Tak Sekelam Mawar Hitam

Tak Sekelam Mawar Hitam
Mawar 31


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kini usia kandungan Mawar memasuki bulan ke Empat. Putra sangat takjub mendapati pinggang Mawar yang semakin padat dan gundukan mungil di perut istrinya. Hati Putra diliputi oleh rasa bahagia, tidak akan lama lagi dia akan menjadi ayah yang sempurna, dengan bayi yang lucu dan istri yang cantik. Hidupnya tidak pernah sebaik ini.


Hari ini langit mendung, sepertinya matahari malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Putra tidak berangkat ke perkebunan, karena Mawar bersikeras melarangnya pergi. Lagi pula tidak banyak yang dilakukan di sana jika hari gelap seperti ini. Dengan manja Mawar meringkuk di lekukan tubuh Putra sambil menonton televisi. Putra meluruskan kakinya yang tertekuk di sofa.


"Aku tidak tahu kalau wanita hamil bisa sangat manja." katanya sambil mengelus rambut Mawar.


"Kalau begitu sekarang kau sudah tahu kan?" Mawar melingkarkan lengan Putra semakin erat ke sekeliling tubuhnya.


"Kau kedinginan?" tanya Putra.


"Tidak. Seperti yang kau bilang tadi, aku hanya ingin bermanja-manja." senyum tersungging di wajah cantik Mawar ketika melihat alis Putra yang terangkat dengan mimik lucu.


"Bermanjalah sesukamu. Aku tidak yakin jika nanti anak kita lahir dia membiarkanmu seperti ini pada ayahnya."


"Hahhahahaaaa, seperti itu kah? Aku tidak sabar menikmati moment itu."


Tawa canda mereka tiba-tiba terhenti ketika telepon berdering. Yuyun yang dari tadi hanya tersenyum sendiri mendengar percakapan Putra dan Mawar, beranjak menuju telepon yang terletak di meja kecil sudut.


"Biar aku yang mengangkatnya, aku tidak mau kalian terganggu dengan kesenangan kalian."


Putra dan Mawar tersenyum dengan mata yang tetap mengarah ke televisi. Mereka sama sekali tidak menyimak pembicaraan Yuyun di telepon dan juga tidak melihat raut wajah Yuyun yang berubah cemas. Lima belas menit kemudian Yuyun kembali ke kursinya, kecemasan di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.


"Telepon dari siapa?" Putra mulai menegakkan tubuhnya saat melihat wajah Yuyun.


Yuyun menatap Putra lekat. "Aku tidak tahu harus bagaimana menyampaikan pada kalian. In...ini sangat mengerikan." Yuyun berkali-kali menelan ludahnya susah payah.


Mawar juga ikut duduk dengan tegak melihat wajah serius dan tegang Yuyun.


"Ada apa, Yun? Kau terlihat aneh."


"Itu......tadi telepon dari kantor polisi." Yuyun menarik nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan.


"Mereka mengabarkan bahwa Roy melarikan diri." lanjutnya

__ADS_1


"Tidak!" teriak Mawar, bayangan kekerasan yang dia alami akibat perbuatan Roy kembali berputar-putar dalam kepalanya.


Melihat wajah Mawar yang berubah pucat hanya dalam hitungan sepersekian detik setelah mendengar berita buruk itu. Putra langsung merangkul bahu Mawar.


"Ceritakan sebenarnya apa yang terjadi." ucapnya pada Yuyun.


"Pengacara Roy merekomendasikan pemindahannya ke LP yang lebih bagus, namun di tengah perjalanan dia malah melarikan diri setelah memukul petugas yang mengawalnya. Petugas itu seketika pingsan sehingga dia bisa menyelinapkan diri keluar dan menghilang. Sampai saat ini tidak ada yang tahu keberadaannya. Polisi tadi menelepon kita untuk memperingati kita, karena ada kemungkinan Roy mendatangi kita lagi." jelas Yuyun. Dia menangkap kilatan rasa takut di mata Mawar.


Putra pun sama cemas dan takutnya. Bukan takut pada Roy, karena jika pria itu berani menampakkan batang hidungnya, dia akan menghajar pria itu atas semua yang pernah dilakukannya pada istrinya. Ketakutan Putra adalah jika pria itu kembali menyakiti Mawar ketika dia tidak berada di sisinya, terlebih Mawar sedang mengandung anaknya.


