
Putra tidak ingin dibantah, Mawar bisa tau hanya dengan mendengar nada suara Putra.
Padahal dalam hati Mawar pun bersyukur Putra mau mengantarnya. Di bank ada pekerja teller yang selalu menggoda nya. Akhirnya dengan senyum lebar Mawar menjawab.
"Baiklah kau boleh menemaniku, bukan kah kau super hero ku." canda Mawar.
Sungguh Putra dibuat gemash
"Ayo kita sarapan dulu, aku juga sama kesiangan nya seperti mu" lanjut nya
Mereka berjalan keluar kamar, menuju meja makan. Untuk sarapan bersama.
"Sudah ku duga pengantin baru itu memang selalu bangun kesiangan." Yuyun tersenyum genit.
Putra dan Mawar saling lirik dan tersenyum kikuk.
"Kalian kemeja makanlah, aku akan menghangatkan makanannya dulu." ujar Yuyun.
"Aku suka makan di meja dapur ini saja yun, kecuali Putra ingin makan di sana maka aku akan ikut."
"Sejak kapan kamu mau diatur, sejujurnya aku terkejut." kekeh Yuyun.
"Hey, aku tidak separah itu ya. Di sini kan ada suamiku, aku juga harus mendengar mau dia dan menghargai keputusan nya." bela Mawar dengan wajah sedikit cemberut, berbeda dengan Putra yang terlihat syok.
Mawar menghargai pendapatku? Itu kalimat terindah yang pernah Putra dengar. Seumur hidupnya, belum pernah sekali pun ada orang yang terang-terangan mau menghargainya. Selama ini hanya penghinaan yang dia dapatkan.
Bahkan wanita yang dulu dia cintai pun tidak pernah sekalipun menghargai apa yang putra lakukan. Dengan perasaan campur aduk Putra menjawab.
"Saya juga suka makan di meja ini."
"Kurasa aku menyukai apapun yang disukai istriku. Terserah Mawar saja, asal itu membuat nya senang." ujar Putra kembali sambil tersenyum ke arah Mawar.
"Astaga, kau dengar itu sayang. Itu manis sekali, kau menikahi pria yang nyaris sempurna." Yuyun nampak terkejut.
Wajah Putra dan Mawar langsung memerah. Putra menundukan wajahnya.
"Kau berlebihan, aku hanya bersikap sewajarnya. tidak ada yang istimewa." sambil menunduk Putra menjawab respon Yuyun
Putra nyaris tidak percaya dengan respon itu. Karena selama ini dia merasa tidak cukup pantas untuk menjadi suami. Bagaimana mungkin orang yang baru mengenalnya bisa bicara seperti itu.
Mawar melihat itu hanya tersenyum, dia tau Putra sosok pria pemalu dan baik, itu mengapa Mawar memilih putra untuk membantunya tanpa ragu sedikit pun.
"Sudahlah, ayo kita sarapan. Aku tidak mau terlalu siang ke bank. Matahari sungguh bisa membakar kulitku." Mawar menengahi.
__ADS_1
Mereka sarapan dengan cepat, Mawar segera melangkah keluar dapur begitu dia menghabiskan sarapannya. Putra mengikuti langkah Mawar, Putra memperhatikan bagaimana Mawar berjinjit untuk meraih kunci mobil yang tergantung, memang letaknya cukup tinggi untuk tubuh Mawar yang kecil. Dalam hati Putra, paku itu akan menjadi PR nya nanti ketika pulang ke rumah nanti.
"Biarkan aku yang menyetirnya untukmu, berikan kuncinya."
"Baiklah! Terimakasih" sambil memberikan kunci yamg masih ada ditangannya.
"Tidak ada salahnya memiliki supir pribadi," batin Mawar.
Perjalan dari perkebunan ke kota memakan waktu sejam perjalanan. Tapi dengan Putra yang mengemudi mobil. Sepertinya empat puluh menit sudah sampai. Bukan karna Putra ngebut tapi karena Mawarlah yang mengemudi begitu lambat.
Mobil bergerak sangat luwes, bahkan Mawar sama sekali tidak merasaka goncangan saat mobil mengerem atau saat pergantian gigi nya.
"Aku tidak tau kamu bisa menyetir, kau sungguh penuh kejutan." Akhirnya Mawar membuka suara, setelah lama diam.
