Symbol Of The Sun'S Moon Star (Interstellar Adventurer Kotraktor)

Symbol Of The Sun'S Moon Star (Interstellar Adventurer Kotraktor)
Chapter 13


__ADS_3

Zein melihat ke tangannya lalu menekan gelang di tangannya lalu menekan menu apikasi maps pada layarnya. “Coba lihat ini!” Zein menampilkan gambar peta Planet A1. “Lihat titik ini!” Zein memperbesae skalanya jadi lebih kecil. “Bukannya ini sama dengan yang di tunjukkan kepala sekolah.” Zein menegaskan lagi. “Satu hal lagi!” Anto memperbesar sekali lagi dan mereka melihat sebuah bendera berkibar di sana dengan melambangkan sebuah tinju. “Apa menurut kalian tidak aneh kalau ada bendera yang berkibar di sana?” Tanya Zein pada semua orang di sana. Semua orang sangat kagey dan bahkan seperti baru menyadarinya.


“Bagaimana kamu bisa sangat tahu itu?” Tanya kepala sekolah dengan sangat kaget sekali. Zein terdiam saat di tatap banyak orang seperti itu.


“Kalau itu sih sejak masih kecil aku tahu. Saat masih kecil terkadang aku membuka berbagai hal di internet, seperti video, game, aplikasi pencari uang mudah, bahkan map pun aku buka. Kalian tahu, demi mecari cara sesuatu yang kalian suka atau cuma iseng saja pasti akan menemukannya. Dan saat itu aku masih kecil jadi nggak tahu deh kalau itu sebuah sekolah dan menganggap kalau itu hanya sebuah menara atau sesuatu yang di tinggali para penyihir.” Zein menjelaskan dengan singkat.


“Zein, apa lagi yang kamu sembunyikan?” Tanya Rei yang ada di dekatnya yang terlihat penasaran.


“Apa lagi? Hm… Sepertinya masih banyak sekali. Entah berapa banyak hal yang ku ketahui, aku tidak bisa menghitungnya sama sekali.” Jawab Zein dengan biasa saja dan tidak tahu kenapa rasa dia sedang di introgasi habis-habisan oleh semua orang.


“Begitu ya. Satu hal lagi, apa kamu bisa membaca geografis?” Tanya pada Kepala sekolah dengan tatapan tajam dan seeius pada Zein.

__ADS_1


“Tentu saja bisa meski hanya sedikit.” Jawab Zein dengan sedikit takut dengan tatapan kepala sekolah.


“Sebagai kepala sekolah, kamu bawa semua temanmu ke tempat itu sekarang juga.” Dengan serius kepala sekolah memerintahkannya.


“Tapi, tapi di sana ada banyak monster kan. Jadi aku tidak berani dan palingan kita akan mati saat masuk sana hanya dalam beberapa menit saja.” Timbal Zein yang sepertinya merasa dalam masalah. Setelah berkata itu, 'BEUK!' Rei langsung memukul Zein, tapi Zein refleks menghindar hingga kursi yang di tempatinya jadi pesek akibat pukulan Rei yang keras. “Fyuh...!” Zein jadi tidak bisa berkata apa apa dan merasa lega. Zein melihat ke Rei yang memukulnya seperti itu.


“Sepertinya semuanya ingin pergi ke sana. Baiklah kita semua akan pergi ke sana.” Kepala sekolah menegaskan dengan serius sekali. “Semuanya bersiap, kita bisa berangkat ke sana dalam beberapa menit lagi.” Suruh kepala sekolah dengan sangat senang sekali, sementara itu Zein merasa tidak nyaman dan masih tidak mengerti dengan hal yang sedang di alaminya hanya bisa diam saja mengikuti arus dan tidak marah dengan hal yang di lakukan Rei padanya.


