
-
“arya kita sudahi dulu pembahasan ini, ada hal yang ingin aku tanyakan” kata
kepala sekolah yang masih bicara sama papanya reiin
“apa yang kamu ingin bicarakan?” tanya papa reiin yang tetaapa makan
“apa dia benar anakmu” tanya kepala sekolah dengan jujur
“UHUUKKK.... apa maksudmu?” tanya balik papa reiin yang sedikit bingung dan
juga terkejut
“ya, apa reiin benar anakmu, dia sangat jenius, dia bisa menjawab semua
soal yang aku berikan, meskipun sebenarnya itu bukan soal yang dia harus pakai
buat jadi guru disini” kata kepala sekola dengan suara geramnya dan juga
penasaran
“ya, tentu sajalah” kata papa reiin dengan sedikit tidak suka dengan
pertanyaan kepala sekolah
“maaf jika aku bertanya begitu” kata kepala sekolah denga serius
“ya, aku tidak permasalahkan, tapi tiba-tiba bertanya seperti itu bikin
orang kesal saja” kata papa reiin sambil mengmbil buah untuk di makan yang semakin
cepat
“maaf aku penasaran saja karena dia lebih cerdas dari pada kamu” kata kepala
sekolah dengan suara yang agak lembut
“ehh!!” kata papa reiin setelah kepala sekolah berkata begitu
“apa yang kamu lihat?” tanya kepala sekolah lagi dengan suara geram
“ya, aku tidak percaya kalau kamu bisa ngeluarin suara bagus kayak gitu” kata
papa reiin yang mulai reda kesalnya
“jadi apa yang kamu mau katakan?” kata kepala sekolah dengan tatapan tajam
sekli
“meski kamu menatapku begitu aku tidak akan takut” kata papa reiin sambil
membalas tatapan kepala sekolah
“apa yang kalian lakukan?” tanya rein yang tiba-tiba bertanya
“m!” kepala sekolah dan papa reiin langsung melihat ke arah yang bertanya
“tidak ada apa-apa” kata papa reiin dengan buah masih di tangannya
“ya, sudah, tapi tadi apa yang kalian bahas?” tanya reiin yang hanya asal
omong saja sambil masuk dan duduk di area tamu
“kami membahas kamu” kata papa reiin yaang bicara santai
“oh, gitu, aku harap papa tidak membicarakan aku yang jelek-jelek kan” kata
reiin sambil mengambil buah sambil tersenyum kecil
“apa?, mana mungkin papa menjelekkan anak papa sendiri” kata papa reiin
sambil tersenyum
“sebaiknya begitu” kata reiin dengan pura-pura kesal
“hehh, apa yang terjadi dengan anak ini!, kenapa
sekarang ekpresinya beda lagi” pikir papa reiin yang melihat ekpresi anaknya yang berbeda lagi
“papa lihat apa?” tanya reiin yang papa terus melihatnya
“papa penasaran saja, kenapa ekpresimu selalu berubah-ubah” kata papa reiin
dengan jujur
“aku juga tidak tau, sepertinya jika aku kelelahan akan memunculakan
ekpresi yang berbeda-beda tergantung situasinya” kata reiin sambil kata reiin sambil memakan buah yang dia ambil
“kenpa kamu bisa sejujur ini?” guman papa reiin sambil menatap reiin
“apa aku tidak boleh jujur” kata reiin lagi sambil melirik papanya
“kamu mendengar apa yang aku katakan!?” tanya papa reiin dengan yang tetap
bersikap tenang
“ya, sangat jelas sekli, akhir-akhir ini pendengaranku jadi semakin
menjadi-jadi” kata reiin dengan santai sambil tetap makan
“apa kamu pernah kepikiran untuk pakai earphone” tanya papa reiin sambil
mengambil buah
“belum, aku akn coba buat nanti” kata reiin yang mengambil buah lagi
“kalian emang ayah dan anak” kata kepala sekolah yang dari tadi diam saja memperhatikan
reiin dan arya
“mm, apa maksudmu?” tanya bersamaan reiin dan papanya
“hm!!” kata kepala sekolah sambil sedikit senyum saat reiin dan ayah
