
LIMA BULAN KEMUDIAN
Mawar baru saja selesai merapikan kamar calon anak pertama mereka. Hari itu dia tampak sangat cantik dan manis dengan dress putih bermotif bunga matahari yang kecil-kecil. Dengan gerakan lamban Mawar melangkah ke teras, tempat Putra suaminya tengah sibuk menata ulang bermacam perkakas.
"Hai Sayang," sapa Mawar sambil menyentuh bahu Putra yang sedang berjongkok di depan alat tempurnya.
"Aisssh, kau sekarang lebih memperhatikan mereka dari pada istrimu." manyun Mawar.
"Benarkah? Aku minta maaf sayang jika kau merasa diabaikan, kamu tau pasti aku tidak bermaksud seperti itu." Putra berbalik dan langsung berdiri mengecup kening istrinya yang sedang tersenyum manis.
"Aku hanya bercanda sayang. Tapi jujur aku memang sedikit iri dengan waktu yang kau habiskan di sini dari pada denganku." ujar Mawar lagi.
"Aku hanya sedang menyibukkan diri karena tidak bisa keluar rumah saat kehamilanmu sudah sebesar ini." ucap Putra sambil mengusap-usap perut Mawar yang membuncit.
"Iya aku tau."
"Hmm sayang, aku tidak pernah melihat perut wanita hamil sebesar perutmu. Kau yakin kau tidak apa-apa? Ini sungguh sangat terlihat besar." ujar Putra sambil menempelkan telinganya pada perut Mawar.
"Jangan berlebihan, memang harusnya seperti ini. Aku merasa sehat kok." Mawar menekuk bibirnya sehingga wajahnya terlihat sangat lucu.
"Baiklah. Kau yang paling tahu kondisi tubuhmu. Tapi aku rasa anakku sangat besar nanti soalnya perutmu sebesar ini." kekeh Putra.
"Cih kau pikir hanya ada bayi di dalam sini."
"Memangnya harus ada apa lagi di dalam selain anakku?" tanya Putra bingung.
"Ada....." belum sempat Mawar menjelaskan.
__ADS_1
Tiba-tiba Mawar meringis pelan dan membuat Putra telonjak kaget dengan wajah waspada dan khawatir.
"Kau tidak apa-apa? Ya Tuhan, kita harus ke rumah sakit sekarang." suara Putra terdengar panik.
Sebenarnya sejak kemarin Mawar sudah sering merasakan mulas dan kontraksi ringan. Tapi karena mulasnya hanya sebentar dan menghilang setelah berbaring, dia belum mau berangkat ke rumah sakit. Tapi kali ini Mawar meringis lebih lama dan diam di tempat dia berdiri tanpa bisa bergerak selangkah pun.
"Putra sakit." tangan Mawar menempel erat di perutnya.
Putra yang selalu saja panik jika melihat Mawar kesakitan, semakin pucat. Berfikir keras apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia belum pernah punya anak dan benar-benar tidak berpengalaman sehingga sekecil apa pun keluhan Mawar akan membuatnya panik luar biasa.
"Oh Tuhan. Aku harus bagaimana? Sayang, katakan padaku apa yang harus aku lakukan? Kau yg merasakannya... Oohh iya aku akan memanggil Yuyun saja. Kau tunggu sebentar di sini." Putra segera berjalan ke dalam rumah, namun baru beberapa langkah dia berbalik lagi seperti orang linglung.
"Sayang, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini!"
"Putra cepat.. Ini sakit, aku tidak kuat." Mawar semakin menunduk.
Putra langsung menangkap tubuh Mawar dan membopongnya ke dalam rumah. Yuyun yang tengah duduk menonton televisi langsung berdiri mendekati mereka.
"Apa itu kutu uban?" tanya Putra.
"Astagaa Putra, makanya jangan hanya tahu buat saja. Belajar soal kehamilan, itu air KE-TU-BAN tempat bayimu tinggal selama ini. Ayo cepat kita ke rumah sakit." gerutu Yuyun kesal sambil berjalan keluar rumah Putra hanya mampu diem dan mengikuti.