“Tenang, tenang, tenang, Jangan terlalu pikirkan. Aku memang bisa beladiri dan malakukan berbagai hal dengan mudah. Tapi…!” Kepalanya jadi sekali tidak bisa mencerna sama sekali apa yang di pikirkannya. “Lupakan. Sebaiknya aku bersiap saja.” Zein lalu jalan ke arah semus orang pergi tadi. Dia berlari menyusul dan sudah sedikit memahami apa yang terjadi tadi malam dan apa saja yang di lewatkannya. Meski dia masih bingung kenapa dirinya bangun di lapangan pelatihan.


***

__ADS_1


Zein yang menyusul keluar, kini tiba di gerbang masuk sekolahnya dan di sana banyak sekali orang yang berkumpul. Tanpa peduli, Zein masuk ke barisan teman sekolahnya. “Maaf, sekolah kami tutup mulai sekarang, jadi kami tidak bisa memberikan pendidikan bagi semua siswa yang mau mendaptar. Tapi, kami akan membuka sekolah baru dalam 7 hari lagi, kami mohon untuk bersabar.” Kepala sekolah menjelaskannya. “Dan satu lagi, para monster dari masa lalu akan kembali di generasi kita ini, jadi bersiaplah mengahdapi bencana. Tapi, aku yakin dengan kekuatan semua orang yang ada di Planet ini pasti akan selamat. Kalian juga pernah sekolah di sini, seharusnya kalian siap juga menghadapi mengahdapi situasi yang tidak terduga.” Bicara kepala sekolah dengan momotivasi semua orang yang ada di luar.


Zein yang baru datang tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi di luar gerbang sekolahnya. “Ayah, ibu! Kenapa mereka di sini?” Tanya Zein yang  melihat Ayah dan Ibunya ada di keramian juga. “Bukan OrangTuaku saja. Semua OrangTua kami lebih tepatnya yang ada di sini.” Anto yang meliat beberapa orang yang dikenalnya. “Sepertinya semua orang tahu dengan apa yang terjadi tadi malam.” Zein yang sepertinya tidak tahu sama sekali dengan kejadian semalam.


“Baiklah semmunya, untuk sekolah baru itu berada di sini. Di dalamnya ada sekolah utma Fighter yang telah lama hilang dan di temukan oleh murid di sini. Sebagai kepala sekolah, aku tidak percaya sama sekali dengan hal yang di katakannya. Tapi, saat dia menemukan satu satunya petunjuk, saya langsung menghubungi semua cabang sekolah untuk kerja sama mencari sekolah itu yang tentunya akan di pimpin oleh siswa itu dan namanya Zein dari kelas 2.” Dengan serius menyebutnya. Zein yang baru tiba malah langsung kena masalah besar dan tidak bisa mengelak lagi. Semua murid yang ada di sana membuka lebar dan memberikan jalan pada Zein yang paling belakang barisnya.


Semua murid tersenyum dengan bangga, tapi sebenarnya mereka terlihat bahagia sekali dengan penderitaan Zein. Sementara itu, Rei yang tiba-tiba di belakangnya  mendorong Zein dengan pelan dan membuatnya melangkah di barisan murid yang telah memberinya jalan untuk maju ke depan. Zein yang sudah terlanjur hanya bisa mengikuti arus saja dengan penuh percaya diri. “Awas kalian semua.” Zein tersenyum sambil mengancam semua teman sekolahnya dengan sangat tajam sekali. “Hai Ayah, Ibu, semuanya.” Sapa Zein dengan tersenyum. Di sisi lain, OrangTuanya sangat kaget sekali dengan anaknya yang maju dengan penuh percaya diri.


OrangTua Zein langsung mendekat ke anaknya yang sedang berjalan medenkat ke hadapan Kepala sekolah lalu menghentikannya. “Maaf kepala sekolah, izinkan aku memukul anakku. Maaf jika dia sudah membohongi Anda.” Dengan sopan Ayah Zein meminta maaf pada kepala sekolah.


“Hah! Apa maksud Ayah?” Tanya Zein yang kaget dengan tindakannya dan terlihat di percayai sama sekali oleh Ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Saya mohon maaf juga.” Ibunya pun menundukkan kepalanya dengan sopan sambil sedih. Zein jadi sangat kaget dan tidak mengerti lagi dengan situasinya sendiri.


__ADS_2