bertanya secara bersamaan
“tidak ada apa-apa kok” kata kepla sekolah dengan senyum yang terlihat
menikmati
__ADS_1
“ternyata kepala sekolah bisa tersenyum ya” kata reiin saat melihat
kepala sekolah sambil makan buah yang
masih saja belum habis
“apa maksudmu?” tanya kepala sekolah dengan masih wajah senyum
“tentu saja semua murid disini takut sama kepala sekolah yang besuara geram
dan berpakain seperti mafia” kata reiin dengan sopan sambil makan
“benarkah?” tanya kepala sekolah yang masih belum mengerti
“tentu saja, siapa yang tidak takut sama kepala sekolah yang menakutkan
seperti ini” kata papa reiin sambil makan buah juga
“jadi aku harus bagaimana” tanya
kepala sekolah degan santai sambil melihat reiin dan papanya makan
“bagaimana ya?, aku tidak tau, tapi papaku tau” kata reiin yang tetap makan
saja
“soal itu, sebaiknya kamu ubah penampilan dan cara bicaramu di depan muridmu
dan kondisikan dengan lingkungan yang kamu tepati” kata papa reiin sambil makan
buahnya
“kondisikan dengan lingkungan apa maksudnya” tanya lagi kepala sekolah yang
masih bingung
“UHKKK” reiin terkejut dengan
pertanyaan kepala sekolah
“sudah jangan pikirkan terlalu panjang reiin, kepala sekolah lambat mikir
saja” kata papa reiin yang melihat reiin sedikit terkejut
“mm” kata reiin samnbil mengangguk-nganggukan kepalanya beberapa kali
“apa maksudmu tadi?” tanya kepala
sekolah yang mendengar perkataan papa reiin
“sudah jangan pikirkan yang tadi, maksudnya gini, kamu sesuaikan dengan
sekitarmu” kata papa reiin dengan jelas
“jika kepala sekolah belum mengerti, contohnya jika kepala sekolah jadi
guru kepala sekolah harus bertingkah layaknya guru, jika kepala sekolah berada
di area militer maka harus bertingkah layaknya militer” kata reiin sambil mengambil
buah di atas meja
“ya” jawa bersamaan rein dan papanya
“eh, kenapa habis buahnya?” tanya papa reiin yang mau ambil buah tapi habis
“kalian kan makan dari tadi” kata kepala sekolah
“mmm, benarkah?” tanya papa reiin yang merasa seperti makan sedikit saja
“karena buahnya sudah habis kami akan pulang” kata pap reiin sambil berdiri
“ya” jawab singkat kepala sekolah
“kalau gitu kepala sekolah sampai jumpa besok, oh, dan jangan lupa taruh
buah yang lebih banyak lagi” kata reiin dengan sopan
“ya, hati-hati kalian” kata kepala sekolah sambil kembali duduk di kursinya
Reein dan papanya
meninggalkan ruangan kepala sekolah bersamaan
“pa, siapa kepala sekolah?,” tanya reiin yang tidak penasaran dan hanya
untuk mengobrol saja
“kepala sekolah teman papa waktu papa pergi dari rumah” jawab papa reiin
dengan jujur
“emang papa anak orang kaya?” tanya reiin lagi sambil berjalan keluar
“ya, tapi papa dan kakak papa memberontak di keluarga, sekrang papa hanya
punya kalian” kata papa reiin sambil mengusap kepala reiin
“oh, gitu” kata papa reiin sambil berjalan ke gerbang sekolah
“jadi kenpa kamu menanyakan kehidupan papa?” tanya papa reiin pada reiin tanya
papa reiin pada reiin sambul mengusap kepala reiin
“tidak ada, cuma pensaran saja sama kehidupan papa” respon reiin yang
pura-pura penasaran
“kamu jangan bohong” kata papa reiin sambil memukul kepala reiin untuk
menegurnya
“kenapa malah di pukul?” tanya lagi reiin
“itu karena kamu bohongi papa” respon papa reiin sambil mengusap kepala reiin yang habis di pukulnya
