
Mawar malu dengan jalan pikirannya, sepertinya dia harus banyak kegiatan agar pikirannya tidak kemana mana. Mawar memutuskan mulai besok dia akan menyibukkan diri, entah dengan bekerja atau dengan hal lainnya, yang jelas tidak hanya melamunkan putra.
Sementara putra harus berjuang keras untuk tidak teriak, Yes! Yes! Yes! Ketika mawar menyetujui idenya.
"Kuharap nanti kau tidak akan ragu."
"Kenapa harus ragu? Kita sudah berteman cukup lama, aku percaya padamu," jawab mawar.
Tibanya dihotel tersebut, putra mencari tempat parkir, tamu terlihat memadati hotel.
"Siap nyonya putra nugroho?" goda putra sambil menyodorkan lengannya pada mawar.
Sambil tersenyum mawar melingkarkan lengannya ke lengan putra. Mereka tampak begitu serasi. Dari kejauhan pak sigit datang menghampiri mereka, mata pak sigit berkaca-kaca melihat mawar dari atas sampai bawah.
"Lihatlah sayang, kau menjelma menjadi wanita dewasa yang angun dan cantik, siapa yang menyangka dulu kau gadis kecil yang pucat dan kurus. Kau mirip sekali dengan ibumu nak, aku selalu menyanyangimu, seperti anakku sendiri. Sering-seringlah berkunjung agar kau tidak kesepian." ujar pak sigit.
"Terimakasih om, tapi aku tidak secantik itu." jawab mawar malu.
"Selamat datang putra, terimakasih kamu selalu menjaga mawar." lanjut pak sigit sambil menjabat tangan dengan putra.
"Saya tidak melakukan apa-apa pak," jawab putra merendah.
Padahal siapa yang mengenal mawar pasti tau, sudah banyak sekali perubahan yang terjadi pada mawar sejak menikah dengan putra. Putralah yang telah mengembalikan cahaya hidup mawar. Dari kisah kelam berubah setitik cahaya kebahagiaan.
"Apapun yang kau katakan, aku tetap bangga padamu nak, temuilah putriku dan suaminya mereka sangat ingin bertemu dengan kalian." ujar pak sigit.
Mawar dan putra mengucapkan terimakasih dan melangkah ke pelaminan pengantin.
Dekorasi ruang pesta sangat indah, bunga mawar merah mudah mendominasi penjuru ruangan, alunan musik lembut mengiringi para tamu yang semakin ramai berdatangan. Sebagian tamu mencicipi makanan atau sekedar bercakap-cakap dengan teman yang kebetulan bertemu di sana.
Mawar sedang berdiri di salah satu stand makanan ketika mendengar seorang wanita menyebut namanya dari arah belakang. Ketika mawar membalikkan badannya, wanita itupun tepat berada di depannya.
"Lihat siapa ini, kau seperti katak yang ingin menjelma menjadi seorang putri. Sayang sekali topeng yang kau kenakan tidak bisa menutup rupa katak yang sudah melekat sejak belasan tahun lalu." kata wanita itu sambil menyunggingkan senyum sinis untuk menghina mawar.
Putra datang tepat ketika mawar terdiam, dia tidak mampu berkata sepata kata pun.
"Ini ice krim coklatnya," ujar putra sambil menyodorkan mangku ice krimnya.
Mawar masi diam terpaku.
"Hey ada apa?" tanya putra lagi melihat tidak ada respon mawar.
Karena putra berjalan sambil menunduk memperhatikan mangkuk es krimnya, dia tidak melihat keberadaan wanita di depan mawar. Sesudah menaruh mangkuk es krim di meja dan mengangkat kepalanya, baru lah dia sadar.
__ADS_1
"Susan?" ujar putra kaget.
"Hai putra, baju yang bagus, apa istrimu yang kaya ini yang membelikannya untukmu? Kau terlihat luar biasa. Mau kah kamu menemaniku? Suamiku tidak bisa datang karena harus ke luar negeri mengurus bisnisnya. Apakah kita bisa bersenang-senang sedikit?" goda susan sambil memperlihatkan dada montoknya tidak lupa tatapan genitnya.
Susan tidak menyangka putra terlihat begitu tampan dan gagah. Sifat penggoda nya muncul seketika. Susan memang tidak malu menunjukkan kegenitannya pada pria terlebih pria kaya, dia tidak perduli selama dia senang. Dan kini dia mengincar putra kembali, bukan karna cinta atau cemburu tapi hanya untuk cumbuan sesaat.
Merah padam wajah mawar melihat susan menggoda putra, bagaimana mungkin seorang wanita terhormat berani menggoda pria beristri di depan istrinya pula. Namun untuk marah pun mawar tak mampu, dia mengganggap dirinya begitu rendah di depan susan, menurutnya susan tau masa lalunya.
"Ajakanmu memang menarik susan, tapi sayang, aku tidak tertarik dengan wanita penggoda yang tidak sebanding dengan istriku yang cantik. Aku khawatir kalau aku menemanimu, istriku akan segera dikerubuti pria yang ada di sini. Aku akan sangat cemburu kalau sampai itu terjadi." kata putra sambil memeluk pinggang mawar, lalu tatapannya beralih ke mawar.
"Apa kau lelah? Kau ingin apa lagi?" tanya putra.
"Aku tidak ingin apapun, kau benar aku lelah," jawab mawar sambil menaruh kepalanya didada putra.
