
"Kau sakit apa?" tanya Putra.
Yuyun tersenyum miring. "Parah." jawab Yuyun singkat sambil duduk dikursi.
Sebelum berangkat tadi, dia memang meninggal memo kecil yang ditempelkan pada pintu kulkas. Berisi pesan dia dan Mawar ke rumah sakit.
Putra langsung menarik Mawar agar duduk, istrinya itu terlihat pucat dan lelah.
"Apa yang terjadi denganmu?" Putra menggengam tangan Mawar, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sama dengan Om Bambang.
Dengan wajah serius Yuyun kembali berucap dengan nada misterius.
"Ada sesuatu di dalam tumbuhnya."
"Jangan main-main! Apa maksudmu?" wajah Bambang terlihat semakin cemas. Dia duduk tepat di sebelah Yuyun sambil meremas tangannya.
Putra mendadak pucat. Sesuatu di tubuh Mawar! Apa itu sejenis tumor? Kangker? Dengan ngeri dia menatap wajah Mawar yang terlihat tenang. Tak terbayang jika Mawar yang bertubuh kecil harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani segala prosedur pemeriksaan kemoterapi yang menyakitkan itu.
Tuhan, jangan, jangan Mawar. Biar aku saja yang mengalaminya. Dia sudah banyak menderita sepanjang hidupnya. Jangan berikan penderitaan lagi padanya.
"Jujurlah padaku...." ucap Putra dengan pelan, jelas sekali bayangan Mawar yang terbaring lemah di ruang terapi telah memberi efek kesedihan yang berat pada Putra.
"Aku tidak apa-apa Putra," Mawar menatap Putra dengan lembut. Walaupun nyaris tidak bisa menahan rasa geli melihat reaksi Putra. Mawar bisa memahami kecemasan Putra. Jika dia berada dalam posisi Putra sekarang. Malah mungkin saja aku akan lebih bereaksi lebih parah dari pada pria ini.
Bambang sangat kesal,
"Kau selalu bilang tidak apa-apa, padahal jelas-jelas aku melihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
"Tentu saja ada sesuatu, sesuatu dalam tubuhnya" jawab Yuyun menekan kalimat terakhirnya.
"Berhenti berteka-teki Yun, cepat bilang gadis kecilku ini sakit apa? Separah apa?" bentak Bambang kesal dan cemas.
"Sayang, katakan kau kenapa?" tanya Putra dengan mata yang mulai berembun. Tak dapat dipungkiri hatinya mulai gelisah.
Apa yang terjadi Tuhan!
"Dia menyimpan anak Putra dalam perutnya" kalimat Yuyun pada akhirnya.
"Makanya dia terlihat pucat. Dan dia tidak makan dengan benar, tapi mulai sekarang aku akan memastikan dia akan mengkonsumsi makanan bergizi untuk bayinya." sambungnya.
Putra ternganga. "Kau..kau..."
"Iya! Aku hamil. Anak kita." Potong Mawar malu-malu. Putra langsung memeluknya
"Ya Tuhan. Syukurlah, kupikir kau menyembunyikan penyakit mematikan seperti kangker atau apalah itu." ucap Putra setelah melepaskan pelukannya.
"Ternyata kau baik-baik saja. Terimakasih Tuhan. Kehamilanmu adalah bonus dari semua kebahagiaanku bersamamu. Aku mencintaimu." tanpa malu Putra mencium bibir Mawar di depan Yuyun dan Bambang.
__ADS_1
"Cih, tidak tau tempat." Tegur Yuyun.
Bambang melotot pada Yuyun.
"Kau! Selalu saja punya ide jahil. Kau hampir membuatku mati ketakutan." setalah sedikit memarahi istrinya. Dia beralih menatap Mawar dan Putra yang kini telah tersenyum bahagia.
"Yah, walaupun harus menunggu setahun, tapi aku ikut bahagia. Akhirnya kau hamil, selamat sayang, gadis kecil kini berubah menjadi calon ibu." Bambang memeluk Mawar.
"Terimakasih. Kau juga calon kakek bukan?" Mawar tersenyum jahil
"Ais....ternyata aku sudah tua, tidak bisa kah dia nanti memanggilku kakak saja." canda Om Bambang.
"Jangan bercanda, tidak ada kakak yang beruban." sambar Yuyun cepat
Mereka semua tertawa.
"Aku tadi membuat cake yang lezat. Bagaimana kita memakan cake itu sebagai tanda merayakan kehamilan Mawar. Kalian tunggu di sini sebentar aku akan membuat minuman dan membawa cake nya ke sini."