“dari mana papa tau kalau aku bohong?” tanya reiin yang sedikit penasaran
“itu mudah, karena kamu anak papa, dan papa juga bisa berbohong seperti itu”
kata papa reiin sambil mengelus kepala reiin
__ADS_1
“jadi papa sering bohong dong?” tanya reiin dengan jelas
“tentu saja, papa sering bohong, kepada orang yang sering bohongi papa”
jawab papa reiin dengan jujur sekali
“jadi selama ini papa bohong sama reiin dong” tanya reiin yang penasaan
sekali
“ya, kadang juga tidak” jawab papa reiin denga jujur
“jadi selama ini aku kena tipu sama papa dong” kata reiin yan merasa agak
kecewa
“ya, begitulah” jawa papa reiin dengan senyum puas
“jika kamu mau bohongi papa, sebaiknya pikir lebih dulu” kata papa reiin
yang sduah dekat dengan gerbang
“ya” jawa reiin singkat
“sekarang giliran papa yang tanya” kata papa reiin sambil membuka pintu
mobil
“tanya apa pa?” respon reiin singkat
“gimana sekolah ini?” tanya papa reiin dengan wajah serius
“bagaimana?, sepertinya menarik” jawab reiin dengan tenang sambil memikirkan
jawaban
“oh hanya itu?” tanya lagi papa reiin
“ya, mungkin” jawan reiin agak ragu-ragu
“kalu gitu yang kedua, bagaimana lisa di sekolah ini?” tanya papa reiin
sambil mentap reiin yang sedang mikir
“bagaimana!, hmm......., seperti anak-anak lainnya pa” jawab reiin dengan
serius
“anak lainnya??, bisa lebih jelas” kata papa reiin yang sedikit bingung
“ya, dia kayak anak seumurannya yang suka bermain, hmmm....., terus tadi
dia agak berbeda dari biasanya” kata reiin saat mengingat kejadian di kantin
“berbeda gimana?” tanya papa reiin yang sedikit
terbawa arus pembicaraan reiin
“kalau itu aku juga tau pa” jawa reiin dengan wajah polos dan jujur
“kalian sedang bahas apa” tanya lisa yang bertanya tiba-tiba
“kami hanya mengobrol biasa” respon reiin yang melihat lisa yang agak
berbeda dari biasanya
“hm...” lisa tidak merespon melainkan tiba-tiba lisa sedikit malu dan muka yang agak
merah saat reiin mersponnya
“apa kamu sakit lisa?” tanya papa reiin yang melihat lisa wajahnya merah
“tidak pam-pa, lebih baik kita cepat pulang saja” kata lisa sambil
tersenyum tapi terlihat memaksa
“ya” kata reiin dan papanya yang bingung dengan tingkah lakunya lisa sambil
melihat lisa naik mobil duluan
Reiin dan papanya
bingung dengan llisa yang tiba-tiba berbeda sekali
“kenapa lisa hari ini” pikir reiin yang belum mengerti dengan sikap lisa
Reiin dan papanya naik
setelah lisa naik duluan ke dalam mobil. Dalam perjalanan pulang tidak ada yang
di bicarakan, reiin yang duduk di sebelah papanya malah tidur karena kelelahan
“sepertinya ini akan jadi pengalaman yang bagus untuknya” kata papa reiin
saat melihat reiin yang tertidur di dalam mobil
“dan selain itu, kenapa dengan anak yang satu ini” pikir papa reiin yang melihat lisa dari
cermin yang melihat lisa yang menghadap jendela mobil sambil terlihat
memikirkan sesuatu
“anak-anak ini akan jadi seperti apa nantinya, aku penasaran sekali” pikir
papa reiin sambil tersenyum membayangkan mereka berdua jika menjadi suami-istri
-
“apa yang terjadi hari ini ya” pikir andi yang baru bangun dari tidurnya
“akhirnya kamu bangun juga” kata seseorang di depan pintunya
“siapa?” tanya andi tiba-tiba sambil mengusap matanya
“siapa kamu, ini mamamu” kata mama andi yang terlihat marah sekali
“eh mama, apa yang terjadi?” tanya
andi dengan nada bicara biasa
Bersambung>>>>>>
__ADS_1