Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 27


__ADS_3

Setelah malam itu, hari-hari berikutnya cepat berlalu karena rasa bahagia yang meliputi pasangan suami-istri Putra dan Mawar. Ternyata sangat menyenangkan menikmati kebersamaan secara bertahap. Anggap saja seperti pacaran setelah menikah, nikmat bukan?


Kesabaran dan pengertian Putra menghadapi Mawar mulai menunjukkan hasil. Kini Putra bisa mengecup kening Mawar saat tidur malam dan saat pagi hari. Sungguh Putra bisa mengubah ketakutan Mawar menjadi kebahagiaan untuknya. Kadang Putra mencuri waktu untuk pulang dari perkebunan hanya sekedar ingin memanjakan istri tercintanya. Wajah Mawar yang merona selalu membuat Putra terpesona. Walaupun Mawar terlihat masih malu-malu, namun itu tak mengapa untuk Putra, asal Mawar tidak menolak sentuhan darinya lagi. Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih yang telah di mabuk asmara, bedanya adalah mereka sudah SAH dalam ikatan suci pernikahan.


Semua ini benar-benar hal baru bagi Mawar, selain karena Putra dia tidak pernah dekat dengan mahluk yang bernama laki-laki. Mawar terkadang masih malu ketika Putra menciumnya atau bahkan membelainya, namun dia tak kuasa menolak karena entah kenapa tubuhnya menyukai hal itu. Dia bersyukur Putra tidak pernah memaksanya untuk melakukan hal yang belum siap dia lakukan. Dan untuk membalas semua kebaikan Putra, Mawar merasa harus lebih memperhatikan pria itu, layaknya tugas seorang istri. Namun tanpa Mawar tau Putra sebenarnya tidak suka jika gadisnya itu melayaninya secara berlebihan.


"Berhentilah bersikap seperti itu." desis Putra


"Seperti apa memangnya? Kau tidak suka aku memperhatikanmu?" Mawar bertanya dengan raut wajah sendu.


Putra berdiri, tubuhnya menjulang di hadapan Mawar hingga gadis itu harus menengadah untuk bisa melihat wajah Putra.


"Berhentilah memperlakukanku seolah aku ini penyakitan. Aku pria sehat dan tenagaku jauh lebih kuat darimu. Kau tidak perlu mengambilkanku baju, makanan, minuman, sepatu, atau apa pun untukku." ujar Putra bijak.


Mawar terperangah kaget, lalu menunduk dalam-dalam sambil berkata dengan lirih,


"Kupikir kau bahagia dengan perhatianku. Aku hanya mencoba bersikap selayaknya istri melayani suaminya. Aku hanya ingin kau bahagia dan tidak menyesal menikah denganku."


Wajah Putra seketika melembut.


"Sepanjang hidupku, kaulah satu-satunya wanita yang membuatku bahagia. Aku tidak menyesal sedikit pun menikahimu. Demi Tuhan Mawar, kau tidak perlu menjadi pelayanku agar aku memandangmu sebagai istri. Aku mencintaimu apa adanya. Kau tidak perlu menjadi orang lain atau melakukan hal yang tidak perlu hanya untuk menyenangkanku." Putra meraih pinggang Mawar dan memeluknya.


"Benarkah?" Mawar menatap mata Putra lekat-lekat.


Putra mengangguk


"Sekarang apa kau bersedia menghentikan sikap anehmu itu?"


"Baiklah, kalau kau memang ingin begitu." Mawar menjawab dengan nada manja. Pria ini luar biasa. Sangat perduli dan sama sekali tidak arogan.


Tiba-tiba Putra mengangkat tubuh Mawar dan menggendongnya ke ranjang sambil tersenyum nakal.


"Siap untuk tidur nyonya nugroho?"


"Hentikan Putra, turunkan aku" wajah Mawar merona oleh perlakuan yang mesra ditunjukkan oleh Putra.


"Pasti akan aku turunkan, kau pikir aku akan menggendongmu semalaman?" Putra menurunkan Mawar di kasur dan segera ikut bergabung dengan Mawar di balik selimut.

__ADS_1


Tubuh Putra seperti magnet yang membuat tubuh Mawar tertarik untuk mendekat dan langsung masuk ke pelukan hangat pria itu.


"Bolehkah kau tidur seperti ini selamnya?"


Lengan Putra semakin erat memeluk Mawar.


"Tanpa batas waktu. Free of change, tidak ada biaya sedikit pun." canda Putra.


Mawar hanya mampu tertawa.