"Putra...." Mawar memanggil suaminya dengan lirih. Bahunya bergetar oleh rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya.


Putra meletakkan kedua tangannya pada bahu Mawar dan menatap maniak mata Mawar dalam.


"Jangan takut, aku di sini untukmu. Mulai detik ini aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Tidak akan pernah, kau dengar?"


Aku tidak akan membiarkan pria itu menyakitimu lagi.


"Putra....kau tidak tau betapa takutnya aku saat ini." Mawar terisak ketika Putra meraihnya dan memeluknya erat.


Putra mengerti, sangat mengerti. Dia tahu apa yang ada di dalam hati Mawar.


"Bisakah kau menghubungi Om Bambang agar dia bisa pulang secepatnya? Aku harus bicara dengannya." pinta Putra dengan nada tegas.


"Iya. Aku akan menghubungi Mas Bambang sekarang." Yuyun tidak mau membuang-buang waktu lagi, dengan cepat dia meraih telepon dan menelepon nomer ponsel Bambang yang sudah dihapalnya di luar kepala.


"Cepat pulang mas." sambar Yuyun cepat ketika sambungan telepon terhubung.


"Tenang dulu, kau tiba-tiba telepon aku menyuruh aku pulang. Ada apa?"


"Roy...roy kabur mas."


"Apa?"

__ADS_1


Tut tut tut


Tidak sampai setengah jam kemudian Bambang sudah tiba di rumah dengan wajah kalut.


"Polisi bodoh itu, aku akan memukulnya lebih keras dari yang Roy lakukan jika aku tahu yang mana orangnya!" Bambang berdiri di tengah ruang keluarga sambil menatap Mawar lekat.


"Cih! Kau pikir kau jagoan ya." ejek Yuyun dengan bibir yang dicibirkan.


Dalam situasi seperti ini bisa-bisanya suaminya itu memikirkan orang lain bukannya memikirkan Mawar yang masih diliputi perasaan takut.


"Apakah kau punya ide? Ide yang bisa mencegah baj*ng*n itu datang ke sini." tanya Bambang pada Putra.


"Aku tidak bisa mencegah pria itu untuk tidak datang ke sini, itu di luar kuasaku. Tapi aku bisa mencegahnya untuk mendekati Mawar." Putra menjawab dengan tegas sementara Mawar semakin rapat ke tubuh suaminya.


"Bagaimana caranya?" desak Yuyun tidak sabar. Jika ada cara untuk menjauhkan Roy dia pasti akan lakukan, atau setidaknya membantu.


"Mulai saat ini urusan perkebunan aku serahkan sepenuhnya pada Om. Lakukan seperti biasa, aku akan membantu dari jauh jika terjadi kendala atau apapun itu. Kita akan melakukannya sampai pihak kepolisian berhasil menangkap Roy. Kuharap kalian bisa mengerti alasanku bersikap seperti ini." tangan Putra meremas jemari Mawar lalu menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan berada di sisi Mawar, aku tidak mau mengambil resiko sekecil apa pun." lanjutnya


Bambang dan Yuyun saling berpandangan, sesaat kemudian mereka pun menganggukkan kepala mengerti. Mereka juga mempunyai keinginan yang sama dengan Putra. Keinginan untuk melindungi mawar tentunya. Selain Putra mereka berdua jugalah yang tentunya sulit untuk tidur nyenyak juga.


Jam demi jam berlalu dengan ketegangan, tidak ada gelak tawa terdengar, bahkan Bambang yang terkenal konyol seolah hilang kemampuan humornya. Yuyun pun terlihat tenang tidak seperti Yuyun yang biasanya meledak-ledak. Makan malam berjalan dengan hening, masing-masing sibuk dengan pikiran dan kekawatirannya. Hanya Putra yang sesekali berkomentar mengenai rasa menu atau sekedar menambahkan sayuran pada piring Mawar.


Prang.... Prang...


°°°


----Mohon dukungan nya ----


°Jangan lupa RATE dan LIKE nya


°Terimakasih°

__ADS_1


__ADS_2