Suamiku Seorang Pangeran

Suamiku Seorang Pangeran
Bab 36 Terasa Aneh


__ADS_3

Keluarga Hadinata sudah sampai didepan Kastil Pangeran Dimas bersama para pengawal Dimas. Mereka masuk kedalam Kastil dengan mengendarai mobil yang sudah disediakan Halim, mereka semua takjub melihat Kastil Dimas yang sangat luas dan mewah apalagi saat mereka melihat beberapa kendaraaan berjejer disamping Kastil.


Sandrina menurunkan kaca mobilnya sambil melihat semua pekerangan Kastil.


“Wah......indah sekali Kastilnya. Aku baru kali ini masuk kesini, biasanya hanya lihat dimajalah tapi ini pertama kalinya aku melihatnya langsung” ucapnya sambil membelalakkan matanya karena takjub.


“Ia....sayang. Tante juga tidak menyangka bisa seindah ini” sambung Nyonya Ratna.


Mereka sampai, tepat dibelakang Kastil. Sekretaris Halim sudah ada didepan menyambut mereka. Mereka lalu turun dan melihat sebuah rumah mewah yang ada didepan mereka. Itu lebih mewah dari rumah kediaman Hadinata. Para pelayan mengantar mereka kedalam sedangkan Sabrina diantar disebelah rumah yang ditempati keluarganya oleh Sekretaris Halim. Ia merasa aneh karena hanya ia diperlakukan tidak biasa. Semenjak ia berangkat dari rumahnya, ia diantar mobil kerajaan sendiri tanpa bergabung dengan keluarganya dan sekarang ia ditempatkan dirumah terpisah dengan keluarganya.


“Ini terasa aneh buatku, kenapa Pangeran Dimas sampai membawa kami semua disini. Dia bisa kan menempatkan kami semua diluar dekat istana dia. Tapi tidak harus sampai masuk kesini juga kan” dalam hati Sabrina dengan perasaan bingung.


“Nona....kita sudah sampai” panggilan Halim membuyarkan lamuannya.


“Eh...ia tuan”


“Silahkan masuk nona” sambil membuka pintu rumah untuknya. Sabrina masih berdiri diluar tanpa bergerak sekalipun. Sekretaris Halim merasa bingung melihat Sabrina yang tak ingin masuk kedalam.


“Ada apa nona?” tanya Halim.


“Maaf tuan...tapi kenapa kami bisa diperlakukan istimewa seperti ini?” tanya Sabrina yang sedikit bingung saat itu.


“Nona sudah diberi tahu tadi kan kalau Tuan Surya sudah menjadi salah satu menteri kerajaan. Tentu saja perlakuannya juga istimewa” jelas Halim.


“Tapi kenapa kami bisa tinggal disini, berdekatan dengan Kastil Pangeran Dimas. Anda bisa saja membawa kami ditempat lain yang dekat dengan istana tapi tidak harus berada didalam sini” balas Sabrina.


“Ternyata nona benar – benar pintar. Dia bisa memikirkan semuanya dengan teliti. Kalau aku tetap disini dan dia terus bertanya, aku tidak tahu harus mengatakan apalagi pada nona” dalam hati Sekretaris Halim.


“Itu peraturan yang dilakukan yang mulia, nona. Saya hanya menjalankan perintahnya saja. Kalau sudah tidak ada lagi, saya permisi nona”


Ia terburu – buru meninggalkan Sabrina yang masih berdiri diluar.


“Eh tuan...tunggu dulu” panggilnya. Tapi Sekretaris Halim tidak mempedulikan panggilan Sabrina. Ia terus berjalan pergi dari situ.


“Iiih...apa sih. Aku kan belum selesai bicara padanya?” gumamnya sambil menatap Sekretaris Halim yang sudah jauh darinya.


Sabrina masuk kedalam dengan perasaan yang masih bingung tapi mau gimana lagi, ia sudah terlanjur datang kesini. Saat sampai kedalam, ia langsung melemparkan tubuhnya kekasur dan tak sengaja tidur karena terlalu lelah.


Saat ia tidur, para pelayan masuk mengantarkan makanan untuknya. Dua jam kemudian, ia bangun dan sudah melihat makanan yang ada dimeja. Ia langsung menyantap makanannya dengan lahap karena dari tadi, ia memang kelaparan.

__ADS_1


 Setelah makan, ia kembali kekamarnya untuk tidur. Satu jam kemudian ia terlelap sampai ia tak sadar dengan kehadiran Dimas yang berbaring disampingnya apalagi lampu kamarnya sudah ia matikan. Dimas terus menatap istrinya itu sambil mengelus pipi istrinya. Ia lalu tertidur disamping Sabrina.


Pukul 5:00 subuh, ia bangun dan pergi dari kamar Sabrina karena ia tidak mau sampai Sabrina tahu kalau ia tidur disampingnya. Bisa – bisa ia disangka orang mesum lagi oleh Sabrina.


Pukul 7:00 pagi, Sabrina bangun dan merasa jika ada seseorang yang tertidur disampingnya.


“Aku kok merasa ada orang disampingku tadi malam. Apa perasaanku saja ya. Mana mungkin ada orang disini, kalau pun ada, pasti itu pelayan yang ada disini. Tadi malam saja mereka datang mengantar makanan tanpa membangunkan aku. Benar – benar aneh” gumamnya yang masih ditempat tidurnya.


Ia kemudian bangun dan mandi. Setelah mandi, ia siap – siap dan berangkat kesekolah. Ia sangat kaget melihat seorang gadis yang ia kenal tengah berdiri didepannya dengan pakaian setelan jas ketat, penampilannya seperti seorang pengawal.


“Dea....kenapa kamu bisa berada disini?” tanya Sabrina.