Dia memang lelah, tapi bukan karena pestanya tapi karena sindiran susan.
"Wow mesra sekali, berapa wanita ini membayarmu, aku kenal kau putra. Tidak mungkin kau mau dengan wanita gila ini dan tidak berpendidikan." sindir susan lagi.
"Diam susan," bentak putra.
"Ckckckc.. Kau mencoba melindunginya? Rupanya kau dibayar mahal ya. Tapi tetap saja dia mantan pasien rumah sakit jiwa, apa kau tidak takut dia kambuh lagi?" kata susan dengan expresi wajah dibuat seolah takut dan jijik menatap mawar.
Mawar menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya seperti dihantam begitu keras hingga terasa sesak.
"Aku memperingatimu susan,...." ucapan putra di potong susan
"Kau boleh mengatakan apa pun dengan mulut kotormu." maki putra sambil menggenggam tangan mawar yang dingin.
"Kenyataannya adalah, mawar tidak perlu membayarku sepersen pun untuk menikahinya. Karena satu, hanya pria bodoh yang tidak mau menikahi wanita yang kecantikannya nyaris sempurna karena bukan hanya cantik wajahnya tapi hatinya pun cantik. Tidak seperti kau, wanita cantik tapi berlidah tajam dan hati penuh kebusukan. Kedua, mawar perempuan paling berpendidikan yang pernah aku kenal, karena dia tidak suka mengoda suami orang. Ketiga, aku mencintai istriku dan tidak akan menukarnya dengan apapun. Apalagi denganmu. Kau tahu kenapa? Karena dia ribuan kali lebih baik dari pada kau. Dia sangat berharga dan tidak ternilai dengan harta. Jadi sekarang dengarkan aku baik-baik, jangan berani menyakiti istriku. Karena aku sudah bersumpah akan melindungi dirinya bahkan dengan nyawaku sendiri." kata putra lantang dan tegas.
Terdengar suara tepukan tangan dari orang-orang sekitar mereka yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran tersebut. Beberapa orang memandang kagum pada putra dan sebagian memandang jijik pada susan. Sementara susan sendiri ternganga, sama sekali tidak menduga reaksi putra akan begitu gigih melindungi mawar.
Mawar pun terkesima dengan ucapan putra yang begitu lantang.
"Aku sangat lelah, bisa kah kita pulang saja, sayang?" bisik mawar lirih.
"Tentu saja, apapun untukmu sayang. Ayo!" ajak putra dengan menarik tangan mawar lembut.
°°°°
Putra mengemudikan mobil tanpa tujuan, karena pikirannya terbagi antara kepadatan jalanan dan wajah muram mawar. Sejak keluar dari pesta itu tidak ada pembicaraan antara mereka. Putra yang mulai lelah dengan sikap diam mawar akhirnya menghentikan mobil di depan sebuah cafe.
"Kita minum dulu disini, aku haus dan lelah." ujar Putra.
__ADS_1
Bukan lelah fisik, namun lelah psikis. Dia tidak habis pikir untuk apa mawar memikirkan ucapan susan yang tidak benar. Dan sepertinya mawar tidak mengerti ucapan yang sudah dia katakan tadi di sana.
Mawar terpaksa turun dari mobil mengikuti putra. Mereka mengambil tempat duduk di sudut cafe. Seorang pelayan datang. Dan karena mawar hanya diam saja, putra berinisiatif memesan.
"Tolong kopi hitam untukku dan semangkuk es krim coklat untuk gadis di depan ku ini." ujar putra pada pelayan itu.
Dengan menarik nafas putra berkata.
"Kau marah padaku karena aku memeluk mu? Ku kira kita sudah sepakat." kata putra sambil menggenggam tangan mawar.
Mawar tertunduk lama dan akhirnya menjawab.
"Aku tidak marah padamu." jawabnya.
"Lalu? Pada susan?" tanya putra lagi.
"Untuk apa aku marah padanya, yang dia ucapkan benar." dengan mata berkaca-kaca mawar menjawab sambil memalingkan wajahnya.
Gadis bodoh! Apa kau tidak pernah memperhatikan ucapanku? Apa otakmu terbuat dari karet. Hingga kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan tadi dan semua yang aku lakukan untukmu.
Dengan frustasi putra menyisir rambutnya kebelakang.
"Mawar kau boleh marah untuk semua perkataan susan terhadapmu." kata putra.
"Tidak ada yang salah dari ucapan mantan istrimu itu. Dia tau apa yang terjadi dengan pernikahan kita. Aku memang membayarmu agar kau mau menikahi ku, dan aku juga pernah gila itu benar. Aku memang bodoh karena mengira tidak ada yang akan tau. Padahal orang lain pasti bisa menduganya. Tidak mungkin pria tampan dan terpelajar seperti dirimu mau dengan wanita gila bertahun-tahun." ujar mawar putus asa, sungguh dia merasa rendah diri.
Putra diam tidak mampu berkata-kata, entah dia harus apa untuk membuat gadis didepannya ini mengerti, bahwa dia benar-benar mencintainya.
"Apa aku harus menciumnya?" pikir putra frustasi.
°°°°°
Saya ganti stelan jas putra jadi seperti ini ya. Karna dasi merah ternyata kurang manly untuk putra yang keren
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa
Rate
Like
__ADS_1
dan jejak komentar
°Terimakasih