Tak Seindah Mimpi

Tak Seindah Mimpi
22


__ADS_3

Seminggu kemudian, para orang tua atau yang mewakili mendatangi sekolah mereka untuk mengambil hasil laporan anak mereka selama satu semester, betapa terkejutnya kakak ipar Nadia, kak Jami suami kak nadin, selaku wali Nadia karena melihat nilai adik iparnya anjlok dan tak satupun mata pelajaran yang nlainya bagus, padahal Ia mengenal Nadia dari Nadia Sekolah dasar sampai Sekolah Menegah Pertama selalu mendapatkan rangking, tapi kali ini jangankan Ranking tuntas saja tidak.


Sepulangnya dari sekolah kak Jami menjemput Nadia dirumah sepupunya, Ia sangat kesal dan akan menanyai adik iparnya itu kenapa nilainya seperti itu. Kak Jami punya alasan bahwa Nadia akan libur selama dua pekan jadi bisa kembali ke rumahnya untuk liburan, Nadia hanya menurut perintah kakak iparnya.



Sebelum kerumah mertuanya kak Jami singgah di rumahnya, Nadia sangat bahagia karena hampir enam bulan tidak bertemu denga kakaknya dan ponakannya, begitu sepeda motor kak jami berhenti ia berlari masuk kerumah kakaknya dan memeluk ponakannya.


“rindu’ Ucap Nadia dengan mata yang bekaca-kaca, lalu memeluk Wira ponakannya satu-satunya.


“ante darimana” Tanya Wira, yang baru belajar berbicara.


“Ante sekolah sayang” mengusap pucuk kepala ponakannya, yang sangat mirip bocah-bocah korea, pipinya gembul, mata sipit, dan badannya yang bongsor.


Kak Jami menyusul Nadia masuk kedalam rumah dan membuang laporan semester Nadia ke tempat sampah yang ada di pojok ruangan, Kak Nadin heran dengan apa yang dilakukan suaminya tidak seperti biasanya. melihat raut wajah suaminya Ia memberanikan diri untuk bertanya.


“ papa kenapa?..ngak biasanya pulang marah-marah” Tanya kak nadin.


Nadia hannya terdiam karena takut

__ADS_1


“papa sangat malu ma, Nilai Nadia sangat jelek disekolah, bahkan ada beberapa mata pelajaran yang nggak tuntas”.


Kak Nadin hanya diam dan tak menjawab, ia melirik adiknya yang hanya menuduk takut.


“Apakah selama enam bulan ini, kamu hanya bermain di sekolah?..Tanya Kak jami.


“Nggak kok Kak” jawab Nadia takut dengan suara pelan.


“Kalau nggak, kenapa nilai kamu menurun begitu dek?...Tanya kak Nadin sedih.


Nadia sesungguhnya tidak mau menjelaskan ke kakaknya bahwa Ia tidak pernah belajar dirumah sepupunya karena sibuk mengurus rumah, mencuci dn lain-lain.


“kalau dia tidak mau berbicara, berarti memang benar bahwa dia hanya main-main dalam enam bulan ini, mending kamu nggak usah sekolah lagi” ujar kak jami yang sudah tersulut emosi.


Mendengarkan perkataan kakak iparnya Nadia menangis sesegukan, Nadin yang melihat adiknya merasa iba dan mengajaknya masuk ke kamarnya. Saat berdua di dalam kamar Ia mendesak adiknya untuk bercerita, Ia tidak mau mengambil keputusan yang salah nantinya, karena setahu Nadin adiknya tidak punya kekasih.


Nadia menceritakan semuanya kepada kakaknya tanpa ada yang disembunyiannya lagi, Ia sangat takut jika Ia putus sekolah, ia sangat ingin menjadi Bidan di desanya kelak. Setelah Nadin mendengarkan penjelasan adiknya Ia pun menemui suaminya dan menceritakan apa yang dialami adiknya, mereka berdua sangat kasihan melihat tubuh adiknya yang sangat kurus seperti nggak pernah diberi makan.


"Ma bagaimana kalau Nadia kita ajak tinggal saja dirumah kita" Usul kak jami

__ADS_1


"Tapi apa boleh pa, jarak dari rumah kesekolah masih lumayan jauh"


"Dia bisa naik bus setiap pagi"


"Iya pa, mama juga setuju dan kasihan padanya.


-


-


-


-


Jangan lupa yah dukungannya🙏🙏🙏


Like


Koment

__ADS_1


__ADS_2