"Kapan kau akan kontrol lagi."
"Bulan depan, kenapa?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku ingin mengantarmu, aku ingin melihat bayi kita dan ada yang ingin aku tanyakan pada dokter."
"Kau ingin bertanya apa?"
"Ais kau takkan mengerti, nanti aku tanyakan sendiri."
Bambang hanya tersenyum melihat kebahagiaan Mawar.
Terimakasih Tuhan sudah menghadirkan Putra di tengah-tengah kami.
°°°°
Kehamilannya membuat Mawar mendapatkan perhatian ekstra dari orang-orang di sekitarnya, apalagi Putra yang selalu khawatir pada setiap gerakan Mawar. Pria itu hampir selalu mengikuti Mawar jika dia sedang berada di rumah. Sebelum berangkat ke perkebunan dengan Om Bambang, dia berpesan berkali-kali pada Yuyun agar mengawasi istrinya. Mawar sering kali kesel dengan sikap Putra yang berlebihan, hingga terkadang dia sengaja bersembunyi agar Putra tidak mengikutinya.
Hari ini Putra benar-benar panik ketika mendapati Mawar menghilang dari rumah untuk kesekian kalinya, dan dia mendapati istrinya sedang duduk manis di ayunan kecil yang terletak di taman belakang. Ayunan yang masih kokoh itu dulu mainan Mawar semasa dia sekolah dasar. Dengan gemas Putra membopong Mawar dan menurunkannya di ranjang.
"Kau akan tidur siang, dan aku akan menjagamu." Putra memiringkan tubuhnya menghadap Mawar.
"Aku hanya mencari udara segar, dan main ayunan bisa menjadi olahraga ringan untukku." Mawar berusaha menjelaskan pada Putra yang terlihat berwajah masam.
"Kau bisa mencari udara segar di dalam rumah dan bermain ayunan bukanlah sebuah olahraga." jawab Putra dengan tegas. Dari nada suaranya terlihat kalau Putra tidak ingin dibantah.
"Tapi sayang, aku harus gerak dan berolahraga itu baik untuk kesehatanku." Mawar yang masih kesal akhirnya menjawab dengan sekenanya saja.
"Oh... Kau ingin olahraga? Baiklah. Aku akan mengajarkanmu bagaimana yang namanya olahraga yang baik dan benar."
__ADS_1
Ujar Putra sambil menggeser tubuhnya ke atas tubuh Mawar dan mendaratkan ciuman lembut dan perlahan.
"Sekarang aku tahu... Olahraga favoritmu." desah Mawar di antara sensasi yang di berikan suaminya.
Putra tersenyum.
"Setidaknya olahraga denganku tidak akan berisiko pada bayi kita, aku akan selalu berhati-hati untukmu."
"Aaaahh...hmmm... Yaaah.. Lakukan. Aku milikmu."
Putra terus menciumi istrinya dengan lembut. Puas pada bibir istrinya pindah ke leher putih bersih Mawar.
"Eehhmmm..."
"Sebut namaku sayang." ujar Putra.
Cobra yang sudah berdiri sempurna mencari sarangnya. Putra bergerak pelan di iringi suara mereka berdua yang mendesah merdu nan manja. Tidak henti-hentinya Mawar menyebut nama pria yang telah membuat hidupnya penuh warna.
"Aaarrrrkkkhhhh." Putra mengerang panjang saat dia sudah sampai pada pelepasan pertamanya. Dia mencium kening, mata, hidung, dan terakhir bibir Mawar.
"Terimakasih sayang, Aku mencintaimu." bergeser ke sisi kanan Mawar sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Mawar yang juga ngos-ngosan hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum manis.
"Sayang, kayaknya kita harus bikin jadwal deh."
"Jadwal apa?"
"Jadwal olahraga kita." jawab Mawar malu.
"Tidak perlu seperti itu. Anak aku senang kok di tengokin ayahnya." ucap Putra sambil mengelus perut Mawar.
"Tapi...."
"Sssttt.... Sudah yang penting aku mainnya lembut dan pelan."
"Terserahlah. Percuma ngomong sama kamu." kesal Mawar sambil beranjak dari tidurnya."
"Mau kemana?"
"Mandi."
Putra pun bangkit ikut masuk ke kamar mandi menyusul istrinya dan kalian taulah cobra kembali mengeluarkan bisanya di dalam sana. (Skip)
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
__ADS_1
Jangan lupa RATE dan LIKE ya guys
°TERIMAKASIH°