"Mawar, apakah kesepakatan kita artinya batal? Aku ingin kau menjadi istriku yang sesungguhnya dan bukan hubungan bisnis semata." ucap Putra serius.


"Hmm maafkan aku Putra."


"Apa pun yang terjadi dengan hubungan kita di awal, anggap saja itu cara takdir mempersatukan kita. Caranya memang salah, tapi apakah kamu tidak ingin membuat sesuatu yang salah itu kembali ke jalan yang benar?" tanya Putra sambil terkekeh.


"Aku mencintaimu."


Hening


Mawar melirik Putra yang hanya diam saja. Lalu seketika Mawar mencubit perutnya.


"Ish tadi saja melamun."


"Hehee.. Bisa kau ucapkan sekali lagi. Kupingku sedikit berdengung." canda Putra.


Padahal Putra hanya ingin memastikan apa yang di dengarnya. Akhirnya. Akhir dari buah kesabarannya.


"Aku mencintamu. Terimakasih Putra. Terimakasih sudah sabar dan mau menerimaku yang bodoh ini."


"Ssstt....aku sungguh mencintaimu tulus Mawar. Aku akan menjagamu. Aku bahagia sekali. Bahagia memilikimu. Ayo kita tidur, kata cinta tak akan ada habisnya kalau kita bahas terus." kekeh Putra sambil mengecup kening Mawar.


°°°°


KEESOKAN HARINYA


"Hei pemalas. Baru semalam aku memberikanmu kelonggaran, kau sudah kesiangan." canda Putra sambil mencubit hidung Mawar.

__ADS_1


"Astaga! Aku benar-benar kesiangan ya? Padahal aku sudah berjanji akan membantu Yuyun membuat sarapan pagi ini." Mawar nyaris melompat dari ranjangnya melihat Putra sudah rapi dan wangi.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" tuduh Mawar dengan cemberut.


"Kau tidur seperti bayi. Mandi sana." Putra mendorong Mawar ke kamar mandi hingga gadis itu menghilang di balik pintu.


Dua puluh menit kemudian Mawar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan jubah mandinya yang tebal. Putra melihatnya dengan jantung yang berdebar kencang.


"Kau langsung mendorongku ke kamar mandi sebelum aku sempat mengambil baju gantiku." ujar Mawar dengan wajah kemerahan karena malu.


Dengan langkah cepat Mawar berjalan ke lemarinya mengambil pakaiannya. Tubuh Mawar menebarkan keharuman sabun mandi yang segar di penjuru kamar. Kulitnya terlihat bersinar di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela yang tipis. Pandangan Putra terkunci pada gadis itu. Dia tidak bisa lagi menahan gairahnya yang melonjak dengan cepat karena pemandangan indah di hadapannya. Jubah mandi Mawar tidak bisa menutupi lekuk tubuh gadis itu.


Mawar tersentak kaget saat dia membalikkan badannya dan mendapati Putra berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Mawar bisa menghirup aroma cologne Putra yang maskulin. Kedekatan tubuh mereka membuat jantung Mawar tiba-tiba berdebar keras. Keduanya sama-sama tak bersuara, hening. Hanya kicauan burung-burung di luar sana yang terdengar merdu di antara keheningan kamar. Mawar memandang mata Putra yang tampak menatap lembut namun menyiratkan sesuatu yang berbeda. Wajahnya menghangat dari ujung kepala hingga ke unjuk kaki.


Debaran di Dada Mawar sekeras deburan ombak di pantai saat tangan Putra menangkup tengkuknya dan mengunci kepalanya sehingga dia tidak bisa bergerak. Dengan mantap Putra melingkarkan lengannya pada pinggang Mawar kemudian mereka saling menelan salivanya. Mata gadis itu terpejam saat ciuman mereka semakin dalam. Pakaian yang ada di tangan Mawar terlepas dari tangannya ketika gadis itu mengalungkan lengannya ke leher Putra.


Saat Putra melepaskan Mawar, dia menatap bibir Mawar yang agak bengkak dan kemerahan. Namun hal itu justru membuatnya semakin terlihat seksi. Tangan Putra menuruni tengkuk Mawar sambil mengusap leher dan bahu gadis itu sehingga jubah mandinya tersingkap. Kerah jubah mandi yang rendah memudahkan Putra menyelipkan tangannya dan membelai lembut aset Mawar yang indah dan halus.


"jangan"


°°°°


Eeeiitttzzzzzzz kita tahan dulu ya


aku tunggu LIKE - nya dulu dong..


😂😂😂


°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa


Rate bintang 5


Like

__ADS_1


dan jejak komentar


°Terimakasih


__ADS_2