
Pagi Hari, pukul 6 pagi. Semua orang yang ada di lapangan pelatihan masih tertidur dan juga da yang sudah banguan. Zein bangun dengan perlahan dengan rasa sakit tidak enak di badannya meski tida ada luka. “Atapnya berbeda. Mungkin mataku yang salah.” Zein yang sama sekali belum menyadari tempatnya sekarang lanjut tidur. “Bantalnya kurang nyaman.” Zein menutup matanya lagi dan tidak peduli dengan hal sekitarnya. Di sisi lain saat Zein lanjut tidur, perlahann semua orang bangun dari tidurnya di lapangan pelatihan itu.
Rein juga bangun yang ada di sampingnya. "Tadi malam itu sangat sakit." Bicara Rei dengan bangun perlaha sambil meregangkan badannya. Setelah dia melihat ke sekelilingnya. "Hm!" Rei melihat Zein sedang tdur nyaman di dekatnya. “Zein, bangun.” Rei membangunkan Zein yang tertidur di sebelahnya. Rei malah di abaikan oleh Zein dengan lanjut tidur lagi.
“Jangan ganggu lah. Lihat, dia tidur dengan nyaman.” Seorang di sampingnya memberi tahu dengan senyum di wajahnya. Rei melihat ke Zein yang ternayata membuat seorang gadis jadi bantal tidurnya. Semua orang berdiri lalu jalan keluar, di sisi lain Rei yang masih berusaha membangunkan Zein masih diam di tempatnya. "Tapi, anak ini terlihat menikmatinya juga." Pelajar bicara lagi dengan cukup keras hingga di lihat semua orang yang masih di sana.
“Kalian berisik. Jangan ganggu aku tidur, kalian mandi sana saja.” Suruh Zein yang masih setengah tidur. ‘HAHAHAHA…’ Banyak sekali orang tertawa setelah Zein mengatakan itu dan sisanya yang jauh henya melihat tidak mengerti. “Kalian berisik banget....” Zein perlahan membuka matanya, lalu duduk dengan mengusapa matanya yang masih belum bisa melihat dengan jelas. “Hoam...” Zein menguap sambil meregangkan badannya. “Kita ada dimana, kenapa banyak sekali orang?” Tanya Zein denga terang terangan. Semua orang terdiam lagi saat Zein bertanya seperti itu. ‘HAHAHAHA…’ Semua orang tertawa dengan pertanyaan Zein yang terasa konyol bagi mereka. Zein malah bingung sekali dengan apa yang terjadi. “Apa yang ku lewatkan?” Tanya Zein pada dirinya sendiri.
“Kalian berisiklah. Bagaimana semalam?” Tanya suara Gadis di belakang Zein. Semua orang terdiam dan tidak ada yang menjawab dengan melihat ke Gadis itu yang perlahan bangun.
“Kita semua kalah.” Jawab Rei yang di dekat Zein. Zein sendiri malah bingung degan semua yang di lihatnya. Dia merasa berada di Dunia yang berbeda sekali dengan semua temannya. “Mari kta pergi ke aula berkumpul.” Ajak Rei pada semua orang yang duluan berdiri dari sana.
“Apa…!” Zein sangat bingung sekali dengan apa yang terjadi saat melihat dirinya bangun di arena pelatihan. Padahan dirinya tidur di kamarnya tadi malam. Zein jadi penasarn apa yang terjadi dalam beberapa jam saja. Zein melihat semua orang yang berjalan keluar dengan penuh bahagia sedangkan dirinya penuh dengan kebingungan dari bangun tidurnya.
__ADS_1
“Woi, kenapa kamu diam saja. Kepala sekolah sudah mengingtakan bukan. Kita sudah twlat 1 jam ini.” Panggil Rei sambil melihat ke Zein yang masih duduk di tempatnya. Zein bangun sambil tersenyum pada Rei yang jalan sudah agak jauh darinya. Zein berdiri lalu berjalan ke dekat Rei dengan masih sangat bingung sekali.
Zein dan Rei jalan bersama, namun Zein tetap diam saja tidak bicara sama sekali. “Aku sangat bingung sekali. Sungguh!” Zein hanya diam saja dengan mengikuti mereka karena tidak tahu apa yang telah di lewatkannya dan juga jadi penasaran dengan dirinya yang tidur di arena pelatihan.
“Kamu kenapa?” Tanya Rei yang ada di sampingnya. Zein menggelengkan kepalanya dan tidak berkata apa apa. Rei tidak peduli lagi dan hanya diam saja dengan tersenyum penuh percaya diri. Tapi di sisi lain, Zein sangat bingung dengan situasi yang sedang di alaminya itu, dan hanya bisa diam saja mengikuti ke mana semuanya jalan.
Zein melihat sekitarnya yang jalannya mengarah aula perkumpulan. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Dan kenapa pula semua orang ada lapangan pelatihan di saat yang sama juga!” Zein yang sangat penasaran sekali dengan semua yang terjadi. Oleh sebab itu, dia tidak memikirkan apa yang telah terjadi dan malah merasa itu bukan sesuatu yang harus di khawatirkannya.
