
Putra menelan ludahnya susah payah, dia sudah sangat lelah dan kesakitan, saat ini dia sangat ingin memeluk istrinya. Untuk melepaskan segala ketakutannya yang nyaris kehilangan istrinya, rasa Cinta yang sungguh besar pada gadis itu. Ibu dari anak anak-anaknya.
"Putra." panggil Mawar.
Putra masih diam di tempatnya, bingung harus melakukan apa. Tak disangka-sangka Mawar menarik tangan Putra dan memeluk Putra erat. Mawar terisak tanpa mampu berkata-kata lagi. Sebelah lengan Putra naik merangkul Mawar lebih erat lagi ke dadanya.
"Semuanya sudah selesai sayang." ujar Putra sambil membelai kepala Mawar.
"Aku menepati janjiku kan? Aku datang sayang. Sudah jangan menangis lagi. Tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu. Ada aku di sampingmu. Kebahagiaan kita sudah menanti."
Dari kejauhan terdengar sirene mobil polisi mendekati pondok kayu yang sudah berantakan. Para petugas bersiap mengepung, namun mereka tidak melihat apa-apa, hanya ada mayat Roy yang masih tertancap dan sepasang suami istri yang saling berpelukan. Seorang petugas polisi menawarkan diri untuk mengantar mereka ke rumah sakit dengan mobil Putra. Tawaran itu disambut baik oleh Putra dan Mawar karena mereka tidak mau lebih lama lagi berada di tempat itu.
Mawar tidak terluka sedikit pun, tapi kondisi Putra lumayan parah. Dia mendapatkan beberapa jahitan dan gips tebal membalut lengannya yang patah. Dokter menganjurkan agar Putra dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari, namun pria itu menolaknya mentah-mentah. Setelah apa yang mereka alami, dia hanya ingin pulang bersama istrinya. Lagi pula dia hanya sedikit luka bukan sakit yang parah. Sedangkan Mawar tidak bisa berbuat apa-apa karena Putra ngotot ingin pulang. Akhirnya dokter mengizinkan mereka pulang, yang pastinya dengan beberapa pesan yang harus Putra lakukan belum lagi setumpuk obat-obatan.
Urusan Roy dan pihak kepolisian semua Om Bambang yang urus, tidak ada tindak pidana untuk Putra selain karena tidak ada saksi mata di sana juga tujuan Putra hanya ingin meyelamatkan istrinya. Mungkin itu sebuah tindakan ketidaksengajaa, lagi pula Roy memang seorang buronan dengan beberapa riwayat kejahatan. Kasus itu pun sudah di tutup.
°°°°
Sampai di rumah mereka langsung di sambut Yuyun.
"Astaga sayang, kau tidak apa-apa?" isak Yuyun sambil memeluk Mawar. Dia sangat menyesal, bukannya dia tidak sadar. Dia sangat sadar karena keteledoran dirinya Mawar sampai di bawah pergi oleh Roy.
Mawar ikut menangis, kejadian beberapa waktu lalu itu sangat mengerikan, jika Putra tidak datang tepat waktu.. Entahlah dia tidak berani membayangkannya.
"Tanganmu kenapa?" tanya Yuyun setelah melepaskan pelukannya pada Mawar. Dia sungguh sangat menyesal. "Putra maafkan aku." lanjutnya.
"Tidak apa-apa, semua sudah selesai. Mawar juga tidak apa-apa." jawabnya sambil tersenyum pada istri cantiknya.
"Kami ke kamar dulu."
__ADS_1
"Ya. Istirahatlah."
°°°°
Nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan Putra di rumah selain berbaring di ranjang, tapi yang membuatnya tertekan adalah perlakuan Mawar dan Yuyun yang menjaganya seperti orang penyakitan saja. Hari ini Mawar memarahinya saat memergoki Putra tengah berjalan di halaman belakang dengan sepatu kerjanya.
"Kau tidak akan bisa pergi ke perkebunan dengan gips tebal itu." tegur Mawar dengan mata yang nyaris melompat keluar.
