aku tidak ingin menunggu sampai dia mengingat semua tentangku. Itu terlalu lama buatku” jelasnya dengan tegas.
“Dia benar – benar tidak sabaran” dalam hati Nyonya Wulan.
“Tapi yang mulia....saya takut jika depresinya akan kembali lagi” kata Nyonya Wulan tegas.
“Tenang saja...aku sudah berkonsultasi pada dokter psikolog kerajaan tentang keadaan Sabrina bahkan mereka menganjurkan untuk membantu Sabrina mengingat semua masa lalunya apalagi itu disengaja kan” kata Dimas tegas.
“Baiklah.....kalau begitu aku akan memanggil Sabrina kesini. Lebih baik Nyonya Wulan yang mengatakan sendiri padanya agar dia tidak membenci Anda karena jika saya mengatakan padanya langsung saya takut dia akan membenci Anda” jelas Dimas.
“Baik...terima kasih yang mulia.”
“Halim.....”Panggil Dimas pada Halim yang sudah berdiri sejak tadi disampingnya.
“Ia yang mulia” balas Halim.
“Cepat jemput Sabrina dan bawa kesini” perintah Dimas tegas.
__ADS_1
“Baik Yang mulia” balas sambil menunduk.
Halim lalu pergi memanggil Sabrina yang sekarang berada dirumah belakang. Sementara Sandrina dan Evan tidak menyangka jika Sabrina adalah istri sah Pangeran Dimas karena memang mereka belum diberitahu oleh keluarga mereka.
Sementara menunggu kedatangan Sabrina, Tuan Surya memberitahukan tentang Paman Arya Pada Dimas.
“Maaf yang mulia....ada yang ingin saya katakan pada Anda” kata Tuan Surya sambil menatap serius Dimas.
“Apa....katakanlah?” tanya Dimas.
“Kemarin saya juga memberitahu pamannya yang ada di inggris tentang Anda dan dia memang mengakui dan mengenal Anda sebagai suami Sabrina karena menurut saya beliau harus tahu tentang masalah ini. Maaf kalau Anda merasa saya tidak mempercayai Anda tapi pamannya seharusnya tahu setiap masalah yang dialami Sabrina karena dia sangat berarti bagi Sabrina” jelas Tuan Surya.
“Benarkah....Apa Paman Arya akan datang kesini?” tanya Dimas dengan wajah senang. Tentu saja membuat mereka terkejut dengan ekspresi senang yang ditunjukkan Dimas saat itu.
“Ia yang mulia....mungkin saat ini Arya dalam perjalanan ke Luwis”sambung Nyonya Wulan
“Aku sangat senang jika bertemu dengan Paman Arya karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya aku sangat rindu padanya..dulu kami sering bekerja bersama dipulau. Dia adalah orang yang sangat baik pada kami berdua meskipun dia tidak punya hubungan darah dengan kami tapi dia sudah menganggap kami berdua keluarganya” ucap Dimas sambil tersenyum lebar.
Mereka masih terkejut dengan ekspresi senang yang ditunjukkan Dimas pada mereka. Termasuk Sandrina dan Nyonya Ratna.
“Apa ini....Pangeran Dimas yang kukenal dingin dan tidak suka tersenyum. Tapi saat membahas kedua orang itu dia langsung tersenyum lebar seperti tak menganggap keberadaan kita?” dalam hati Sandrina.
“Huh....gadis kampungan itu sangat beruntung bisa bersuami Pangeran Dimas. Kalau saja aku tahu, aku pasti memperlakukannya dengan baik. Nasibnya sangat beruntung tidak seperti gadis cerewet ini. Setiap hari hanya ada Pangeran Milan dimatanya” dalam hati Nyonya Ratna.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa Like And Koment ya.