Symbol Of The Sun'S Moon Star (Interstellar Adventurer Kotraktor)

Symbol Of The Sun'S Moon Star (Interstellar Adventurer Kotraktor)
Chapter 2


__ADS_3

-Galaxy Seven Star-


Namanya Zein. Dia seorang jenius di sebuah pusat sekolah terkenal di sekolah tersebut. Tidak ada yang tahu seperti apa kejeniusannya dan bahkan dia hidup seperti bagaimana masyarakat kecil tinggal di sana. Zein sendiri tidak menyadari siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang harus di lakukan dalam hidupnya itu.


Pagi hari di Planet A1. “Adeh… Sekolah sama sperti biasanya dan tidak ada yang berubah sama sekali, bagaimana menurut mu Zein?” Tanya temannya Zein yang ada di atap sekolah mereka.


“Namanya juga sekolah, nggak yang istimwa Rei. Mending kita pergi main di sebelah sana.” Zein menunjuuk ke sebuah lapangan di bawah mereka yang sangat luas sekali dan sangat kosong.


“Woi, apa coba maksudmu?” Tanya Rei yang tidak paham sama sekali dengan ajakan Zein. Zein diam saja sambil melihat ke bawah sana. “Woi, apa coba?” Tanya Rei yang tidak senang dengan Zein yang diam saja dari tadi. ‘WUSH!’ tiba-tiba angin berhembus dengan ke atah mereka berdua yang ada di atas atap sekolah.


Zein tersenyum dengan sangat menikmati angina itu. “Nyaman.” Zein yang sangat menikmati hal tersebut dengan sangat puas sekali. Rei yang di dekatnya tidak mengerti dengan tngkah temannya yang memang sudah di temani sejak lama dan masih belum di mengertinya hanya bisa melihat dengan rasa yang tidak di ketahuinya sama sekali sejaka dia berteman dengannya.


Rei memperhatikan Zein yang masih berdiri di pinggir atap sekolah dengan senyum sendiri yang tidak di pahaminya sama sekali. “Ini terasa sangat aneh sekali.” Rei yang mulai teringat akan sesuatu di benaknya. “Sejak kapan aku malakukan hal seperti ini. Dulu aku selalu merasa sangta kurang dengan apa yang ku lakukan dan melakukan apa pun yang ku mau selalu ku dapat. Tapi, sejak bertemu dengannya aku tidak merasa kekurangan apa pun sama sekali dan menikmati apa yang ku lakukan saat bersamanya. Perasaan apa ini?” Rei beingung sendiri sambil menatap Zein.

__ADS_1


“Woi, Woi… BANGUN!” Teriak Zein pada Rei yang terus menatap dengan aneh dari tadi. Rei tidak bangun sama sekali setelah di teriyaki olehnya. “Apa…!” Zein merasa sangat aneh sekali di tatap begitu oleh Rei. “BANGUN!” Zein memukul wajah Rei yang dari tadi tidak berhenti menatapnya dengan aneh. Zein yang sangat jijik dengan wajah aneh Rei memukulnya dengan sangat kuat hingga membuat Rei langusng terjatuh. “Jangan buat aneh kayak gitu lagi. Sangat jijik tau.” Zein memperingati Rei yang sudah terkapah jatuh. Tapi, Rei sama sekali tidak merespon perkataan Zein yang memukul tadi.


“La… Lagi!” Rei bicara aneh lagi dengan sangat jelas sekali pada Anto.


“MAKA…!” Zein tidak jadi marah pada Rei yang ternyata ngigau dalam pingsan akibat pukulannya. “Kenapa jadi gini?” Zein yang bertanya pada dirinya sendiri. Sebaiknya ku mintaa nanti. Zein langsung tidak berkata apa-apa dengan perbuatannya yang tidak di duganya yang membuat temannya sendiri pingsan. Zein mendekati temannya yang pingsan tapi -DING!- sebuah layar  warna merah muncul di depannya muncul tiba-tiba yang tidak di ketahuinya sama sekali.