Sesampai mereka di aula, mereka langsung duduk ke kurs masing masing dan di saat yang sama juga kepala sekolah datang. “Selamat pagi semuanya. Sepertinya sekolah kita akan tutup dalam 30 menit. Para pemerintah sudah datang tadi malam dan memberikan kita ini.” Kepala sekolah menunjukkan sebuah layar di depannya. “Tadi malam sudah di resmikan dan sekarang kita harus keluar dari sekolah ini dan membawa semua barang barang kalian.” Dengan serius kepala sekolah menceritakan. Namun tidak ada memotong atau keberatan dengan hasil tersebut, malah mereka terlihat tegar sekali kecuali Zein yang masih bingung.
“Pertama kita akan melatih ini. Seperti yang di katakannya, ini belum sempurna karena kalian harus memiliki senjata masing masing dan berlatih sesuai dengan apa yang kalian pelajari.” Dengan serius menjawabnya. Tapi semua orang masih belum paham sama sekali dengan yang di maksud kepala sekolah dan mereka hanya diam saja. “Biar lebih jelas, apa kalian ingat pertarungan kalian semalam di lapangan pelatihan!” Semua orang jadi teringat. “Apa kalian pernah memikirkan gerakan selanjutnya melawan siswa itu?” Tanya lagi dan semua siswa masih diam. “Coba kalian perhatikan semua gerakan siswa itu. Dia seolah oleh sudah tahu gerakan yang akan kalian buat dan menghindarinya dengan sempuna. Bahkan kalian semua tidak bisa menyentuhnya sama sekali bukan!” Kepala sekolah mengingatkan dengan serius.
“Apa yang di bicarakannya?” Tanya Zein yang sama sekali tidak paham dengan apa yang di bicarakan kepala sekolah. Semua orang hanya terdiam denagn mengingat semua kejadian tadi malam.
__ADS_1
“Kalian itu selalu mengginakan gerakan yang sama setiap kali menyerang, oleh sebab itu dia selalu mudah meghindari serangan kalian. Oleh sebab itu, yang kalian harus pelajari sekarang ialah gerakan Individu kalian sendiri. Buatlah gaya bertarung sendiri, dan tentunya itu tidak akan berhasil hanya dengan latihan di tempat.” Setelah itu kepala sekolah menampilkan sebuah layar yang menampilkan sebuah kabut tebal sekali. “Di sinilah kalian akan belajar mulai sekarang. Menurut catatan harian yang di tinggalkan oleh para kepala sekolah terdahulu, di sana terdapat sekolah yang sesungguhnya bagi para Fighter.” Semua orang malah kaget dengan yang di dengar barusannya itu dan jadi semakin penasan dengan selanjutnya.
“Ano, sebelum lanjut aku ingin Tanya, apa sekolah kita yang sekarang akan tutup?” Tanya Gadis yang di jadikan Zein sebagai bantal tidurnya itu.
“Ya. Sekolah A1 tutup. Tapi, sekolah Fighter selalu terbuka.” Jawab kepala sekolah dengan serius. “Biar ku lanjutkan. Sekolah yang ada di sana itu merupakan sekolah tertua yang ada dan bahkan sebelum para sekolah yang lain muncul. Sayangnya tidak pernah ada yang tahu seperti apa sekolah di sana selama ribuan tahun, bahkan sampai sekarang sekolah tidak pernah di lihat lagi.” Dengan serius kepala sekolah mengatakannya.
“Jadi tujuan kita kali ini, untuk menemukan sekolah itu?” Tanya Rei yang ada di dekat Zein.
“Tepat sekali dan juga sangat berbahaya. Tapi, karena kalian sudah pernah mengalami luka berat dan bahkan kalian bertarung tanpa henti, sekarang saatnya kalian semua pergi ke sekolah Fighter dan menemukan kebenaran mengenai moster dan sejara yang telah di lupakan.” Setelah itu Kepala sekolah dian dan tidak bicara lagi.
“Menemukan sekolah itu sangat mudah sekali. Tinggal cari saja gunakan teknologi.” Bicara Rei dengan santainya.
“Tidak semudah itu Zein.” Respon Zein dengan sangat serius dan bukan kepala sekolah. “Kalau ini aku sedikit nyambung.” Zein yang merasa sedikit lega. “Ada tempat di Planet ini yang mempunyai kabut tebal seperti itu dan bahkan teknologi pun tidak bisa masuk ke sana. Dan sekarang ini di sebut hutan terlarang bagi semua orang akrena tidak ada yang tahu seperti apa tempat itu yang sesunggnya.” Zein menjelaskan dengan serius.
__ADS_1
Semua orang langsung melihat ke arahnya termasuk Kepala sekolah. “Kenapa kamu bisa tahu?” Tanya Rei yang terlihat penasaran. Bukan hanya Rei saja tapi semua orang di sana juga penasaran. Zein yang di lihati semua orang jadi diam.