Yuyun kembali masuk ke rumah dan berlari ke kamar Mawar untuk mengambil tas besar berisi keperluan persalinan lalu bergegas menyusul Putra dan Mawar yang sudah berada dalam mobil. Wajah Mawar memucat menahan rasa mulas di perutnya. Namun wajah Putra terlihat lebih pucat lagi. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil sesekali menggerutu saat harus berhenti karena lampu merah. Di bangku belakang Yuyun juga tidak berhenti komat kamit, entah doa apa saja yang dia lantunkan. Tidak ada yang tahu, yang pasti mereka sama-sama panik karena sama-sama belum pernah menghadapi proses persalinan.
Tidak lama mereka sampai di rumah sakit. Setengah berlari Putra membopong Mawar ke pintu UGD, di sana Putra langsung membaringkan Mawar di brankar dan ikut mendorongnya ke ruang persalinan. Mawar terus menggenggam tangan Putra dengan erat, Putra juga tidak ingin jauh dari istrinya. Dia butuh dekat dengan istrinya hanya sekedar sebagai peringan kecemasannya dan untuk Mawar dia butuh Putra untuk segala yang akan terjadi nanti.
Salah satu perawat mencoba mengeluarkan Putra dari ruangan itu, namun Putra bersikeras tetap ingin menemani Mawar. Akhirnya perawat itu mengalah dan membiarkan Putra berdiri di sisi kepala Mawar sambil terus menggenggam tangan istrinya. Tak lama perawat senior yang tampak sudah berumur menyingkapkan gaun Mawar dan melepaskan pakaian dalamnya yang sudah basah kuyup. Sementara perawat lain dan dokter kandungan terlihat mensterilkan tangannya yang terbungkus sarung tangan karet. Dengan ngeri Putra melihat sekelilingnya banyak peralatan-peralatan tajam yang tergeletak di atas troli besi. Putra terlonjak kaget mendengar Mawar tiba-tiba menjerit hingga punggungnya terangkat dari ranjang bersalin. Tangan Mawar juga meremas tangan Putra dengan kuat hingga kuku tangan Putra membiru.
__ADS_1
Perawat mulai membasuh alkohol ke tubuh bagian bawah Mawar hingga pahanya,
"Ibu sudah lengkap ya, ibu harus mengejan lebih kuat lagi, bayi ibu sudah hampir keluar. Tarik nafas yang dalam dan cobalah mendorong lebih kuat." dokter mulai menginstruksikan pada Mawar yang sudah bersimpuh keringat.
Putra berusaha menahan kedua lututnya yang gemetaran hebat saat melihat tubuh bagian bawah Mawar. Dia bahkan nyaris pingsan melihat itu semua.
Tuhan yang maha penyayang. Tolong lindungi istriku....
Bagian bawah Mawar yang nampak menjadi candunya, kali ini terlihat begitu berbeda. Bagian itu seperti meradang, memerah, dan sangat bengkak. Entah lah Putra pun sulit untuk menamainya apa. Tak pernah sekali pun terbayangkan oleh Putra akan terjadi seperti itu, cairan berwarna merah hitam pekat tidak lama keluar dari sana. Jangan ditanya lagi wajah Putra sepucat apa.
"Putra..... " Mawar menjerit lagi sambil terus mengejan dengan tenaga yang lebih kuat lagi.
Tubuh Putra lebih tegang lagi ketika melihat lebih banyak darah yang keluar dari bawah sana dan disusul kepala mungil menyembul menghadap ke bawah.
"Tahan pinggangnya ya bu, agar robekan nya tidak melebar." Dokter kembali memperingatkan Mawar.
Robekan? Ya Tuhan.. Kumohon berikan saja rasa sakit itu kepadaku. Aku tidak tega melihat tubuh istriku yang kecil itu merasakan sakit.
°°°°
Mohon maaf jika banyak typo atau banyak yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. maklum author belum pernah melihat seseorang melahirkan, mau nonton di sosial media baru beberapa detik sudah ngilu sendiri.
Sungguh perjuangan seorang ibu tidak ada tandingannya.. Saya bangga terhadap kaum hawa terlebih yang sudah menjadi seorang ibu. sungguh besar jasanya.. Ibu saya sayang kamu
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
__ADS_1
°Jangan lupa Rate dan Like Guys
°Terimakasih semua.