-KONTRAKTOS IBLIS- tertera dalam layar itu. -Salam kenal Master. Tidak, kita bertemu lagi Master- Sapa Sistem tersebut dengan suara biasa saja. Zein tampak kaget dengan hal tersebut hinga diam di tempatnya  dan tidak jadi menolong Rei. -Sebelumnya saya minta maaf Master jika saya mengagetkan Master. Tapi, karena kewajiban saya memandu Master melakukan tugas harus wajib mengingatkan Master yang sudah lupa pada kehidupan ini.- Bicara System tersebut dengan sopan pada Zein.


“Apa ini?” Tanya Zein yang masih melihat layar di depannya yang tertera jelasn tulisan KONTRAKTOR IBLIS. Zein yang tidak mengerti sama sekali dengan yang di lihat di depan matanya sendiri. “Huh…!” Zein menarik napasnya dalam-dalam sambil menenangkan diri. “Kontraktor Iblis? Sejak kapan itu ada?” Tanya Zein yang sudah tenang.


“Tunggu, kenapa bisa aku jual jiwaku pada Iblis seperti itu?” Tanya Zein yang tidak mengerti sama sekali.


-Jual jiwa?- System malah bingung dengan pertanyaan Zein. -Master, sebelumnya saya minta maaf. Di System kami tidak ada penjualan jiwa kepada Iblis, yang ada cuma menawarkan menjual jiwa kepada Iblis.- Jawab System dengan setelah diam engan pertanyaan Zein yang baru di di tahunya.

__ADS_1


Zein tidak paham sama sekali dengan jawaban yang di dapat dari System yang di dapatnya itu dan malah merasa dia sedang mimpi. “Entah ini Cuma mimpi yang terasa nyata. Maaf kawan ku tinggal saja kamu di sini.” Zein meninggalkan temannya Rei di atap sekolahnya karena tidak percaya dengan hal yang di lihatnya itu. “Sepertinya kau harus ke kamar dan harus bangun dari mimpi ini.” Sambil menaiki satu kapal yang ada di dkat atap yang mereka berdua bawa masing-masing satu.


***


Beberapa menit Zein terbang ke gedung asrama sekolahnya. “Huh… Mimpi yang sanga realistis sekali.” Bicara Anto di depan masuk asrama cowok. Semua orang melihat ke arahnya karena melihat tinggahnya yang berbeda.


“Woi, kamu sakit ya?” Tanya Seorang yang di dekat pintu. Zein malah melihat ke orang tersebut dengan sangat penuh penasaran.


“Ya. Aku sakit dan bermimpi dengan sangat realsitis. Bahkan kamu sampai terlihat sangat nyata sekali.” Jawab Zein dengan suara biasa saja dan masih menganggap semua itu mimpi yang tidak nyata. “Oh ya, makasi sudah bertanya.” Dengan senyum ramah pada orang itu. Entah bagaimana semua orang tidak bisa berkata apa-apa pada Zein yang menjawab dengan aneh sekali dan tdak di pahami mereka.


“Se, sebaiknya kamu tidur agar lebih baik.” Suruh temannya yang tidak mengerti dengan apaa yang sedang di lihatnya itu.


“Itu yang mau ku lakukan, aku juga ingin segera bangun dari mimpi yang aneh ini.” Respon Zein. Malahan Zein sendiri yang aneh dan masih menganggap dirinya dalam mimpi yang tidak nyata sama sekali. “Kalau gitu persmisi.” Dengan sopan Zein masuk ke dalam gdung asrama sambil melihat kiri kanan melihat ke teman-temannya yang menatapnya aneh. Tapi, Zein sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. Zein berlari ke kamarnya dengan cukup cepat dan sampai kurang dari 10 menit saja. ‘KLAK!’ secara otomatis pintu kamarnya terbukan karena sudah di rekam identitasnya.

__ADS_1


“Kamu ke mana saja?” Tanya tema sekamarnya yang cukup untuk dua orang saja. Zein tidak merespon dan malah melewati teman sekamarnya itu. “…” Teman sekamarnya tidak mengerti dengan tingkah Zein yang cuek padanya.


__ADS_2