
Sungguh pria keras kepala
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu mau tidur diranjang. Hah! Demi Tuhan Putra! Kau sedang sakit. Jangan mempersulit keadaan." geram Mawar.
"Aku akan tidur diranjangmu, kalau kau juga tidur di ranjang itu."
Hening! Jantung Putra berdebar kencang
"Maksudnya, tidur berdua? Denganmu? Bersama?" dengan mulut ternganga Mawar mengucapkan pertanyaan yang menurutnya agak janggal.
Putra tersenyum menyadari kegugupan Mawar yang kentara. Dia berfikir harus menenangkan gadis itu.
"Aku percaya kau tidak akan macam-macam kan jika kita tidur satu ranjang. Terlebih aku sedang sakit, kau tidak akan memper..."
Ucapan Putra langsung dipotong Mawar.
"Kau benar-benar parah! Parah lahir batin." ujar Mawar
Dia tidak tau harus marah atau tertawa. Sungguh konyol pikir Mawar. Mawar membantu Putra pindah ke ranjangnya dan segera menyelimuti tubuh Putra hingga menutupi dadanya.
"Tunggu di sini ya, aku ambilkan obat dulu." kata Mawar.
"Baiklah, setelah itu tidurlah, aku tidak apa-apa." ujar Putra sembari tersenyum.
Dengan cepat Mawar keluar kamar, lalu kembali dengan sebutir tablet obat dan segelas air putih.
"Terimakasih," ucap Putra setelah menelan obatnya.
Mawar mengangguk dan meletakkan gelas di nakas sebelahnya. Perlahan dia melangkah ke sisi lain tempat tidur, hatinya diliputi keraguan untuk tidur di sebelah Putra. Setelah menarik nafas panjang akhirnya Mawar merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sedikit canggung memang. Dia sengaja berbaring dipinggir ranjang seperti takut bersentuhan dengan tubuh putra, bukan karna jijik atau apa, tapi dia masih terlalu syok dengan keadaan seperti ini. Tapi jika di pikir Putra adalah suaminya, cepat atau lambat bukan kah memang harus seperti ini. Hmmmm!
"Selamat tidur dan sekali lagi terimakasih untuk obatnya." Putra tersenyum sebentar pada Mawar sebelum memejamkan matanya.
"Selamat tidur juga untukmu." jawab Mawar menoleh sebentar.
Mawar memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Putra. Mata Putra sudah terpejam, mungkin dia sudah tertidur, pengaruh obat pikir Mawar. Mawar kembali menarik nafas panjang, rasanya tidak terlalu buruk membiarkan Putra berada di sampingnya. Terlebih Putra adalah teman, suami, dan sekarang pacarnya. Putra bisa menjadi apapun yang dia butuhkan. Tak pernah terbayang oleh Mawar dia bisa mempunyai seorang pria seperti Putra.
Putra tertidur telentang hingga Mawar hanya bisa melihat wajahnya dari samping. Diam-diam Mawar mengagumi garis wajah Putra yang tegas. Rahangnya yang kokoh, hidung mancung, bibir merah tipisnya. Rambut Putra jatuh berantakan disekitar dahinya, Mawar tergoda untuk menyibakkan rambut itu dari dahi Putra namun segera dia mengenyahkan pikiran yang membuatnya risi sendri.
Apa-apaan si aku ini? Dia sedang sakit dan aku malah memiliki pikiran konyol aaaiiiiissshhhhhh
Sedangkan Putra yang belum terlelap masih setia menunggu dengan perasaan berkecamuk tak menentu. Kacau!
Lama dia menunggu sampai terdengar helaan nafas kecil dari gadisnya. Mawar terlelap dan Putra merasa bahagia akhirnya Mawar mau tidur dengannya.
Apakah aku harus makan udang terus dan sakit, agar kau bersedia tidur denganku. Aku rela melakukannya !
Dengan hati-hati Putra menaikkan lengannya hingga dia bisa menggeser kepala Mawar ke bahunya. Rasanya tidak terbayangkan saat tangan Mawar tiba-tiba terangkat ke perutnya. Mawar bukanlah satu-satunya wanita yang pernah memeluknya, namun untuk pertama kalinya Putra merasa kenyamanan yang luar biasa. Seolah-olah Mawar mencintainya dan itu lebih dari cukup. Rasa tenang dan nyaman membuatnya mengantuk dan tertidur.