“Halo nona....saya pengawal pribadi Anda” sapa sambil menunduk memberi hormat.


“Pengawal.....” ia semakin terkejut mendengar kata pengawal yang keluar dari mulut Dea. “Bagaimana bisa kamu tiba – tiba jadi pengawalku bukankah kamu murid kampus Prayuda?” tanya Sabrina dengan wajah kesalnya.


“Maaf nona.....itu atas perintah yang mulia. Saya tidak bisa mengatakan pada Anda”


“Jadi kamu sengaja mendekatiku kemarin ya. kamu bohong padaku kalau kamu sekolah dikampus Prayuda?” tanya Sabrina dengan tegas.


“Maaf nona.....itu atas perintah yang mulia dan saya tidak berbohong pada Anda tentang saya sekolah di Prayuda, saya memang sekolah dikampus Prayuda tapi kemarin saya baru dapat tugas untuk mengawal Anda.” Jelasnya sambil menunduk.


“Saya lihat tadi beliau sudah keluar bersama Tuan Halim dan pengawal pribadinya nona”


“Huh”


Sabrina pun berangkat kesekolah diantar oleh Dea tanpa berkata apa – apa lagi dan sepanjang perjalanan ia tidak berbicara pada Dea karena kesal. Sekarang perasaannya makin kacau. Ia semakin merasa aneh dengan keadaannya sekarang. Ia ingin sekali menanyakan situasi yang dialaminya tapi orang yang ingin ia tanyakan tidak ada.


Saat sampai kampus, semua orang menatap kearahnya. Ia merasa bingung dengan situasi yang dialaminya sekarang.


“Kenapa mereka menatapku begitu?” gumamnya. Dea mendengarkan ucapan Sabrina itu, ia mencoba menjelaskan situasinya pada Sabrina.


“Itu karena .....Ayah Anda sudah tersebar diseluruh negara Luwis jika ayah Anda menjadi salah satu menteri kerajaan, nona”


“Secepat itu...” balasnya sambil menegok kearah Dea.


“Ia nona” sambil menunduk.


Ia lalu masuk kedalam kelasnya dengan perasaan bingung. Pangeran Milan datang menghampirinya untuk memberikan selamat pada Sabrina. Ia terkejut melihat kehadiran Dea yang merupakan salah satu pengawal terbaik yang dimiliki kakaknya. Ia merupakan adik dari pengawal pribadi Pangeran Dimas tapi Sabrina masih belum tahu itu.

__ADS_1


“Dea...kenapa kamu bisa disini?” tanya Milan dengan wajah bingung.


"Saya pengawal pribadi nona, yang mulia” jawabnya sambil menunduk.


“Apa...sejak kapan?” dengan wajah kaget.


“Sejak kemarin...” dengan wajah datarnya. Sementara Sabrina hanya memasang wajah kesalnya didepan Dea dan Milan. Milan menyadari Sabrina yang tengah kesal.


“Kamu kenapa Bina?” tanya Milan.


“Huh....lihat saja orang yang didepanmu itu. Dia baru kemarin jadi temanku sekarang tiba – tiba menjadi pengawal pribadiku. Ini maksudnya apa coba” sambil memalingkan wajahnya.


“Jadi kamu sama sekali tidak tahu”


“Tidak tahu lah....terus kenapa kamu datang menemuiku. Ada apa?” tanya Sabrina sambil menatap Milan.


“Aku ingin memberikan selamat padamu karena kakak mengangkat ayahmu menjadi salah satu menteri kerajaan dan kalian menjadi salah satu anggota kerajaan tapi aku tidak menyangka kalau sampai kakak bisa memperlakukanmu seistimewa ini karena dia memberikanmu  Dea, salah satu pengawal kerajaan. Yang aku tahu hanya keluarga kerajaan yang bisa memiliki pengawal pribadi kerajaan” jelasnya.


“Itulah....aku juga merasa bingung sekarang. Dari kemarin semuanya membuatku bingung apalagi orang ini tidak mengatakan apa – apa dan hanya menyuruhku bertanya langsung pada kakakmu”


“Kamu sudah bertanya pada kakakku”


“Tadi pagi aku mau bertanya pada yang mulia tapi dia sudah pergi” dengan wajah cemberut.


“Memangnya kamu tinggal dimana sekarang?” tanya Milan penasaran.


Sabrina menceritakan semuanya pada Pangeran Milan sampai membuat Milan sangata terkejut karena ia tidak menyangka jika seorang Dimas yang arogan bisa begitu perhatian pada orang apalagi sampai memperlakukannya dengan istimewa. Selama ini kan, ia tahu jika kakaknya itu cuek pada orang apalagi pada seorang gadis. Ia semakin penasaran dengan pemikiran kakaknya itu.


“Baiklah....biar aku saja yang bertanya langsung padanya karena aku juga merasa bingung sih. Kenapa kakak tiba – tiba melakukan hal ini?”


“Ia...tolong ya Mil.....kamu tanyakan padanya. Kalau kakakmu tidak mengatakan alasan yang jelas, aku terpaksa menolak semua yang dia lakukan padaku termasuk tinggal dirumahnya.”


“Oke.....baiklah, kamu tenang saja.” Sambil tersenyum pada Sabrina. “Kalau begitu aku pergi ke kantor kakak dulu. Kamu tunggu disini ya” sambil menepuk pundak Sabrina. Sabrina hanya mengangguk pada Milan.


Milan pun pergi meninggalkan sabrina yang masih duduk di ruang kelasnya bersama Dea. Sesaat setelah Milan pergi, para murid masuk ke kelasnya sedangkan Sabrina keluar menuju kelas mata kuliah ilustrasi seni yang ia pelajari sekarang.


Bersambung


Jangan lupa Like And Koment ya.

__ADS_1


__ADS_2