"Aku pernah bekerja menjadi supir saat masih kuliah, kau taulah untuk biaya kuliah." jawab Putra
"Aku tau hidupmu berat, tapi kamu masih beruntung bisa bersekolah. Sedangkan aku?" ujar Mawar sedih.
"Bagiku sebuah pendidikan itu bisa kita kejar sampai kapan pun, tidak ada kata terlambat dan batas waktu."
Mereka pun saling tersenyum
°°°°
Putra mulai memarkirkan mobil nya di parkiran bank, Mawar pun sudah mulai membuka mobil dan turun, namun dia menyadari Putra diam saja.
"Kenapa kau diem saja? Kau tidak ikut turun?" tanya Mawar.
"Aku rasa tidak, kau masuk lah, aku akan menunggumu dimobil." jawab Putra.
"Kenapa kau tidak mau menemaniku, kau malu mereka tau aku istrimu yang bodoh." dengan wajah tertunduk Mawar bertanya.
Putra terlihat panik, bisa-bisanya mawar berfikir seperti itu. Nyatanya Putra lah yang malu berdampingan dengan gadis itu. Gadis itu terlihat begitu cantik dan modis, sedangkan dia? Baju lusuh yang bahkan warnanya saja sudah sedikit pudar.
"Tidak.. Bukan seperti itu, Mawar!"
"Jujur saja aku memang malu, tapi bukan malu karena mu. Aku malu dengan diriku sendiri. Kau lihat semua orang yang masuk ke gedung itu berpakaian sangat bagus dan rapi. Sedangkan aku? Aku tidak pantas menginjak kan kaki ku ke dalam terlebih masuk bersamamu." ucap Putra lagi.
Dengan muka kaget dan mulut sedikit terbuka Mawar berucap.
"Ya tuhan Putra, kenapa kau berfikir dangkal sekali. Tidak baik menilai orang dari luarnya saja, ayo masuk denganku akan ku buktikan bahwa aku tidak malu bersamamu." jawab Mawar sunguh-sungguh.
Akhirnya mereka pun berjalan memasuki bank itu. Dengan perasaan cemas dan perut mulas Putra mengikuti langkah Mawar.
__ADS_1
Ternyata benar ucapan Mawar, tidak seorangpun yang menghina nya, bahkan satpam di sini tersenyum ramah padanya.
Memang hanya segelintir orang yang berfikir dangkal dan suka menghina orang lain, tapi kebetulan saja dulu orang yang suka menghinanya adalah orang terdekatnya dan itu meninggal kan dampak buruk untuk putra.
Mawar menuju teller bank, dengan expresi ceria. Sungguh Putra di buat binggung. Setelah selesai urusan disana mereka kembali pulang.
°°°°
DI PERJALANAN
Mawar masih saja tersenyum.
"Kau kenapa? Sepertinya aku melewatkan sesuatu." tanya Putra
"Hahhahahhaaa.. Aku sungguh senang sekali." jawab Mawar masih dengan tawanya bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Jadi apakah kau bersedia membagi kebahagiaan denganku. Hmmmm."
"Kau tidak melihat wajahnya?" ucap Mawar.
"Teller tadi? Dia menatap ku seperti melihat hantu." tanya Putra penasaran.
"Hmm.... Ya, dia itu pria iseng yang selalu menggodaku jika aku ke sana. Dia tadi bertanya kau siapa, aku jawab suamiku. Hahhaahaaa.. Sungguh aku bahagia melihat wajah kagetnya. Dia pasti tidak menduganya, karena ini kali pertamanya aku keluar dengan seorang pria. Aku yakin dia tidak akan lagi menggodaku, melihat tubuh besarmu, dia pasti ketakutan." kata Mawar.
"Jadi kau memanfaatkan aku?" tanya Putra dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
"Ya sedikit, mulai sekarang aku akan memanfaatkan mu jika itu diperlukan." dengan senyum lebar Mawar menjawab.
Putra sangat menikmati moment ini, saling tertawa bersama. Putra sama sekali tidak merasa dimanfaatkan, justru dia senang Mawar mau mengakuinya suami.
"Semoga kau selalu bisa tertawa seperti itu, tak akan ku biarkan orang lain menyakitimu." Batin Putra.
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
__ADS_1
°Terimakasih