Putra yang sedang asik nyaris terjatuh karena terkejut mendengar suara Mawar. Dia tidak menyangka istrinya itu akan memergokinya. Padahal dia sudah sangat hati-hati.
"Yang benar saja, kau seperti bayanganku saja, aku hanya patah lengan bukan lumpuh. Kau tidak bisa memperlakukan seperti itu. Cih sangat berlebihan." Putra menjawab dengan wajah cemberut.
"Terserah aku. Ayo kita masuk sekarang!" Mawar seperti tidak terpengaruh sedikit pun oleh protes Putra. Dengan cepat Mawar membawa Putra memasuki rumah.
"Aku hanya ingin ke perkebunan sebentar. Aku janji tidak akan lama." mohon Putra. "Ayolah sayang, jangan pelit. Hey anak ayah, ayo bantu ayah membujuk bundamu." bujuk Putra sambil mengelus perut Mawar.
Mawar hanya diam, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Aku sedang tidak ingin ke perkebunan, apa lagi dengan orang yang belum pulih. Jangan berdebat lagi, kau akan beristirahat di kamar saja dan aku akan mengawasimu. Lagi pula kita bisa bermain monopoli, ular tangga atau apa saja yang kau inginkan. Tapi tidak untuk keluar rumah. Jahitanmu akan segera pulih jika kau tidak banyak bergerak. Aku tidak ingin kau terluka lagi." jawab Mawar sendu.
Putra tertegun melihat betapa Mawar sangat mencemaskan dirinya. Dia tidak pernah tau bahwa luka-lukanya juga menimbulkan trauma untuk istrinya. Dari luar dia baik-baik saja, tapi siapa sangka dia juga terluka dengan peristiwa yang membuat Putra terluka.
"Aku minta maaf sayang." ujar Putra dengan serak.
Mawar hanya mengangguk.
"Aku telah membuatmu sedih dengan keadaanku sekarang. Seharusnya aku bisa lebih berhati-hati." Putra duduk di sofa dengan kepala menunduk.
Mawar mendekati Putra, tangannya meraih jemari suaminya dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Aku akui saat kejadian itu aku begitu takut Roy akan menyakitiku, namun ketakutan terbesarku adalah pada saat kalian berkelahi. Aku tidak bisa bernafas menyaksikan kau dipukul sekeras itu dengan balok. Saat itu seperti ada dorongan kuat untuk ikut membunuh Roy. Kau mungkin tidak akan mengerti Putra... Aku sangat takut kehilangan dirimu.".
Mawar tidak tau, Putra sangat mengerti akan hal itu. Karena dia juga merasakan apa yang istrinya itu rasakan. Ada dorongan kuat saat mendengar Roy ingin membunuh Mawar. Jika kita menyadari akan kehilangan sesuatu yang berharga, pasti secara naluriah kita akan terdorong untuk melakukan apa pun demi mempertahankannya.
"Tidak apa-apa sayang, Apa yang kamu rasakan adalah hal yang wajar. Aku juga merasakannya. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan." Putra mengusap bahu Mawar berusaha untuk menenenangkannya.
Mawar menatap mata Putra lekat-lekat. Untuk pertama kali dalam hidup Mawar mengerti bahwa mencintai terkadang bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dengan perlahan Mawar berhambur ke dalam dada bidang Putra.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi." gumamnya pelan.
"Kau tidak akan kehilangan siapa pun.."
Mawar melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Putra.
"Sayang, aku sudah patuh padamu, dan aku juga sudah menyenangkan hatimu. Kurasa akan adil jikau melakukan sesuatu yang menyenangkan hatiku." ucap Putra mengambang di antara kedipan jahil.
Dengan bingung Mawar menatap Putra intens.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah. ..." Putra tidak meneruskan ucapannya karena tangannya sudah menarik tangan Mawar ke ranjang mereka.
Mawar tersenyum mengetahui maksud suaminya dan dia tidak akan keberatan untuk itu. Sama sekali tidak!
°°°°
----Mohon dukungan nya ----
°Jangan lupa Rate dan Like Guys
__ADS_1
°Terimakasih semua.