__ADS_1
°°°°
Pagi Hari
Mawar terbangun dan nyaris melompat dengan panik karena mendapati dirinya tertidur di pelukan Putra. Dahinya berkerut, berusaha mengingat-ingat kejadian tadi malam. Jelas-jelas dia tidur dipinggir, tapi entah kapan dirinya bergerak memeluk Putra, sebab rasanya tidak mungkin Putra yang melakukannya, Putra tidak akan berani.
Secepat kilat Mawar beringsut kepinggir ranjang, menatap Putra cemas. Mawar berdoa dalam hati semoga Putra tidak menyadari keintiman antara mereka. Gerakan Mawar membuat Putra terjaga dan membuka matanya. Dia melihat wajah cemas Mawar. Dengan gugup dan panik Putra bertanya.
"Apakah ruamku tambah parah?" Putra segera duduk dan meraba wajahnya dengan expresi tak kalah cemas.
Sontak Mawar tertawa terpingkal-pingkal melihat mimik wajah Putra yang panik. Semua kecemasan dan rasa malunya hilang sudah.
"Tidak... Tidak" jawab Mawar ditengah tawanya.
Wajah Putra semakin pucat.
"Astaga! Aku pasti bengkak-bengkak." rutuk Putra semakin panik membuat Mawar semakin tertawa.
"Maafkan aku," kata Mawar sambil meredakan tawanya.
"Lalu?"
"Kau sama sekali tidak apa-apa, kau masih terlihat tampan bagiku."
Dengan bingung Putra melangkah ke cermin dan bernafas lega karena wajahnya memang tidak bengkak, hanya masih sedikit ruam.
"Kau membuatku hampir mati panik, apa maksudmu membangunkan aku dengan wajah cemasmu." tanya Putra.
Mawar turun dari ranjang sembari menjawab,
"Tidak ada apa-apa, kaulah yang membuatku nyaris mati tertawa melihatmu." masih dengan tawanya.
"Kau menikmatinya?" tanya Putra gemas sambil berjalan mendekati Mawar.
"Aku tidak sengaja," sanggah Mawar sambil berlari menuju kamar mandi karena merasa Putra akan membalasnya.
Putra tersenyum.
Inilah cara bangun tidur yang paling menyenangkan! Akankah ini terulang lagi besok, lusa dan seterusnya
°°°°
Yuyun memekik saat melihat Putra memasuki dapur.
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Aku mendapatkan sedikit masalah dengan para udang yang hadir di pesta semalam."
__ADS_1
Mawar datang bergabung untuk sarapan.
"Kau mau kopi?" tawar Mawar.
"Tidak terimakasih, aku sudah mendapatkan masalah dengan udang itu, aku tidak mau mendapatkan masalah dari kopi dan perut kosong." jawab Putra.
"Kau harus istirahat Putra, hindari angin dan udara dingin akan mempercepat proses penyembuhanmu." Yuyun menatap Putra dengan wajah prihatin.
"Tidak bisa, aku harus tetap bekerja."
"Kau tidak mungkin pergi keluar rumah dengan keadaan seperti itu. Semua orang akan berlari ketakutan melihatmu. Kamu harus memiliki rasa kasihan terhadap orang lain." sergah Mawar mendengar Putra tetap ingin bekerja.
"Yuyun dan Mawar benar, kau tidak usah bekerja dulu, nanti aku yang akan memeriksa semuanya. Kau tidak perlu memaksakan diri." Ujar Bambang sambil tetap fokus memakan nasi gorengnya.
"Aku diperlakukan seperti orang penyakitan." Keluh Putra.
Mawar melototkan matanya.
"Kau memang sedang sakit, jadi bersikaplah seperti orang sakit." geram Mawar.
"Terserahlah, tapi asal kau tau saja,aku tidak betah terkurung di dalam rumah tanpa melakukan apapun."
"Kau akan beristirahat dan aku akan mengawasimu." kekeh Mawar.
"pasti akan sangat membosankan."
"sudah cepat sarapan dan minum obatmu, jangan mengeluh terus." omel Mawar.
"Siap nyonya Mawar nugroho." goda Putra
°°°°
Sorry readers saya baru sempat up.
Staytune terus ya.. Dukung Putra terus sampe hati Mawar luluh 😁
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
dan jejak komentar
°Terimakasih
__ADS_1